Beranda blog

Dima Akhyar Simak Kisah Minak Jinggo Nagih Janji

Jember_ Jempol.Ancaman Blambangan semakin gawat. Minakjinggo minta penyerahan Majapahit dan Ratu Kencana Wungu  untuk dijadikan permaisurinya.

Suatu malam, Ratu Kencana Wungu mendapat ilham, bahwa seorang pemuda bernama Damarsasongko alias Damarwulan yang dapat mengalahkan Minakjinggo, Raja Blambangan. Maka ia minta Logender untuk mencari pemuda itu. Hal ini membuat iri hati kedua putranya.

Damarwulan telah dikawinkan dengan Anjasmoro diutus ke Blambangan. Begitu melihat Damarwulan, kedua istri Minakjinggo, Dewi Wahita  dan Dewi Puyengan jatuh hati padanya.

Dengan bantuan kedua istri Minakjinggo, akhirnya Damarwulan berhasil memenggal kepala Minakjinggo dengan senjata Gada Besi Kuning milik Minakjinggo yang dicuri oleh Dewi Wahita. Dalam perjalanan pulang, Damarwulan dihadang Layang Seto dan layang Kumitir.

Damarwulan dibuang ke jurang, berhasil diselamatkan oleh arwah ayahnya. Layang Seto dan Layang Kumitir menghadap Ratu Kencana Wungu. Timbul keraguan siapakah yang membunuh Minakjinggo. Damarwulan diadu berduel melawan Layang Seto dan Layang Kumitir.

Kemenangan Damarwulan mendapatkan hadiah naik tahta Majapahit dan memperistri Kencana Wungu. Atas petunjuk ayahnya Layang Kumitir bergabung dengan kerajaan lain untuk memberontak. Layang Seto membujuk dua pendekar yang masih saudara Damarwulan untuk mengalahkan Damarwulan.

Timbulah perang antar saudara, tetapi bisa dilerai oleh arwah ayah Damarwulan. Dua pendekar tadi akhirnya bergabung dengan Damarwulan untuk menyerang para pemberontak istana Majapahit.

Kisah  yang dibawakan Janger asuhan Suparman di Desa Babatan Kecamatan Jenggawah, malam itu (Sabtu, 7/12) cukup memukau penonton.

Aktornya  bermain total, mulai dari dandanannya yang membuat penonton seolah kembali ke ruang masa lalu, para aktor Janger itu juga membangun dialog seolah menggambarkan sebuah kerajaan di masa lampau.

Dibalik layar sedang asyik ngobrol Ketua DKJ Eko Suwargono dan Inisiator Jember Idea’s Dima Akhyar membahas kondisi kehidupan seniman tradisi yang masih bertahan hidup dari gempuran tumbuhnya kebudayaan global.

Ketua DKJ Eko Swargono

“Seniman janger memang masih perlu sentuhan,” desah Eko Suwargono.

Bukan saja fasilitas panggung masih sangat minimalis, berikut sarana pendukung. Pola suguhan panggungnya juga perlu digarap serius.

“Masih ada ruang kosong yang harus diisi,” kata Eko.

Dima Akhyar juga ikut larut dalam dialog malam di belakang panggung.  Sambil sesekali coba memahami kehidupan seniman tradisi.

Duma Akhyar sedang menari bersama penari gandrung Tutik di atas panggung

Dima juga ikut menari diatas panggung tanpa canggung.

“Masih banyak ya pekerjaan rumah kita ke depan,” tutur Dima. (*)

Dima Akhyar Bercengkrama Dengan Seniman Ludruk

Jember_Jempol. Ditengah kerasnya kompetisi Bakal Calon Bupati Jember ‘2020, Dima Akhyar yang juga berniat mengikuti kontestasi, malam itu memilih bercengkrama bersama seniman Ludruk. Jum’at Malam (6/12/19).

“Sepertinya saya lebih nyaman jadi Bupati Ludruk,” kata Dima berseloroh.

Ludruk “Padang Bulan” malam itu sedang mementaskan lakon “Pendekar Gagak Rimang”. Dima memanfaatkan waktunya menyelami kehidupan seniman Ludruk di belakang panggung.

Seniman Ludruk Kawakan Libyanto bersama Istrinya Manika Refa.l, sedang dikunjungi Tim Jember Ideas Sudarsono dan Eko Budiyono

Dibelakang panggung pemain Ludruk tampak sedang sibuk berdandan, menyiapkan diri buat manggung. Diantara para seniman itu ada sosok separo baya yang sedang berdandan.

“Apa suka duka sampean selama menjadi seniman ludruk ?,” Tanya Dima pada Nawi alias Pak Yudi, aktor yang memerankan tokoh Pendekar Gagak Rimang.

Nawi yang ditanya Dima menjawab lugas hampir tanpa beban, tak ada yang disembunyikan, meski wajahnya sudah ditutupi make up.

“Tak ada yang menyedihkan,  selama menjadi seniman ludruk saya rasakan hanya senang. Kalau gak pentas saya malah bingung,” katanya sambil bercanda.

Nawi lahir tahun 1964, umurnya sudsh 55 tahun. Sejak tahun 1984, pria asal Sempolan  Kecamatan Silo itu mengaku sudah menggeluti dunia panggung.

“Saya main ludruk sejak era kejayaan Man Lesek, hingga kini sudah berganti kepada cucunya,” kaya Nawi.

Pengakuan Nawi dibenarkan Lina (37) penerus Ludruk Padang Bulan, generasi ke tiga dari legendaris Seniman Ludruk Jember Man Lesek.

“Lik Nawi sudah puluhan tahun ikut kami,” kata Lina.

Lina yang sedang  mendampingi mengarahkan aktor ludruk, memgaku tak mencari untung dari kesenian ludruk yang dikelolanya.

“Saya hanya meneruskan warisan orang tua. Seringkali malah tekor,” katanya.

Kontrak Ludruk Padang Bulan hanya sekitar Rp 9 jutaan sekali manggung. Sedangkan awak ludruk semua sekitar 40 orang. Jika dibagi rata, dirinya malah sering tidak kebagian.

“Ya saya hanya dapat senang itu saja. Setidaknya kesenian Ludruk tetap hidup,” katanya.

Kehidupan ekonomi rumah tangganya ditopang dari beternak dan berdagang. Hal itu dibenarkan Samsul suami Lina.

“Saya piara empat ekor sapi limosin, selama enam bulan  untungnya bisa buat hidup,” kata Samsul.

Diatas panggung pelawak muda Lihin sedang mengocok perut penonton dengan lelucon berbahasa madura. Seperti itulah mereka juga mengocok kehidupan.

“Malam ini kita kedatangan tamu orang Dinas Pariwisata,” padahal tak ada orang Dinas Pariwisata yang bertandang. Sepertinya Lihin sedang ketidak pedulian pemerintah atas kehidupan seniman ludruk yang harus menjalani hidup dari panggung ke panggung.

Usai berbincang, Rombongan Dima Akhyar ahirnya berpamitan pulang, tidak menunggu berahirnya pertunjukan malam itu.

“Maaf ya bu, kami harus pulang, besok kita ketemu lagi,” kata Dima berpamitan. (*)

Ngembat Ratusan Juta Uang Nasabah Buat Karaoke dan Bayar Purel Diringkus Polisi Ambulu

0

Jember_Ambulu_Jempol. Gara – gara ngembat motor nasabahnya, Sales Motor bernama  Ricky Dinovian diringkus Polsek Ambulu. Jum’at (6/12/19).

Mulanya Ricky Dinovian berdalih membantu nasabahnya Warga Desa Pontang Kecamatan Ambulu Puji Astutik untuk servis gratis. Selang beberapa lama Motor Beben Merk Honda  Scopy Nopol  P 3809 GV itu tak kunjung kembali.

Usut punya usut, sepeda motor itu kabarnya sudah digadaikan Ricky kepada pihak ketiga.

Seperti diakuinya,  uang hasil gadai sepeda motor itu digunakan  Ricky buat karaoke bersama purel. Selain itu, banyak uang setoran nasabah yang digelapkan.

Ricky mengakui sekitar Rp 100 juta uang nasabah yang diembatnya untuk bersenang – senang.

“Ya tidak semua buat karaoke dan bayar purel, ada juga untuk kebutuhan lain,” kata Ricky seperti tak bersalah.

Memurut keterangan Anggota Reskrim Polsek Ambulu Bripka Hafi Sakroni tertangkapnya tersangka bermula dari laporan korban penipuan dan penggelapan.

Bripka Hafi S

“Setelah berhasil tertangkap, korbannya malah berkembang bukan hanya satu, sekitar 6 sampai 7 korban,” kata Hafi.

Modusnya beragam, ada yang menggadaikan sepeda motor korban, menggelapkan uang muka nasabah, dan menggelapkan angsuran nasabah.

Reskrim Poksek Ambulu mengamankan barang bukti berupa satu sepeda motor dan kuitansi pembayaran.

“Atas perbuatannya pelaku dijerat pasal 378 subsider 372  KHUP dengan ancaman hukuman 4 tahun kurungan,” pungkasnya. (*)

Maling Kambuhan Diciduk Polisi Tanggul

0

Jember_Tanggul_Jempol. Maling kambuhan diringkus Reskrim  Polsek Tanggul.  Pelaku bernama  Asmad warga Desa Darungan Kecamatan Tanggul, diduga selama ini telah meresahkan warga. Kamis (5/12/19).

Saat diperiksa polisi pelaku mengaku telah melakukan pencurian berkali – kali. Pelaku pernah dipenjara sekitar 4 tahun yang lalu.

“Ya pak, pernah dipenjara pak,” kata Asmad.

Tertangkapnya Asmad berawal dari laporan korban bernama Juhri warga dusun  Curahbanban Desa Tanggul Wetan.

Sekitar subuh dini hari,   8 September 2019, Juhri mendapatkan Toko Mebelnya telah dibobol pencuri. Hal itu dilaporkan Juhri  ke Polsek Tanggul.

“Atas dasar laporan Juhri kami bergerak menangkap pelaku,” kata Kanit Reskrim Polsek Tanggul Dwi.

Pelaku ditangkap saat berada di dalam rumahnya. Polisi mendapatkan springbad dan sofa sebaga barang bukti.

“Atas perbuatannya pelaku dijerat  pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara,” tegas Dwi. (Basu)

Pro Dim Salurkan Bantuan Atasi Kekurangan Air Bersih Di Desa Curahnongko

0

Jember_Tempurejo_Jempol. Mendapat kabar dari Jaringan Pro Dim ( Aktivis Pendukung Dima Akhyar)   bahwa  telah terjadi kekeringan yang  mengakibatkan kurangnya ketersediaan air bersih  dibeberapa titik di desa Curahnongko Kecamatan Tempurejo, segera Dima Akhyar menggerakkan Pro Dim untuk menanggulanginya, Kamis (5/12/19).

Semoga semua niat, rencana dan ayunan langkah Pro Dim untuk tanggap kekeringan dimudahkan dan dilancarkan,” kata Dima melalui WA Grup.

Menurut informasi  jaringan Pro Dim di Desa Curahnongko Ari Arjes,  akibat kekeringan selama 9 bulan menyebabkan warga kesulitan mendapatkan air bersih, titik terparah terjadi di RW 04, RW 05 dan RW 12.  Warga harus berjalan Jauh untuk mendapatkan air bersih.

“Saya kira warga sedang membutuhkan uluran tangan untuk mendapatkan air bersih. Alhamdulillah tim Pro Dim sudah menyalurkan bantuannya,” kata Ari Arjes.

Kang Ari Arjes sedang menerima saluran bantun dari Tim Prodim Satoha

Bagian kesekretariatan Pro Dim Budi Harijanto segera melakukan koordinasi tanggap darurat. Tak lama, telah siap mensuplai   kebutuhan untuk kirim air ke curah nongko.
1. Mobil pickup
2. Tandon air
3. Tanky air
4. Selang
5. Jerigen

Dibawah komando Cak Nung, Tim Tanggap Darurat Pro Dim menuju sasaran.

Cak Nung menginformasikan Tim Prodim berhasil mensuplai  air 7500 liter untuk  300 kk.

“Masyarakat sangat senang dan berterimakasih karena  selama kemarau,  pemenuhan air bersih harus beli,” kata Cak Nung. (*)

Petani Jagung Jember Manfaatkan Tehnologi Tingkatkan Hasil Panen

0

Jember_Balung_Jempol. Petani Jember  mulai memanfaatkan tehnologi untuk meningkatkan daya tawar hasil produksinya. Seperti yang dilakukan petani Desa Balung Lor Kecamatan Balung Boby, yang sudah mencoba Mesin Panen Jagung (Combine Corn Harvester).

Berdasarkan penuturan Boby, menggunakan Mesin Combine lebih efisien waktu dan biaya. Perhektarnya hanya membutuhkan sekitar satu jam dengan biaya sekitar Rp 2,8 juta.

Cara kerja mesin panen ini cukup sederhana. Tanaman jagung terpotong, keluar sudah berupa jagung pipilan siap jemur.

Mesin Panen Jagung itu dapat mengatasi :
* Sulitnya tenaga panen
* Kontra sosial akibat panen
* Susut akibat hilangnya bulir jagung

“Jika dilakukan dengan tenaga manusia membutuhkan waktu lama, mulai dari petik tongkol disawah, mengelupas kulit tongkol, menjemur dan pipilan,  bisa memakan waktu berhari hari. Biayanya bisa mencapai Rp 4 juta per hektar,” kata pemuda itu.

Penggunaan mesin panen itu juga dapat meningkatkan hasil panen. Harga Jagung pipilan sebelumnya Rp 3.900  per kg, kini naik menjadi Rp 4.100 per kg.

Limbah dari panen Jagung itu bisa langsung digunakan untuk pakan ternak.

“Gak perlu lagi dirajang,” katanya. (Basu)

Jembatan Watu Kebo Terancam Ambrol Resahkan Warga

0

Jember_Ambulu_Jempol. Jembatan penghubung  dusun Watu Kebo dan dusun Krajan Desa Andongsari Kecamatan Ambulu terancam ambrol.  Kondisi itu disesalkan Anggota Komisi C DPRD Jember Agus Khoironi saat sidak. Kamis (5/12).

Anggota Komisi C DPRD Jember Agus Khoironi saat sidak Jembatan Watu Kebo

Saat Agus melakukan sidak ditemukan kondisi bangunan yang tanpa rangkaian besi itu mulai rapuh, badan penyanggah jembatan juga terlihat sudah ada yang putus.

“Padahal jembatan itu merupakan sarana penghubung yang bukan saja  bisa berdampak pada perputaran ekonomi dua dusun, tetapi juga akan berdampak sosial,” sesalnya..

Menurut Agus,  usulan rehabilitasi  jembatan sudah pernah disampaikan lima tahun lalu melalui dinas terkait, sayangnya hingga kini (2019) belum ada perbaikan.

“Kami akan pertanyakan kepada Dinas PU Bina Marga dan SDA,” katanya.

Warga Desa Andongsari Rahmat Ariyanto menuturkan, jembatan itu dibangun pada tahun 1998. Jembatan penghubung dua desa itu dipergunakan warga saat mengangkut hasil panen dan anak sekolah.

Melihat kondisinya yang menghawatirkan, pemerintah desa Andongsari berusaha membatasi lalu lintas pengguna jalan dengan cara membuat tugu ditengah jembatan.

“Tujuannya agar jembatan tidak dilewati kendaraan dentan muatan berlebihan, khawatir malah menimbulkan korban jiwa,” katanya.

Seniman Jember Tunaikan Niat Gelar Romansa Bedadung

0

Jember_ Jempol. Lantunan mocopatan menyibak relung malam, diantara langkah kaki yang menyapa rerumputan dan semak belukar. Suasana malam itu, Rabu (4/12) menjadi sangat mistis, diantara cahaya obor yang menerangi.

Dkj
Ketua DKJ Eko Suwargono sedang memberi wejangan di tengah Sungai Bedadung

Tampaknya  Pegiat Pewaris Budaya Leluhur  dibawah naungan Dewan Kesenian Jember sedang mencoba bersenyawa luruh  dengan alam Sungai Bedadung.

Ditengah Sungai Bedadung, terdengar tabuhan gending rancak musik gandrung bersenyawa dengan gemericik aliran sungai Bedadung, menandakan seolah sang penguasa sungai menyambut kerinduan  para seniman menyatu dengan tarian semesta.

Sejenak suasana tegang, dari rerimbunan hutan bambu, tiba – tiba muncul sesosok leak yang menari – nari mengikuti irama tabuhan gandrung.

Sosok leak itu turun menyeberangi sungai, lalu menyembah kepada tiga putri penari gandrung yang berdiri berjajar, seperti mohon ijin memberkati tumpeng yang tersedia.

Usai memberkati tumpeng, leak itupun segera menghilang menuju rerimbunan hutan bambu, bayangannya lenyap dalam kegelapan.

Suasana kian menghentak – hentak, saat Soni Suharsono  “Cimot” membacakan puisi berjudul “Ruh Bedadung. Bertelanjang dada Soni, sambil memegang batu di kedua tangannya yang diadu menimbulkan bunyi eksotis.

“Gelang – gelang Kali kali….,” Soni seolah sedang berdialog dengan para penguasa Kali Bedadung.

Lalu, disambung dengan lantunan lagu para penari gandrung yang saling bergantian.

Sungguh, malam itu terasa sangat eksotis. Sebuah suguhan para pegiat seni, dibawakan diatas panggung setingan alam Kali Bedadung.

Ketua DKJ Eko Suwargono menuturkan kegiatan itu merupakan agenda DKJ yang sebenarnya sudah teragenda melalui Pemerintah Kabupaten Jember. Mestinya, giat itu akan dilaksanakan pada tanggal 15 september 2019.

“Menjadi tak penting, apakah giat ini direstui pemkab Jember atau tidak, yang penting sudah bisa dilaksanakan,” tuturnya.

Eko berkeinginan kelak kreativitas para seniman Jember dapat menjadi buah karya yang bisa dinikmati oleh banyak kalangan.

Kata Eko, Sungai Bedadung merupakan Icon yang tak dapat dipisahkan dari Mitos Jember.

“Masih ada lagi rangkaian kegiatan DKJ yang sengaja untuk  memperkenalkan kepada segenap kalangan tentang Jember,” tegasnya.

Dewan Pakar DKJ Dr Ikhwan Setyawan menegaskan, giat Romansa Bedadung merupakan upaya membayar niat yang harus dilaksanakan.

“Saat saya melarung sesaji, saya sengaja membacakan ayat suci dan mantra khas Jawa. Biarlah, siapapun yang menghadang niat kami untuk melaksanakan Selamatan Sungai Bedadung, semoga alam memberikan keadilan,” sergahnya.

Lalu malam itu sejenak menjadi hening seolah seluruh pepohanan, batu – batu, air kali terdiam sejenak. Mengiringi langkah para pegiat kebudayaan Jember meninggalkan panggung alam Sungai Bedadung. (*)

Pendopo Kecamatan Balung Juga Menghawatirkan, Jumadi Desak DPRD Jember Serius

0

Jember_Jempol. Pasca Ambruknya Pendopo Kecamatan Jenggawah  mendorong banyak orang menduga hal yang serupa sangat mungkin terjadi di Kecamatan lainnya.

Papan N
Papan Nama Proyek

Kecurigaan itu disampaikan Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto disela – sela pernyataannya saat menanggapi ambruknya pendopo kecamatan Jenggawah.

“Kabarnya pendopo kecamatan Balung garapannya juga mencurigakan, tapi kami belum  periksa,” katanya.

Balung
Eternit plafon sudah terjatuh

Dugaan itu dikuatkan pernyataan Aktivis Jember Jumadi, yang menemukan beberapa fakta konstruksi pendopo kecamatan Balung yang sudah mengalami  kerusakan dibeberapa titik, diantaranya : usuk hampir patah, plafon eternit runtuh, pemasangan skrup  plafon eternit banyak lepas, terlihat ada gelombang atap diduga reng usuk tipis dan lebar.

Jumadi  menyebut kondisi konstruksi Pendopo Kecamatan Balung mencurigakan dan bukan tidak mungkin akan mengalami nasib serupa Kecamatan Jenggawah.

Terlihat dari Papan nama yang terpasang nilai proyek sebesar Rp 1,7 Milyar, digarap mulai tanggal 24 Juli 2019 dan diharapkan selesai tanggal 21 Nopember 2019. Pelaksana CV Tunggal Pratama.

“Sepertinya digarap orang yang sama dengan yang garap pendopo kecamatan Jenggawah,” kata Jumadi.

Karenanya Jumadi meminta Bupati Jember serius menangani permasalahan penggunaan APBD yang dialokasikan untuk pembangunan.

Jumadi menilai banyak pendopo kecamatan yang sebenarnya belum perlu direnovasi, karenanya kondisinya masih baik.

“Kalaupun dipaksakan harus direnovasi setidaknya dalam pengerjaannya tidak menyimpang dari RAB nya,” tegasnya.

Aktivis yang dikenal kritis itu mendesak agar DPRD Jember segera mengklarifikasi kepada segenap pihak terkait agar peristiwa serupa tidak terjadi pada pembangunan di tempat lainnya.

“Saya berharap DPRD Jember serius menangani masalah ini, karena bukan saja akan merugikan keuangan negara, tetapi juga terbuka kemungkinan akan menimbulkan korban jiwa,” tandasnya.

Sementara, Camat Balung Widayaka SH saat dikonfirmasi melalui WA belum memberikan jawaban. (*)

Dialog Jember Ideal Ke 21 Melahirkan Paguyuban Seni Tradisi Nusantara

0

Jember_Jempol. Menjawab kehausan seniman tradisi bereskpresi di tengah tantangan jaman, Dialog Silaturahmi Jember Idea ke.XXI mencoba  mewadahi dengan menggagas berdirinya  Paguyuban Seniman Tradisi Nusantara (PasenTraN). Selasa(3/11).

Dialog yang diselenggarakan di Rumah Tokoh Kesenian Kecamatan Panti  Satoha itu diawali dengan pertanyaan Ansori yang ingin tahu lebih jauh tentang gagasan Pasentran.

“Saya kan baru mengikuti kegiatan dialog hari ini, saya ingin tahu lebih banyak maksud dan tujuannya,” tanya Ansori.

Lalu dialog mengalir seperti tabuhan rancak gending,  seolah menjawab kegelisahan  seniman tradisi dalam perjalanan  menemukan muaranya.

“Kita berhimpun dengan niatan positif membangun kebersamaan diantara seniman tradisi,” kata Satoha.

Budi Harijanto mencoba  mengarahkan dengan muneruskan gagasan   perlunya didirikan wadah bagi para seniman tradisi, sehingga gerakan kesenian tradisi diharapkan mampu lebih ekspresif.

“Saya kira tantangan jaman ini musti dijawab,” kata Budi.

Tak dapat dipungkiri peradaban terus berkembang, kesenian tradisi harus bertarung dengan perkembangan jaman yang tak dapat dihindari. Karenanya Seniman Ludruk  Cak Noyo  menilai perlunya wadah bagi para seniman, setidaknya untuk melakukan inovasi suguhan kesenian agar tidak terjebak dalam corak yang tidak inovatif.

“Kesenian tradisi sudah harus berani melakukan perubahan sesuai dengan jamannya,” kata Cak Noyo.

Sementara Ari Arjes menginginkan agar Pasentran mampu menjadi wadah bagi para seniman tradisi dalam melakukan eksperiman kesenian dan kebudayaan.

“Saya sengaja menciptakan tarian Gedruk Jemberan sebenarnya ingin agar kesenian Jember punya karakter yang inovatif,” kata Ari Arjes.

Pernyataan Ari Arjes mendapat dukungan Agung Suyo Alam yang juga menghendaki agar Pasentran mampu mengarahkan arah gerak seniman dalam mewujudkan harapannya.

“Saya kira Pasentran harus terus bergerak menyatukan tekad dalam tekanan jaman,” tuturnya.

Sedangkan Pendiri Kesenian Pencak Silat Panji Nusantara Cak Nung lebih menghendaki agar Pasentran menjadi lembaga yang bisa menyelesaikan salah tafsir diantara pelaku seni.

“Sehingga kesenian menjadi kekuatan besar dalam melakukan gerakan kebudayaan,” tandasnya.

Inisiator Jember Ideal Dima Akhyar  bersepakat agar Jember Ideal bisa menjadi rumah yang nyaman bagi seniman tradisional  dalam mengikuti jaman yang terus berubah.

“Melalui Jember Ideal mari kita bangun kesenian yang tidak sekedar diekspresikan, tetapi lebih adaptif dan mampu menjawab tantangan jaman,” pungkasnya. (*)

%d blogger menyukai ini: