BERITA JEMPOL SUARA RAKYAT
Beranda / SUARA RAKYAT / Di Balik Gemerlap Program Homecare Jember, Merisa Bertahan Bersama Becak Tua

Di Balik Gemerlap Program Homecare Jember, Merisa Bertahan Bersama Becak Tua

JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Dibalik gemerlap program layanan kesehatan Homecare, yang dicanangkan Bupati Jember Muhammad Fawait, tersimpan kisah pilu. Sebuah keluarga miskin, harus bertahan hidup, berjuang memerangi vonis penyakit seorang gadis belia.

Selimut merah tua membungkus tubuh gadis itu. Sebuah bantal usang ia rengkuh erat di pangkuan. Angin pagi menerpa pipinya, tapi ia hanya diam. Menahan dingin. Menahan sakit.

Namanya Merisa. Usianya baru menginjak 16 tahun. Siswi kelas X SMK Muhammadiyah 4 Jember itu kini lebih akrab dengan ruang tunggu rumah sakit ketimbang bangku sekolah.

Lahir di Jember, 14 April 2010, Merisa tinggal bersama kedua orang tuanya di Desa Ajung, Kecamatan Kalisat. Ia bungsu dari tiga bersaudara. Kakak-kakaknya telah berkeluarga dan tinggal terpisah.

Kini, hanya ibu dan ayahnya yang menjadi sandaran terakhir.

DPRD Jember Sorot Anggaran Banner Rp4,46 Miliar: “Terlalu Besar, Mending untuk Rakyat”

Di samping Merisa, duduk Janati (50). Kerudung putih bermotif bunga hitam membalut kepalanya, tapi tak mampu menyembunyikan raut letih di wajahnya.

Di belakang, Seniman—ayah kandung Merisa—duduk di kursi kemudi becak tua. Topi lusuh menempel di kepalanya. Setiap pekan, ia tak pernah absen mengantar putri bungsunya berobat ke RSD dr. Soebandi Jember.

Dokter telah memvonis Merisa mengidap gagal jantung kronis. Dua kali seminggu, ia wajib kontrol. Jika telat, nyawanya terancam.

Itu kata tim medis. Itu pula yang membuat Seniman dan Janati tak pernah berani mengabaikan jadwal.

Merisa tak banyak bicara. Hanya sesekali ia berkata lirih, “Saya ingin sembuh. Pengen sekolah lagi kayak teman-teman.”

Sejumlah Pasien Kecewa Layanan RS dr Soebandi Jember

Harapan sederhana itu kini menggantung di antara jadwal kontrol dan ongkos yang tak pernah cukup.

Untungnya, Seniman masih punya becak. Tua. Catnya mengelupas tak jelas warna. Namun ia memodifikasinya dengan mesin motor bekas agar tetap bisa mencari nafkah.

Setiap hari, ia mengayuh atau menjalankan mesin tua itu mencari penumpang. Penghasilannya tak menentu. Kadang cukup buat makan. Kadang ia pulang dengan kantong kosong dan perut lapar.

Tapi bagi Seniman, kesehatan Merisa adalah harga mati.

“Kalau perlu jatah makan dikurangi, ya kami kurangi. Yang penting anak bisa kontrol,” katanya, suaranya parau menahan beban.

Dua Kubu Massa Berseberangan, Berangkat dari Jamber Ke Jakarta, Jelang Aksi 27 Agustus 

Ia pun berbisik lirih, “Hanya berharap sama Allah, minggu ini bisa antar Merisa lagi ke rumah sakit. Untuk kesembuhannya. Itu saja.”

Tak ada petugas puskesmas yang datang. Tak ada ambulan desa yang menawarkan jemputan. Padahal, kata Seniman, tetangga dan pak RT tahu kondisi Merisa. Tapi mungkin mereka sibuk. Ia memaklumi.

“Kami ini warga miskin. Kami lebih besar malunya,” ucapnya, menunduk.

Mereka hanya bisa diam, menunggu, dan berdoa. Semoga ada keajaiban. Semoga ada tangan malaikat yang mengulurkan bantuan.

Dulu, sempat ada ambulan relawan gratis yang mengantar Merisa empat kali. Tapi itu hanya sebentar. Kini, mereka kembali berjuang sendirian.

“Kami tetap harus mikir, besok bagaimana cara ke rumah sakit lagi,” kata Seniman pasrah.

Soal program homecare, Seniman hanya menggeleng. Ia tak tahu, juga tak paham. Mobil-mobil merah muda yang digembar-gemborkan Bupati Fawait, yang disewa dengan uang APBD itu, tak pernah ia lihat mendekati rumahnya. Istilah homecare terasa asing di telinganya.

Maklum, ponsel yang ia genggam hanya untuk telepon, menunggu panggilan penumpang langganan. Internet? Pemberitaan? Ia tak pernah menjangkaunya.

“Saya tidak tahu, tidak paham, Pak,” katanya dengan logat Madura kental. “Tidak paham saya.”

Yang ia pahami hanya satu: anaknya butuh bantuan transportasi. Setiap kali kontrol.

“Kalau tidak bisa antar-jemput, setidaknya kami dibantu ongkos bensin. Itu harapan saya ke Gus Fawait. Itu saja,” katanya, lalu terdiam. Kalimatnya menggantung, seolah doa yang belum sempat sampai.

Merisa hanyalah satu dari ratusan warga miskin Jember yang bermimpi sembuh. Ia dan keluarganya berjuang dalam hening, di atas becak tua, di tengah jalanan berdebu.

Mereka tak menuntut gemerlap. Mereka hanya ingin sampai ke rumah sakit. Hidup. Dan kembali pulang. (#)

× Advertisement
× Advertisement