Novel Baswedan Fakta Lemahnya Penegakan Hukum

0
125

jempolindo.id – Mencari bukti lemahnya penegakan hukum di Indonesia sangat gampang, cukup mengingat kasus yang menimpa penyidik senior KPK Novel Baswedan. Mata kirinya rusak berat akibat siraman air keras. peristiwa itu terjadi pada tanggal 11 April 2017. Pelaku yang hingga kini masih gelap menunjukkan lemahnya penegakan hukum. Mafia hukum pun makin mendapat angin segar.

Atas lambannya penanganan kasusnya, Novel Baswedan telah ke Komnas HAM untuk turut memantau perkembangan penanganan kasusnya.

Aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW), Donal Fariz mengatakan pemerintah tak maksimal merawat demokrasi dan lemah dalam penegakan hukum.

Pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur dan penerbitan paket kebijakan ekonomi, Presiden Joko Widodo dinilai alpa terhadap upaya penegakan hukum dan demokrasi. Dari segi laju pembangunan, tercatat sejumlah proyek berhasil dirampungkan. Namun tidak untuk penegakan hukum.

Berdasarkan survei Poltracking Indonesia bulan lalu, tingkat kepuasan publik terhadap pembangunan Infrastruktur jalan dan jembatan serta pelayanan kesehatan yang terjangkau melebihi 50%. Perinciannya, tingkat kepuasan terhadap pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan 66,5%, sedang pelayanan kesehatan 61,2%.

Sementara dalam bidang penegakan hukum hanya berkisar 53,1%. Menurut Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda, hal tersebut mengindikasikan kepuasan publik cukup rendah karena masih di bawah 60%.

Pernyataan Donal bukan tanpa alasan, sebab berdasarkan catatan ICW, angka Corruption Perception Index (CPI) di Indonesia mengalami stagnasi.

“Angkanya tidak meningkat sejak dua tahun yang lalu,” katanya,
Lebih lanjut, terkuncinya elektabilitas presiden petahana yang hanya bertengger di angka 45%, jadi indikasi ada ketidakpuasan publik di beberapa sektor.

Pembangunan infrastruktur yang masif tak cukup jadi alat untuk mendongkrak keterpilihan Jokowi. Tak heran jika kemudian gerakan protes tumbuh subur, hoaks bernada miring pada pemerintah pun bertaburan di media sosial.

Realitas tersebut sangat disayangkan, apalagi menurut Donal, karakter masyarakat masa kini memang berbeda dengan zaman Orde Baru. Jika di era Soeharto, publik mudah tersanjung dengan pembangunan yang membabi buta, sekarang kebutuhan warga telah bergeser. Yang dibutuhkan justru penegakan supremasi hukum dan kesungguhan merawat demokrasi.

Untuk negara yang sudah puluhan tahun berada dalam iklim demokrasi dan menggelar pemilu berkali-kali, maka lemahnya hukum akan jadi rapor merah.(#)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini