Beranda blog

Ayo Kemah !!!

0

Jempol _ Adv. Beragam cara saat ini bisa dilakukan  agar lebih dekat bersama keluarga, misalnya  melalui kegiatan  menikmati alam bersama keluarga,  salah satunya adalah berkemah bersama keluarga.

” Keluarga adalah satu-satunya tempat kita belajar arti kebahagiaan dalam kebersamaan,melalui Komunitas Kemah Keluarga Indonesia region Jatim ini  benar- benar kita  temukan persahabatan dan kekeluargaan yang luar biasa,”  kata wakil ketua K3i Anto Yulianto ( om Anto )

Banyak aktivitas yang bisa dilakukan bersama keluarga untuk membangun kedekatan dan kekompakan sesama anggota keluarga misalnya dengan mendirikan tenda, memasak, dan masih banyak lagi.

Kedekatan ini harus senantiasa dibangun,  seiring dengan perkembangan  teknologi  sebut saja salah satunya adalah gadget yang tidak hanya membawa dampak positif tetapi dampak negatif dalam  interaksi sosial terhadap lingkungan sekitar.

Komunitas Keluarga Indonesia (K3I) region jawa timur melalui visi misinya berupaya untuk mempersatukan keluarga-keluarga pecinta alam untuk berbagi cerita, berbagi pengalaman melalui kegitan kemah bersama keluarga yang dilakukan secara berkala dua bulan sekali dihari sabtu dan minggu.

Banyak kegiatan seru dalam aktivitas kemah bersama dintaranya, ice breaking, fun games, lintas alam, storytelling, edukasi kesehatan dan pembinaan karakter anak.

Dalam komunitas ini memiliki panggilan yang unik yaitu om dan tante, tujuannya semata untuk lebih akrab, lebih kompak dan lebih dekat antar keluarga.

Keakraban dan kekompakan dikeluarga K3I ini tidak hanya pada om dan tante, tetapi juga terlihat pada anak-anak K3I.

Untuk itu om dan tante yang mencintai keluarga,  jangan ragu  bergabung dengan komunitas kemah keluarga Indonesia (K3I) region jatim yang saat ini sudah beranggotakan ratusan keluarga dari seluruh wilayah di Jawa Timur.

Bagi keluarga yang ingin merasakan sensasi berkemah bersama keluarga jangan lewatkan kegiatan KOPDAR #15 K3I region Jawa Timur pada tanggal 4-5 April 2020 yang bertempat di Tlogo land, Wonorejo, Lawang. KOPDAR #15  dikomandani oleh om Andi Priyo dengan mengusung tema ” Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Tema ini diambil karena kemah ini bertepatan dengan peringatan hari Kartini dan dengan meneladani semangat kartini dibidang pendidikan sebagai pondasi dalam membangun keluarga.

Harapannya melalui KOPDAR #15 ini akan muncul banyak keluarga yang melahirkan anak-anak yang kuat, tangguh dan  pantang menyerah seperti  bintang-bintang yang selalu bersinar di masa depan.  Informasi lebih lengkap KOPDAR 15 bisa dengan mudah didapatkan melalui Facebook Komunitas Kemah Keluarga Indonesia dan Instagram @k3iregionjatim.

So, jangan lupa segera daftarkan keluarga anda dan ajak teman dan saudara untuk ikut even KOPDAR #15 tanggal 4-5 April 2020 kemah bersama keluarga.  Salam K3I Jatim Pokok’e Kemah . (Ros -adv)

Tokoh (Alumni) HMI dan Gus Dur

0
Romario Utomo

Oleh: Romario Utomo *)

Ramai-ramai soal buku baru berjudul: Menjerat Gus Dur yang ditulis oleh Virdika Rizky Utama, yakni penulis muda berbakat yang memiliki minat mendalam terhadap kajian-kajian sejarah, dimana kemudian buku tersebut berhasil diterbitkan dan dipasarkan oleh NU Online. Buku ini mengungkapkan secara gamblang alias terang benderang tentang siapa-siapa saja yang mempunyai andil atau memiliki keterlibatan, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses penjatuhan atau pelengseran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selaku Presiden RI keempat. Yang mencengangkan adalah organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia, yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ternyata namanya disebut-sebut.

Mengapa HMI? Karena dijelaskan bahwa ada beberapa tokoh (alumni) himpunan ini yang dianggap berperan dalam menjatuhkan atau melengserkan sang Presiden, sebut saja misalnya ada nama Akbar Tandjung yang merupakan aktivis senior HMI maupun Fuad Bawazier yang pada waktu itu adalah Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Ini belum yang lainnya. Penulis buku bahkan tak segan-segan menyebut: “Mereka merancang itu, bukan cuma di elite politik, maksudnya bukan cuma di DPR, tapi juga bagaimana di mahasiswa, karena mereka sebut saja sebenarnya dokumen ini adalah dokumen Golkar dan HMI Connection,” (Sumber: SerikatNews.Com dengan Judul HMI Connection yang Menjerat Gus Dur).

Terlepas dari itu semua, diluar tema “jerat menjerat” yang tadi sempat disinggung sebentar dimuka, sebenarnya hubungan antara tokoh (alumni) HMI dengan Gus Dur tidaklah melulu berseberangan atau berlawanan, bahkan dalam hal-hal tertentu terutama sekali terkait soal gagasan, ide, pandangan, dan nilai-nilai yang diperjuangkan, malah sering terdapat persamaan atau kesesuaian. Semisal contoh Gus Dur dengan Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur) atau Gus Dur dengan Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif’ (Buya Syafi’i), ketiga-tiganya sama-sama pejuang pluralisme. Kita tahu Cak Nur dan Buya Syafi’i adalah orang-orang yang dibesarkan dan membesarkan HMI. Ternyata beliau berdua seiring sejalan dengan Gus Dur, bahkan saling mendukung dan menguatkan.

“Islam Yes, Partai Islam No” yang merupakan gagasan Cak Nur ditahun 1970-an, ternyata amat sesuai dengan pandangan Gus Dur yang memang menolak ide formalisme Islam. Maka, tak heran ketika awal-awal Reformasi, Ketua Umum PBNU tiga periode ini dalam mendirikan partai politik, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memilih corak partai terbuka ketimbang partai Islam. Kemudian ide-ide atau pandangan-pandangan Buya Syafi’i pun juga demikian, selalu beriringan dengan gagasan-gagasan Gus Dur. Kita tahu Buya Syafi’i sangat konsen membela kelompok-kelompok minoritas dan kaum agama lain, Gus Dur apalagi, beliau dengan tanpa lelah selalu memperjuangkan kalau perlu pasang badan dalam menghadapi setiap upaya pendiskriminasian terhadap golongan lemah ataupun pemeluk agama lain.

Cak Nur dan Buya Syafi’i adalah dua contoh tokoh (alumni) HMI yang memiliki kesamaan visi dengan Gus Dur tentang soal-soal keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh lainnya, tetapi karena keterbatasan tempat, sebab tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu dalam tulisan yang serba pendek ini. Intinya ialah diluar urusan politik praktis, sebenarnya masih banyak tokoh (alumni) HMI yang secara pemikiran memiliki kedekatan dengan pemikiran Gus Dur, bahkan tidak jarang selalu bergandengan tangan karena mempunyai kesamaan dalam cita-cita perjuangan. Ini yang mestinya harus terus dijaga, dijalin, dirawat, serta ditumbuh suburkan.

Kita ketahui bersama bahwa saat ini Cak Nur dan Gus Dur memang telah lama berpulang menghadap Tuhan Yang Maha Esa (Kini tinggal Buya Syafi’i yang masih berjuang), tapi meski demikian, beliau-beliau ini telah melahirkan anak-anak ideologis, dimana semangat aktivisme dan militansi mereka sungguh luar biasa tingginya. Kader-kader HMI yang memiliki kesamaan pandangan dengan Cak Nur maupun Buya Syafi’i tidak bisa dianggap kecil jumlahnya, mereka tersebar dimana-mana, dan murid-murid Gus Dur yang menyebut diri mereka sebagai Gusdurian, keberadaan mereka juga amatlah banyak dan telah merambah ke berbagai lini. Karena itulah penulis sangat yakin sekali, selama pengikut-pengikut Cak Nur dan Buya Syafi’i serta Gus Dur ini ada dan terus berkembang, selama itu pula kebhinekaan di negeri ini akan terus lestari abadi sampai yaumil akhir.

Kader-kader HMI yang mengagumi gagasan-gagasan Cak Nur maupun Buya Syafi’i, serta murid-murid ideologis Gus Dur yang tergabung dalam komunitas Gusdurian, sejatinya mereka semua adalah sama-sama kaum moderat, yakni kaum yang toleran, ramah, dan inklusif dalam beragama. Selama ini hubungan mereka secara intelektual dan kultural sangat baik. Mereka bergerak bersama menjadi benteng-bentengnya NKRI dan Pancasila. Mereka juga selalu senada dalam menjaga keselamatan dan kemajemukan bangsa dari rongrongan kaum radikal dan fundamentalis. Jadi, harapan penulis dan kita semua tentunya, janganlah karena ada buku baru dengan judul Menjerat Gus Dur, tiba-tiba hubungan yang semula baik dan bersahabat ini kemudian menjadi renggang atau kurang harmonis lagi. Sekali lagi jangan!

Kalau memang dalam buku baru tersebut diungkap bahwa ada beberapa tokoh (alumni) HMI yang terlibat dalam konspirasi menjatuhkan atau melengserkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, biarlah itu cukup menjadi suatu catatan fakta sejarah, tidak perlu kemudian membuat kita saling mendendam apalagi sampai menjadi berseteru. Sesama kelompok moderat jangan sampai mengalami suatu perpecahan, sebab taruhannya republik ini. Bisa-bisa para pengusung maupun pengasong negara agama akan memanfaatkan situasi dengan menjajakan ide-ide kekerasan mereka, dan ini sangat berbahaya sekali. Terakhir, penulis mengajak mari kita baca buku Menjerat Gus Dur tersebut dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih serta lebar.

*)Penulis adalah salah seorang alumni HMI Komisariat Fisipol UGM Yogyakarta yang kini aktif di Gusdurian Sidoarjo.

Desa Sidomukti Raih Terbaik Ke Dua Program PTSL

0

Jember – Sidomukti – Jempol. Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember,  raih penghargaan terbaik ke dua dalam melaksanakan Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) Tahun 2019. Hal itu disampaikan Kepala BPN Kabupaten Jember Sugeng Muljosantoso SH di Kantor BPN Jember, Senin (24/02/20).

Sebanyak 14 Desa se Kabupaten Jember yang menerima penghargaan program PTSL dari kepala BPN Jember. Senin (24/02/2020

Saat berlangsungnya kegiatan  Apel Bersama, Sugeng memberikan Penghargaan kepada 14 Desa, yang dinilai berhasil melaksanakan PTSL dengan baik.

Saat menerima penghargaan di kantor BPN Jember, Senin (25/02/2020)

Diketahui,  Tahun Anggaran 2019 BPN kabupaten Jember mendapatkan kuota sebanyak 50 ribu bidang tanah,  sedangkan 42.500  bersertifikat. Dan termasuk terbaik kedua se Indonesia,  setelah  BPN Kabupaten Banyumas Jawa Tengah.

“Semoga program PTSL Tahun 2020 BPN Kabupaten Jember bisa lebih meningkatkan kinerja dan menyelesaikan target sesuai dengan waktu program kegiatan,’ harapnya.

Kepala Desa Sidomukti Sunardi Hadi meyampaikan komitmennya dalam mensukseskan PTSL yang merupakan program   pendaftaran tanah untuk pertama kali, yang dilakukan secara serentak,  meliputi semua obyek Pendaftaran Tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia dalam satu wilayah desa.

“Program itu dikenal dengan sebutan Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). Tahun 2019, desa Sidomukti juga sudah menyelesaikannya sesuai dengan target dan capaian,” katanya.

Pelaksanaan PTSL  dimulai pada Bulan Januari s/d Desember 2019, meliputi beberapa tahapan yaitu :

  1. Sosialisasi,
  2. Musyawarah pembentukan kelompok masyarakat (Pokmas),
  3. Pendaftaran Pemohon,
  4. Pengumpulan Data Yuridis (Puldadis),
  5. Pengukuran
  6. Penerbitan dan
  7. Pembagian Sertifikat.

Total ada 3.320 bidang tanah yang diukur di Desa Sidomukti,  sedangkan yang mengajukan sertifikat sebanyak 3.100 bidang.

“Capaian itu, telah  menempatkan desa Sidomukti  terbaik kedua.  Sedangkan untuk terbaik pertama  Desa Sruni Kecamatan Jenggawah dan Desa Sidomulyo Kecamatan Silo sebagai terbaik ketiga,” pungkasnya. (SHP055)

Dima Akhyar Menjemput Takdir, Mendaftar Sebagai Bacabup Jember Melalui PAN dan Partai Demokrat

0

Jember – Jempol.Mas Dima merupakan salah satu tokoh muda yang berani mendaftarkan diri sebagai Bakal Calon Bupati Jember, tentu ini perlu diapresiasi”.

Pernyataan itu disampaikan Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Jember Drs Zarkasi MSi usai  menerima berkas pendaftaran Dima Akhyar sebagai Bakal Calon Bupati Jember periode 2020 – 2024 yang dilaksanakan di Cafe Pojok secara bersama – sama. Kamis (20/02/2020).

Hal serupa juga diungkapkan Ketua DPC PAN Jember Lilik Niamah yang juga mengapresiasi keberanian Dima Akhyar mendaftarkan diri sebagai bacabup.

“Diantara jutaan rakyat Jember, Mas Dima salah satu  dari beberapa Bacabup yang menunjukkan keberaniannya turut  berkompetisi,” kata Lilik Niamah.

Sebelumnya,  Dima diberi waktu  menyampaikan pidato politiknya. Dima mengungkapkan   rasa bangganya telah diberi kesempatan untuk medaftarkan diri sebagai Bacabup melalui PD dan PAN.

“Tentu ini sangat menggembirakan, semuanya berjalan begitu mudah,” katanya.

Apalagi model pendaftaran  yang  dilakukan PAN dan Partai Demokrat dilaksanakan bersama, menurut Dima merupakan contoh yang baik bagi  pembelajaran demokrasi yang.sehat.

“Semoga ini  menjadi awalan yang bagi pembelajaran demokrasi di Kabupaten Jember. Kita semua tahu, situasi yang sedang terjadi di Kabupaten Jember saat ini,” katanya.

Mantan Ketua Panwas Kab Jember memberikan penilaian bagi upaya sinersitas PD dan PAN Jember menunjukkan kualitasnya.

“Saya yakin, bukan soal berapa   jumlah kursi DPR yang dimiliki partai, melainkan selain seberapa besar kualitas yang ditunjukkannya. Karena toh  2 bukan lah 10 dan 8 juga bukan 10,” katanya.

Niat Dima mengikuti kontestasi pilkada Kabupaten Jember ‘2020, merupakna pilihan rasional yang telah dipertimbangkannya.

“Sebenarnya, semula saya tidak ada niatan mencalonkan diri, setelah memperhatikan dinamika politik yang berkembang, saya merasa perlu terjun dalam kancah kompetisi,” ujarnya.

Carut marutnya situasi di Kabupaten Jember selama kepemimpinan Bupati Faida, menurut Dima telah terjadi depolitisasi, pelemahan peranan partai politik.

“Karenanya, saya hadir menjemput takdir, dan jika takdir itu berpihak, maka yang pertama harus dilakukan  adalah penguatan partai politik,” tandasnya.

Dima juga mengkritisi buruknya tata kelola pemerintahan kabupaten Jember selama 4 tahun terahir, sehingga menyebabkan banyaknya tumpukan masalah.

“Untuk itu, sudah barang tentu, jika saya dipercaya memimpin Jember, penguatan birokrasi harus dilakukan sehingga tidak menghambat laju pembangunan dan mudahnya pelayanan publik,” tegasnya.

Menurut Mantan Pendamping Pertanian itu, Jember memiliki Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang jika dikelola dengan benar, maka akan menjawab permasalahan sosial ekonomi yang tengah dihadapi masyarakat Jember.

“Karenanya, diperlukan sinergisitas antara Eksekutif dan legislatif agar semua potensi dapat dioptimalkan,” tandasnya. (*)

Ketty Sayangkan Rekruetmen PPK Kabupaten Jember Abaikan Quota Perempuan

0

Jember – Jempol. Persoalan keterwakilan perempuan yang sepertinya diabaikan dalam rekruetmen Panitia Penyelenggara Kecamatan (PPK) di Kabupaten Jember, ditanggapi Mantan Komisioner KPUD Jember Ketty Setyorini  Kamis (20/02/2020).

Baca juga :

PPK 10 Kecamatan Tak Ada Keterwakilan Perempuan, KPUD Jember Dinilai Acuhkan UU No 1 Th 2017

Ketty menyayangkan tidak terakomodirnya quota perempuan di 10 Kecamatan dalam komposisi PPK.

“Kita kan sama-sama tahu dari sejak undang-undang penyelenggara pemilu yang diatur tahun 2003 itu kalimat “dapat /memperhatikan” itulah yang menjadi alibi para penyelenggara untuk tidak mempertimbangkan sebagai keharusan,” kata Ketty.

Apalagi jika pengguguran peserta PPK justru terjadi pada tahapan wawancara, biasanya sudah 10 besar.

“Nah,  kalau menurut saya jika sudah ada di dalam 10 besar,  maka itu tergantung komitmen dan cara pandang dari semua pihak baik itu perempuan maupun laki-laki yang memutuskan,” katanya.

Mantan Komisioner Komisi Penyiaran Informasi (KPI) Propinsi Jawa Timur itu, berpendapat selama  tidak punya komitmen terhadap keterwakilan perempuan, maka  selamanya akan menjadi sebuah wacana  “suka-suka”.

Ketty membandingkan  dengan tegas antara penempatan perempuan pada PPK dan komposisi Calon Legislatif. Kalimat  “memperhatikan” atau “dapat” dalam masalah penyelenggara  memang  berbeda dengan aturan untuk  pencalegan,  kalau keterwakilan perempuan dalam pencalegan sudah menjadi keharusan, bahkan satu daerah pemilihan pun kalau tidak ada perempuannya tentu saja konsekuensinya harus dicoret artinya dalam satu Dapil akan ada masalah,” tegasnya. Komposisi Perempuan dalam pencalegan,  penempatannya  juga sudah diatur sedemikian rupa,  bahwa 3 nama itu harus terdapat 1 perempuan .

“Nah ini salah satu wujud sudah adanya komitmen bersama secara tertulis,” tandasnya.

Menurut Ketty,  kalimat memperhatikan  memang terbuka untuk dimainkan. Selama ada keinginan  bermain-main dengan  kalimat itu selamanya akan mempunyai dalil bahwa itu tidak menjadi keharusan.

“Sekali lagi memang tergantung cara pandang dan  komitmen, saya yakin perempuan jika sudah  masuk  10 besar  secara  kualitas dia sudah  menunjukkan bahwa  dia sudah  mampu berkompetisi,” tandasnya.

Ketty menyakini kapasitas dan kualitas perempuan tidaklah lebih buruk dibanding laki – laki.

“Saya yakin kalau diberi kesempatan dan kepercayaan serta adanya komitmen untuk masuk  dalam 5 besar saya pastikan bahwa kualitas ataupun kinerja perempuan itu akan lebih Istiqomah,” tegasnya.

Bahkan, Ketty sudah mencermati, perempuan memiliki kelebihan dibanding laki – laki.

“Maaf selama ini yang saya amati dan  sudah  terbukti, perempuan itu lebih teliti perempuan itu lebih sistematis dan lebih rapi dalam  segala hal,” pungkasnya. (*)

UKM STASTFLIX MENGGELAR UNEJ INTERNATIONAL TALKSHOW BERTUJUAN MEMBERIKKAN WAWASAN GLOBAL KEPADA MAHASISWA UNIVERSITAS JEMBER

0

UKM Stastflix atau yg biasa dikenal AIESEC in Unej menggelar kegiatan bernama UNEJ International Talkshow yg bertema “pack yourbag: the world is awaiting”.

Bertempat di Auditorium Fakultas Teknik, acara yang diadakan dalam satu hari ini Rabu (19/02 ) mengundang 4 pembicara yang mempunyai pengalaman menjadi relawan dan melakukan penelitian di luar negeri, antara lain Yasiqy Haidar (AIESEC Volunteer di Vietnam dan Thailand), Megan Judith (Peace Corps Fellow, USA), Deirdre Conroy (CHRM2 Fellow, USA), Jonas Ivanoc (AIESEC Volunteer dari Denmark). Kegiatan ini dihadiri oleh 250 mahasiswa Universitas Jember yg sangat tertarik tentang bagaimana “tips and trick” untuk dapat menjadi relawan atau pengalaman kerja di luar negeri.

Pembina UKM Stastflix Honest Doddy Molasy membuka event ini dengan harapan bahwa mahasiswa Universitas Jember dapat memiliki wawasan global dan berani mengambil kesempatan untuk bekerja, study, konferensi, magang, hingga menjadi relawan ke luar negeri.

Salah satu pembicara, Deirdre Conroy juga menceritakan tentang apa saja yg dilakukannya sehingga dia dapat menjadi fellow di salah satu pusat kajian HAM Universitas Jember, yaitu CHRM2. Dia mendapatkan kesempatan itu melalui website profellow.org, melalui website tersebut ia mendaftarkan diri, mempersiapkan segala dokumen yg dibutuhkan, lalu melakukan sesi wawancara melalui aplikasi video chat online, skype. Hingga dia diterima untuk menjadi fellow di CHRM2 selama satu tahun. Budaya di Amerika juga diperkenalkannya sehingga mahasiswa tau tentang budaya-budaya yg ada di Amerika.

“UNEJ International Talkshow sangat menginspirasi bagi mahasiswa-mahasiswi yang ada di Jember. Karena kebanyakan mahasiswa masih belum berani bermimpi tinggi atau bahkan tidak memiliki mimpi untuk menjadi orang yang seperti apa setelah lulus kuliah nanti. Diharapkan dengan adanya kegiatan semacam ini terus diadakan, tidak hanya mahasiswa namun orang-orang disekitar mampu bermimpi dan menjadi apa yang mereka inginkan tanpa ada yang menghalangi.Sekaligus mengajak mereka untuk berpikir global, karena sekarang zaman sudah berubah. Pemikiran yang ‘open-minded’ dibutuhkan bagi setiap orang untuk menjadi bagian International citizen. Dan menjadi lebih aware terhadap keadaan yang terjadi di Dunia, bukan hanya Indonesia saja” ucap salah satu peserta Donny Bagus Octavianto.

PPK 10 Kecamatan Tak Ada Keterwakilan Perempuan, KPUD Jember Dinilai Acuhkan UU No 1 Th 2017

0

Jember – Jempol. KPU Kabupaten Jember dinilai tidak memperhatikan quota perempuan dalam rekruetmen Panitia Pemilihan  Kecamatan (PPK). Hal itu diketahui dari hasil rekruetmen PPK se kabupaten Jember, terdapat 10 Kecamatan yang didalamnya sama sekali tidak ada keterwakilan perempun.

Baca juga : 

Ketty Sayangkan Rekruetmen PPK Kabupaten Jember Abaikan Quota Perempuan

Kecamatan Yang Tidak Ada keterwakilan Perempuan :
1.  Gumukmas
2.  Jenggawah
3.  Kencong
4.  Patrang
5.  Puger
6.  Mumbulsari
7.  Sukorambi
8.  Sumberbaru
9.  Sumberjambe dan
10. Tanggul

Melalui ponselnya, Warga Kecamatan Mumbulsari  Jeni Indri Astutik (42) menyampaikan protesnya atas komposisi PPK di Kabupaten Jember yang dianggapnya tidak memperhatikan quota perempuan. Kamis (20/02/2020).

“Jumlah penduduk setiap kecamatan di Jember lebih banyak perempuan , mestinya ada keterwakilan dari perempuan yang menjadi pengawal demokrasi di tiap kecamatan dan salah satu calon bupatipun juga perempuan, bukankah itu adalah amanat undang undang gender yang memuat bahwa ada keterwakilan perempuan di segala hal.  Perempuan punya hak yang sama  dengan laki laki, kenapa tidak diberi kesempatan untuk  ikut andil ?,” Protesnya.

Aktivis Forum Refleksi Perempuan itu menyebut didalam   UU no 1 tahun 2017 tentang kesetaraan gender  ada  keharusan mengikutsertakan perempuan dalam semua lini.

“Termasuk pilkada 2020,  bahwa dalam 5 orang  harusnya ada 2 perempuan,” tegasnya.

Untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, Jeni berencana akan melayangkan surat somasi kepada semua pihak terkait.

“Saya akan coba memperjuangkan keterlibatan perempuan dalam komposisi PPK, segera akan kami layangkan surat somasi,” tandasnya.

Dikonfirmasi melalui Ponselnya, Ketua Devisi  Data dan Informasi KPUD Jember Ahmad Hanafi menegaskan tidak ada keharusan memenuhi quota perempuan dalam komposisi PPK.

“Klausulnya hanya memperhatikan, saya kira gak masalah,” jawab Hanafi. (*)

Sunardi : “Saya Tegaskan Tidak Ada Pemanfaatan PKH Untuk Pilkada”

0

Jember _ Sidomukti_ Jempol. Belakangan marak isu mengemuka soal keterlibatan Peserta Program Kesejahteraan Masyarakat (PKH) yang dimanfaatkan buat dukungan calon independen salah satu Bakal Calon Bupati Jember.

Melalui ponselnya, Kepala Desa Sidomukti Sunardi Hadi menegaskan di desanya tidak ada pemanfaatan PKH untuk kepentingan Politik jelang Pilkada Jember  2020. Rabu (19/02/2020)

“Sepanjang yang saya ketahui tidak ada pemanfaatan pkh untuk kepentingan pilkada, gak tau kalau tim suksesnya,” tuturnya.

Terlebih, saat sosilasasi graduasi PKH di Balai Desa Sidomukti, Sunardi menegaskan dihadapan 651 peserta PKH,  agar tidak ada yang memanfaatkan warga Peserta PKH untuk kepentingan pilkada.

“Saya tadi tegaskan, jika ada yang memaksa untuk mendukung calon tertentu saya minta warga melapor,” tandasnya. (*)

Usai Sosialisasi 22 Warga Desa Sidomukti Mundur Sebagai Peserta PKH

0

Jember _ Jempol. Setelah diadakan sosialisasi di Balai Desa Sidomukti Kecamatan Mayang,  sebanyak 22 peserta PKH  menyatakan mengundurkan diri dari kepersertaan program. Rabu (19/02/2020).

Lihat juga vidionya di bawah ini :

Menurut Kepala Desa Sidomukti Sunarda Hadi, banyak  faktor dan alasan warga  mengundurkan diri. Selain memang sudah merasa mampu dan tidak layak menerima bantuan, ada juga peserta yang menyatakan mengundurkan diri dengan alasan masih banyak  keluarga dan tetangga sekitar yang lebih layak menerima program ini,  meskipun kondisi sosial ekonomi keluarga tersebut masih kurang mampu.

“Bentuk kepedulian, kesadaran dan kepekaan sosial inilah yang sangat kita harapkan bersama. Agar terbentuk pola pikir masyarakat yang tidak hanya selalu mengharapkan bantuan dari pemerintah atau orang lain, akan tetapi mempunyai rasa kepedulian dan kesetiakawanan sosial didalam kehidupan masyarakat,” tutur Sunardi

Pogram Keluarga Harapan (PKH) yang dimulai sejak tahun 2007, diklaim.Sunardi    berhasil  menurunkan angka kemiskinan.

“PKH adalah bantuan tunai bersyarat yang pesertanya dari keluarga tidak mampu yang mempunyai komponen kesehatan, pendidikan, disabilitas  dan lansia berumur 70 tahun. Dalam perkembangannya selama ini banyak peserta PKH yang sudah meningkat kondisi sosial dan ekonomi dari sebelumnya. Sehingga keluarga tersebut dianggap sudah berhasil,” jelasnya.

Patut diketahui, Sosialisasi Graduasi Sejahtera Mandiri Program Keluarga Harapan (GSM PKH) oleh Pendamping PKH yang dihadiri   supervisor PKH Kabupaten Jember Putut Sutiyaji,AK. Sebanyak 651 orang penerima program PKH hadir mengikuti kegiatan tersebut.

Graduasi Sejahtera Mandiri Program Keluarga Harapan merupakan  proses evaluasi dan penilaian terhadap keluarga penerima manfaat yang tergolong mampu dan sejahtera,  Sehingga tidak layak lagi  menerima bantuan sosial PKH.

Graduasi Sejahtera Mandiri tersebut meliputi 3 kriteria, yaitu  :
1. Keluarga yang sudah mampu atau kaya
2. Keluarga yang sudah sejahtera, mempunyai usaha sendiri seperti perdagangan, pertanian, perkebunan dan peternakan
3. Keluarga yang dengan kesadaran sendiri atau dengan secara suka rela mengundurukan diri dari kepersertaan progam, meskipun kondisi sosial ekonomi keluarga tersebut masih tidak mampu, seperti yang disampaikan oleh Pak Putut. (SHP055)

Ketua BNPT : Cegah Radikalisme Gunakan Kearifan Lokal

0

JAKARTA _ Jempol.  Badan Nasional Pencegahan Teroris (BNPT) secara resmi melantik   sekaligus mengukuhkan  pengurus Forum Koordinasi Pencegahan Teroris di 32 Provinsi se-Indonesia.

Prosesi pelantikan itu dilakukan secara langsung  Ketua BNPT Komisaris Jendral (Pol) Suhardi Alius sekaligus membuka acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) FKPT ke-7 yang berlangsung 17-20 Februari 2020 di Mercure Hotel, Ancol Jakarta.  Senin Malam (17/2/2020).

Ketua BNPT Suhardi Alius mengharapkan FKPT se-Indonesia yang kini berjumlah 32 FKPT itu dapat berfungsi maksimal mencegah tumbuh dan berkembangnya gerakan radikalisme, ekstrimisme dan terorisme.

“Kita mengharapkan FKPT ini dapat berfungsi dengan baik,” kata Suhardi yang disampaikan dalam pidato pembukaan Rakernas FKPT ke-7 tersebut.

Lebih jauh Suhardi mengharapkan FKPT dapat berfungsi sebagai sarana untuk mengidentifikasi program pencegahan dpenanggulangan terorisme.

“Coba kita inventarisir kembali kearifan lokal kita. Kearifan lokal, sering kita ucapkan jarang dimunculkan,” tegasnya.

Padahal kearifan lokal, sebut dia, tidak hanya sekadar budaya. Melainkan juga mengandung nilai yang harus dikembangkan. Nilai-nilai tersebut, katanya, bila diinventarisasi dengan baik maka akan menjadi kekayaan.

“Sebab itu mari kita bersama-sama, FKPT, Kesbangpol ini bisa menjadi ujung tombak mengidentifikasi masalah sekaligus kearifan lokal yang dimiliki,” ujarnya.

Suhardi juga meminta kepada FKPT untuk meningkatkan peran serta masyarakat mencegah berkembangnya radikalisme dan terorisme. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan oleh FKPT di daerah dalam mencegah radikalisme yakni, melalui pendekatan nilai-nilai budaya.

Sebanyak 288 peserta dari 32 provinsi di Indonesia terdiri delapan pengurus dan satu tenaga informasi teknologi FKPT hadir dalam Rakernas FKPT yang digelar BNPT. Ratusan pengurus FKPT periode 2020 – 2022 dilantik oleh Komisaris Jenderal Polisi Suhari Alius, berdasarkan Keputusan BNPT Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Pengurus FKPT, ditetapkan di Bogor 8 Januari 2020.

Hadir juga Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Drs Hadi Prabowo MM yang ikut memaparkan ancaman, bahaya dan metode penanggulangan terorisme dan radikalisme di Indonesia.

Kegiatan Rakernas akan berlanjut, pada Selasa – Kamis (18-20/2) terkait pembahasan beberapa materi pencegahan dan penanganan terorisme dan radikalisme.

Sesuai rencana kegiatan ini akan berlangsung hingga, Kamis (20/2). Selanjutnya seluruh pengurus FKPT di daerah diharapkan bisa menjabarkan ke provinsi masing-masing.

Kepengurusan FKPT Provinsi Jawa Timur Periode 2020-2022  :

Ketua   :  Dr. Hj. Hesti Armiwulan SH., M. Hum,
Sekretaris :  Dra. Faridatul Hanum M. Kom.
Bendahara :  Prof. Dr. Hj. Husniyatus Salamah Sainiyati, MA
Ketua Bidang Agama, Sosial dan Budaya :  Mohammad Arifin

Ketua Bid. Pemuda dan Pendidikan : Dr. Bambang Sigit Widodo, M.Pd
Ketua Bid. Media Massa, Hukum dan Humas : Yuristiarso Hidayat, S. Sos., M.H

Ketua Bid. Pemberdayaan Perempuan dan Anak :  Dr. Nurul Barizah
Ketua Bid. Pengkajian dan Penelitian ; Ucu Martanto, S. IP., MA

Secara Khusus Ketua FKPT Jawa Timur, Hesti Armiwulan menyatakan pihaknya sangat mendukung penuh pernyataan Ketua BNPT terkait perlunya upaya penggunaan budaya dan kearifan lokal dalam kontek upaya deradikalisasi termasik pencegahan dan penanggulangan radikalisme khususnya terorisme.

“Pak Suhadi secara khusus tadi dipidatonya menyebut Jatim termasuk salah satu daerah yang memiliki tingkat kerawanan tindak radikalisme secara nasional.  Karena ini hasil pemetaan BNPT maka FKPT Jatim berupaya berkoordinasi serta mencoba secara cerdas melakukan kerjasama dengan semua stageholder terkait dalam upaya menurunkan termasuk mengantisipasi tingkat kerawanan radikalisme diantaranya dengan mendorong penggunaan cara-cara yang berkaitan dengan local wisdom [kearifan lokal] serta tradisi dan budaya lokal di Jatim,” kata Hesti pada kesempatan berbeda.

Pelibatan sejumlah pihak, lanjut Hesti, di Jatim terkait upaya pencegahan teroris akan semakin digalakkan termasuk dengan para tokoh, alim ulama, pesantren, perguruan tinggi dan tentunya dengan pemerintah daerah.

“Dukungan Pemprov dan Pemkab dan Pemkot di Jatim tentunya sangat diharapkan guna bersama-sama dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme,” tegasnya.(*)

%d blogger menyukai ini: