JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Pelajaran Berharga Koordinator FKMCJ (Forum Komunikasi Masyarakat Cinta Jember) Jumantoro sepulang dari mengikuti aksi unjuk rasa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di DPR-RI, Senayan Jakarta, pada Kamis (27/08/2026).
Aksi AMPB membuahkan hasil, dengan pernyataan komitmen dari DPR-RI, untuk menyelesaikan RUU Perampasan Asset Koruptor, yang akan dirampungkan pada 15 Desember 2026.
Kekompakan Rakyat Pati Menginspirasi:
Jumantoro mengaku kagum melihat solidaritas masyarakat Pati. Perbedaan latar belakang dan status sosial tak menyurutkan mereka untuk bahu-membahu memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Ini bukti nyata bahwa persatuan lebih kuat daripada sekat-sekat sosial,” ujarnya, pada Jum’at (28/08/2026).
Menurut Jumantoro, aksi yang konsisten terus digaungkan oleh Rakyat, akan membuahkan hasil, yang didengar Pemerintah.
“Perjuangan masyarakat Pati membuktikan bahwa tekanan publik yang berkelanjutan mampu memaksa pemerintah merespons tuntutan,” ujarnya.
Perjuangan rakyat Pati, menurut Jumantoro menjadi pengingat dan pembelajaran berharga, bagi semua pihak, baik rakyat maupun pemangku kebijakan.
“Bahwa suara rakyat tak boleh diabaikan,” tandasnya.
Jember Perlu Meneladani Pati
Aktivis anti Korupsi ini menilai masyarakat Jember patut meniru keteguhan warga Pati. Ia mengingatkan, persoalan korupsi dan kesewenang-wenangan penguasa serta pengusaha bukanlah isu asing.
“Dampaknya langsung terasa pada pelayanan publik, pembangunan, lapangan kerja, dan ekonomi warga sehari-hari,” ujarnya.
Rakyat Tak Peduli Siapa Koordinatornya
Jumantoro menyoroti bahwa di Pati, masyarakat tak terlalu mempersoalkan status atau latar belakang pemimpin aksi. Yang terpenting, kata dia, adalah keberanian untuk berada di garda depan dan konsisten menyuarakan kepentingan rakyat.
“Selama itu terpenuhi, rakyat akan memberi dukungan penuh,” tegasnya.
Pengalaman Pahit Jumantoro Melawan Korupsi di Jember
Jumantoro juga membawa pengalaman perjuangannya di Jember sejak masa kepemimpinan Bupati Muhammad Fawait. Ia mengaku pernah melaporkan dugaan kasus korupsi, namun justru mendapat serangan balik dari pihak terlapor hingga berkali-kali harus memenuhi panggilan Polda Jawa Timur.
Dalam aksi menolak rencana utang daerah, Jumantoro mengaku sempat menghadapi upaya pihak tertentu yang ingin menjadikan gerakannya sebagai alat tawar-menawar.
Bahkan, ia pernah diminta bertemu dengan bupati. Namun, ia memilih tetap melanjutkan aksi penolakan utang bersama massa Laskar Jahannam.
Kesimpulan
Menyusul berbagai persoalan tata kelola pembangunan dan anggaran di Jember, masyarakat semestinya bisa belajar dari semangat persatuan rakyat Pati.
“Bukan dengan diam, bukan pula karena takut—tetapi dengan bersatu mengawasi dan melawan setiap kebijakan penguasa yang merugikan kepentingan rakyat,” pungkasnya. (#)

