Beranda blog Halaman 2

Seniman Jember Tunaikan Niat Gelar Romansa Bedadung

0

Jember_ Jempol. Lantunan mocopatan menyibak relung malam, diantara langkah kaki yang menyapa rerumputan dan semak belukar. Suasana malam itu, Rabu (4/12) menjadi sangat mistis, diantara cahaya obor yang menerangi.

Dkj
Ketua DKJ Eko Suwargono sedang memberi wejangan di tengah Sungai Bedadung

Tampaknya  Pegiat Pewaris Budaya Leluhur  dibawah naungan Dewan Kesenian Jember sedang mencoba bersenyawa luruh  dengan alam Sungai Bedadung.

Ditengah Sungai Bedadung, terdengar tabuhan gending rancak musik gandrung bersenyawa dengan gemericik aliran sungai Bedadung, menandakan seolah sang penguasa sungai menyambut kerinduan  para seniman menyatu dengan tarian semesta.

Sejenak suasana tegang, dari rerimbunan hutan bambu, tiba – tiba muncul sesosok leak yang menari – nari mengikuti irama tabuhan gandrung.

Sosok leak itu turun menyeberangi sungai, lalu menyembah kepada tiga putri penari gandrung yang berdiri berjajar, seperti mohon ijin memberkati tumpeng yang tersedia.

Usai memberkati tumpeng, leak itupun segera menghilang menuju rerimbunan hutan bambu, bayangannya lenyap dalam kegelapan.

Suasana kian menghentak – hentak, saat Soni Suharsono  “Cimot” membacakan puisi berjudul “Ruh Bedadung. Bertelanjang dada Soni, sambil memegang batu di kedua tangannya yang diadu menimbulkan bunyi eksotis.

“Gelang – gelang Kali kali….,” Soni seolah sedang berdialog dengan para penguasa Kali Bedadung.

Lalu, disambung dengan lantunan lagu para penari gandrung yang saling bergantian.

Sungguh, malam itu terasa sangat eksotis. Sebuah suguhan para pegiat seni, dibawakan diatas panggung setingan alam Kali Bedadung.

Ketua DKJ Eko Suwargono menuturkan kegiatan itu merupakan agenda DKJ yang sebenarnya sudah teragenda melalui Pemerintah Kabupaten Jember. Mestinya, giat itu akan dilaksanakan pada tanggal 15 september 2019.

“Menjadi tak penting, apakah giat ini direstui pemkab Jember atau tidak, yang penting sudah bisa dilaksanakan,” tuturnya.

Eko berkeinginan kelak kreativitas para seniman Jember dapat menjadi buah karya yang bisa dinikmati oleh banyak kalangan.

Kata Eko, Sungai Bedadung merupakan Icon yang tak dapat dipisahkan dari Mitos Jember.

“Masih ada lagi rangkaian kegiatan DKJ yang sengaja untuk  memperkenalkan kepada segenap kalangan tentang Jember,” tegasnya.

Dewan Pakar DKJ Dr Ikhwan Setyawan menegaskan, giat Romansa Bedadung merupakan upaya membayar niat yang harus dilaksanakan.

“Saat saya melarung sesaji, saya sengaja membacakan ayat suci dan mantra khas Jawa. Biarlah, siapapun yang menghadang niat kami untuk melaksanakan Selamatan Sungai Bedadung, semoga alam memberikan keadilan,” sergahnya.

Lalu malam itu sejenak menjadi hening seolah seluruh pepohanan, batu – batu, air kali terdiam sejenak. Mengiringi langkah para pegiat kebudayaan Jember meninggalkan panggung alam Sungai Bedadung. (*)

Pendopo Kecamatan Balung Juga Menghawatirkan, Jumadi Desak DPRD Jember Serius

0

Jember_Jempol. Pasca Ambruknya Pendopo Kecamatan Jenggawah  mendorong banyak orang menduga hal yang serupa sangat mungkin terjadi di Kecamatan lainnya.

Papan N
Papan Nama Proyek

Kecurigaan itu disampaikan Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto disela – sela pernyataannya saat menanggapi ambruknya pendopo kecamatan Jenggawah.

“Kabarnya pendopo kecamatan Balung garapannya juga mencurigakan, tapi kami belum  periksa,” katanya.

Balung
Eternit plafon sudah terjatuh

Dugaan itu dikuatkan pernyataan Aktivis Jember Jumadi, yang menemukan beberapa fakta konstruksi pendopo kecamatan Balung yang sudah mengalami  kerusakan dibeberapa titik, diantaranya : usuk hampir patah, plafon eternit runtuh, pemasangan skrup  plafon eternit banyak lepas, terlihat ada gelombang atap diduga reng usuk tipis dan lebar.

Jumadi  menyebut kondisi konstruksi Pendopo Kecamatan Balung mencurigakan dan bukan tidak mungkin akan mengalami nasib serupa Kecamatan Jenggawah.

Terlihat dari Papan nama yang terpasang nilai proyek sebesar Rp 1,7 Milyar, digarap mulai tanggal 24 Juli 2019 dan diharapkan selesai tanggal 21 Nopember 2019. Pelaksana CV Tunggal Pratama.

“Sepertinya digarap orang yang sama dengan yang garap pendopo kecamatan Jenggawah,” kata Jumadi.

Karenanya Jumadi meminta Bupati Jember serius menangani permasalahan penggunaan APBD yang dialokasikan untuk pembangunan.

Jumadi menilai banyak pendopo kecamatan yang sebenarnya belum perlu direnovasi, karenanya kondisinya masih baik.

“Kalaupun dipaksakan harus direnovasi setidaknya dalam pengerjaannya tidak menyimpang dari RAB nya,” tegasnya.

Aktivis yang dikenal kritis itu mendesak agar DPRD Jember segera mengklarifikasi kepada segenap pihak terkait agar peristiwa serupa tidak terjadi pada pembangunan di tempat lainnya.

“Saya berharap DPRD Jember serius menangani masalah ini, karena bukan saja akan merugikan keuangan negara, tetapi juga terbuka kemungkinan akan menimbulkan korban jiwa,” tandasnya.

Sementara, Camat Balung Widayaka SH saat dikonfirmasi melalui WA belum memberikan jawaban. (*)

Dialog Jember Ideal Ke 21 Melahirkan Paguyuban Seni Tradisi Nusantara

0

Jember_Jempol. Menjawab kehausan seniman tradisi bereskpresi di tengah tantangan jaman, Dialog Silaturahmi Jember Idea ke.XXI mencoba  mewadahi dengan menggagas berdirinya  Paguyuban Seniman Tradisi Nusantara (PasenTraN). Selasa(3/11).

Dialog yang diselenggarakan di Rumah Tokoh Kesenian Kecamatan Panti  Satoha itu diawali dengan pertanyaan Ansori yang ingin tahu lebih jauh tentang gagasan Pasentran.

“Saya kan baru mengikuti kegiatan dialog hari ini, saya ingin tahu lebih banyak maksud dan tujuannya,” tanya Ansori.

Lalu dialog mengalir seperti tabuhan rancak gending,  seolah menjawab kegelisahan  seniman tradisi dalam perjalanan  menemukan muaranya.

“Kita berhimpun dengan niatan positif membangun kebersamaan diantara seniman tradisi,” kata Satoha.

Budi Harijanto mencoba  mengarahkan dengan muneruskan gagasan   perlunya didirikan wadah bagi para seniman tradisi, sehingga gerakan kesenian tradisi diharapkan mampu lebih ekspresif.

“Saya kira tantangan jaman ini musti dijawab,” kata Budi.

Tak dapat dipungkiri peradaban terus berkembang, kesenian tradisi harus bertarung dengan perkembangan jaman yang tak dapat dihindari. Karenanya Seniman Ludruk  Cak Noyo  menilai perlunya wadah bagi para seniman, setidaknya untuk melakukan inovasi suguhan kesenian agar tidak terjebak dalam corak yang tidak inovatif.

“Kesenian tradisi sudah harus berani melakukan perubahan sesuai dengan jamannya,” kata Cak Noyo.

Sementara Ari Arjes menginginkan agar Pasentran mampu menjadi wadah bagi para seniman tradisi dalam melakukan eksperiman kesenian dan kebudayaan.

“Saya sengaja menciptakan tarian Gedruk Jemberan sebenarnya ingin agar kesenian Jember punya karakter yang inovatif,” kata Ari Arjes.

Pernyataan Ari Arjes mendapat dukungan Agung Suyo Alam yang juga menghendaki agar Pasentran mampu mengarahkan arah gerak seniman dalam mewujudkan harapannya.

“Saya kira Pasentran harus terus bergerak menyatukan tekad dalam tekanan jaman,” tuturnya.

Sedangkan Pendiri Kesenian Pencak Silat Panji Nusantara Cak Nung lebih menghendaki agar Pasentran menjadi lembaga yang bisa menyelesaikan salah tafsir diantara pelaku seni.

“Sehingga kesenian menjadi kekuatan besar dalam melakukan gerakan kebudayaan,” tandasnya.

Inisiator Jember Ideal Dima Akhyar  bersepakat agar Jember Ideal bisa menjadi rumah yang nyaman bagi seniman tradisional  dalam mengikuti jaman yang terus berubah.

“Melalui Jember Ideal mari kita bangun kesenian yang tidak sekedar diekspresikan, tetapi lebih adaptif dan mampu menjawab tantangan jaman,” pungkasnya. (*)

Hanya Dima Akhyar Yang Mengambil Formulir Bacabup Di DPC PPP Tanpa Diwakilkan

0

Jember_Jempol. Terus mencoba melakukan komunikasi politik,  usai  mendaftar melalui DPC Partai Gerindra dan DPD PDIP Jawa Timur, Dima Akhyar juga mendaftar  sebagai Bakal Calon Bupati Jember 2020 melalui DPC PPP Jember. Selasa (3/12/19).

Menurut Wakil Sekretaris DPC PPP Jember Muhlis,  diantara 9 Bacabup lainnya yang sudah mengambil formulir, Dima  merupakan  satu – satunya Bacabup yang mengambil formulir sendiri tanpa diwakilkan.

Bacabup ‘2020 yang sudah mengambil Formulir :
1. H. Hendy
2. H. Rasyid
3. Ra Khozin
4. Achmad Anis
5. Fian Cv. Syam
6. Cak Salam
7. H. Badri Hamidi
8. Mahmud
9. Dima Akhyar

“Betul, mas Dima yang istimewa mengambil formulir sendiri,” katanya.

Ditanya soal pengambilan formulir Bacabup di DPC PPP Jember yang dilakukannya sendiri, tanpa diwakilkan kepada orang lain, Dima mengaku memang sudah seharusnya menempatkan partai sebagaimana mestinya.

“Saya kan menjalankan dawuh Kanjeng Rasul, kalau bisa dilakukan sendiri kenapa harus diwakilkan ?,” Katanya diplomatis.

Lebih lanjut, Dima berharap dapat mengkonsolodir seluruh kekuatan partai politik di Kabupaten Jember menjadi kekuatan strategis dalam upaya membangun Jember bersama – sama.

“Ini merupakan upaya terus menerus untuk melakukan komunikasi politik, terlepas apapun keputusan partai kita akan hormati,” katanya.

Rencananya, Dima akan mengembalikan formulir besok (Rabu, 4/11). (*)

Pendopo Kecamatan Jenggawah Ambruk Diduga Sarat Penyimpangan, David : “Ini Warning Keras Buat LPSE Jember”

0

Jember_Jempol. Megaku temukan fakta ketidak beresan atas ambruknya bangunan  Pendapa Kantor Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember, sekitar jam 09.00 pagi Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto menduga ada ketidak beresan dalam pelaksanaan proyek itu. Hal itu disampaikan David melalui phone seluler kepada Jempol. Selasa (3/12/2019).

Pendopo Kecamatan Jenggawah yang ambruk

“Ini Warning keras kepada LPSE Jember,” sergahnya.

Tercantum di papan proyek,  seharusnya proyek  selesai   tanggal 21 November 2019. Prakteknya, sudah lewat jatuh tempo, bangunan Pendapa  masih belum selesai.

“Setelah menyaksikan pendopo Kecamatan Jenggawah yang ambruk, kami  prihatin. Pembangunan  seharusnya sudah  100 persen pada tanggal 21 November 2019,  kenyataanya baru siap sekitar 70 persen,” keluhnya.

David yang turun bersama lima Angota Komisi C DPRD Jember, mengaku tidak terlalu paham soal konstruksi, karenanya pihaknya merasa perlu untuk bertanya kepada semua pihak terkait, diantaranya Dinas PU Bina Marga, Dinas Cipta Karya, Konsultan Perencana, Konsultan  Pengawas, termasuk TP4D, yang dinilai David harus bertanggung jawab atas ambruknya bangunan itu.

“Insyaallah besok (Rabu, 4/11) kami akan berkoordinasi dengan Kejaksaan Negeri Jember. Selanjutnya, minggu depan kami akan agendakan mengundang segenap pihak terkait itu,” kata David.

Lebih lanjut,   David menduga ada ketidak beresan dalam  pengerjaan proyek, sudah terjadi jual beli proyek.    Pemenang proyek tercantum di papan proyek atas nama  PT Andaya Breka Konstruksi, tetapi pelaksananya bukan PT tersebut.

”Pemilik PT itu katanya orang luar kota, tetapi yang melaksanakan orang Jember. Tampaknya proyek ini di subkon kan. Ini gak bener,”  Sergahnya.

Disamping meminta untuk memblack list PT nya agar tak lagi ikut tender pada periode berikutnya, David juga meminta agar ambruknya bangunan itu diproses secara hukum.

“Tipikor Polres Jember tadi juga ikut turun, TKP sudah di police line,” katanya.

Korban
Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal saat menolong korban

Dalam peristiwa itu tidak ada korban jiwa, hanya seorang tukang yang sedang menurunkan semen,  Moh Havid ( 25)  Warga Desa  Jubung Kecamatan  Sukorambi, mengalami luka disekitar punggung dan cedera kaki terkena besi galvalum.

Korban segera dilarikan ke  Puskesmas Jenggawah untuk mendapat penanganan medis. (*)

Kongres GMNI KE XXI Ricuh Diduga Disusupi Oknum KNPI

0

Ambon _ Jempol. Kongres kemaritiman GMNI  ke XXI  yang di selenggarakan di Ambon berlangsung ricuh. Sejak sidang pleno 1 dibuka pada tanggal 28 november, sudah terjadi kericuhan. Pasalnya,  diduga ada oknum berkepentingan  KNPI pusat  mengintervensi forum musyawarah tertinggi di organisasi berlogo banteng itu, untuk memenangkan salah satu Calon Ketua Umum DPP GMNI.

“Kongres GMNI ke XXI  sudah disusupi kepentingan sejak awal. Ada oknum KNPI pusat yang berusaha mengendalikan panitia dan tuan rumah kongres” ujar Irham Fidaruzziar, ketua DPC GMNI   Jember.

Kericuhan memuncak setelah sejumlah peserta kongres, dari 7 DPC definitif  tidak diperbolehkan masuk ke arena oleh panitia sebelum agenda pemilihan pimpinan sidang pleno dan laporan pertanggungjawaban DPP GMNI.

“Banyak peserta yang dilarang masuk, padahal sudah registrasi. Ini kan tidak adil, dan kenapa ditahan saat mau pemilihan pimpinan sidang? Sangat politis sekali,” lanjut Irham

Selain itu Irham menilai banyak oknum panitia keamanan yang melakukan tindakan kekerasan saat sejumlah peserta hendak walkout dari forum.

“Kami ini kan peserta, punya hak dalam forum. Kami mau walkout itu kan hak kami. Tapi panitia malah menghalangi, kemudian memukul serta mengancam akan menghabisi kami diluar. Kami walkout karena kawan kami banyak yang dilarang masuk,” pungkas irham

Kongres sebagai forum tertinggi GMNI diharapkan bisa melahirkan gagasan-gagasan yang memajukan organisasi dan berpihak pada kepentingan rakyat marhaen

“Ketua panitia nasional dan panitia lokal sudah gagal menyelenggarakan kongres secara orgabisatoris. Kongres ini harusnya berbasis ide dan gagasan, bukan kepentingan sesaat, apalagi sampai melakukan kekerasan. Setelah ini kami akan berkonsolidasi lagi dan akan menyatakan sikap,” tandas irham. (*)

Suara Gending Di Hotel Rembangan Lahirkan OPERA VAN JEMBER

Jember_Jempol. Mendayu dayu rancak suara tabuhan gending menyelinap dibalik kesunyian kawasan Hotel dan Wisata Rembangan Jember. Sabtu (30/11/19).

Suara tabuhan itu menyatu dengan tembang – tembang Jawa, bersenyawa dengan desiran angin dan pelukan dingin malam. Terasa menjadi mistis.

Tampaknya Dialog Silaturahmi Jember Idea ke 20, dikemas bersama sekumpulan seniman Ludruk yang  sedang berkhidmat melakukan eksperimen pertunjukan.  Tokoh seniman ludruk Ari Arjess, Kasiyono, Libyanto dan Satoha sepertinya sedang membangun dialog dengan alam.

Bisikan alam barangkali yang kemudian menginspirasi lahirnya Komunitas  “OPERA VAN JEMBER”

“Kami harus hidup ditengah gempuran globalisasi,” desah Ari Arjess.

Diakui Ari Arjess bahwa Kesenian Tradisi masih bertahan dengan mengandalkan kemandirian dan inovasi para pelakunya.

“Kalaupun setiap gelaran pertunjukan kami harus merugi, itu sudah resiko,” katanya.

Sebagai pendidik, tentu saja Kasiyono ingin tampilan kesenian Ludruk bukan saja menjadi tontonan melainkan mampu menjadi tuntunan.

Biyen ono kidungan Cak Durasim
Pagupon Omahe Doro, melok nipon tambah soro…,” Kasiyono mencoba membangun romantisme heroik tokoh Seniman Ludruk era Penjajahan Jepang Cak Durasim yang mati ditembak Jepang.

Api semangat itulah yang masih tertanam dalam nilai- nilai  pertunjukan ludruk.

Karenanya Tokoh muda ludruk Libyanto terus menerus bergerak mengembangkan kesenian ludruk seperti dipesankan orang tuanya.

“Salah satu pesan bapak saya, agar tak berhenti berkesenian  dengan mengembangkan dan memperkenalkan Ludruk kepada masyarakat,” katanya.

Seperti dibuktikannya malam itu, suguhan pertunjukan yang diawali dengan kidung jula juli yang dibawakan Kasiyono dan Ari Arjes, lalu lanjut dengan kisah Sarip Tambak Yoso yang dimainkan bebas, bahkan hampir tanpa persiapan matang, ternyata mampu memukau.

Diantara hadirin, ada sepasang mata yang hampir tak berkedip menyimak dari awal hingga ahir acara. Inisiator Jember Idea Dima Akhyar, sesekali tertawa lepas mendengar kidungan yang menggelitik.

“Ini lah barangkali yang dimaksud Bung Karno dengan Berbudaya dalam berkepribadian,” katanya.

Dima merasa bahwa kesenian tradisi seharusnyalah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari praktek kehidupan dalam berbagai aspeknya.

“Bagaimana mewujudkannya, sudah tentu perlu kebersamaan, gotong royong,” pungkasnya. (*)

Injury Time, Dima Akhyar Mendaftar Sebagai Bacabup Jember Melalui DPD PDI Pejuangan Jatim

0

Jember_Jempol. Hari terahir pendaftaran  Bakal Calon Bupati Jember, tahap ke 2  melalui DPD PDI Perjuangan propinsi Jawa Timur Dima Akhyar masih sempat mendaftar sekaligus mengembalikan berkas. Sabtu (30/11).

“Kami baru dengar semalam (Jum’at Malam, 29/11) atas kesepakatan teman – teman berangkat juga mendaftar ke DPD PDI Perjuangan,” kata Dima yang dihubungi Jempol melalui phone selulernya.

Semula, Kata Dima  memang ada informasi kalau PDI Perjuangan akan membuka pendaftaran tahap ke 2. Mendapat kabar dari pengurus PDI Perjuangan, pendaftaran tahap ke dua terahir  Sabtu 30/11.

Berkas Dima diterima Sekretariatan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Ibu Romi Yuli.

“Ya gak apa, injury time kami sudah menyerahkan berkas pendaftaran,” tuturnya.

Banyak  pendukungnya yang berharap Dima bisa berangkat dari PDI Perjuangan, seperti disampaikan  Agus Harianto alias Agus Kecap yang  berharap Dima masih bisa mendapatkan kesempatan bersama Partai berlambang banteng itu.

“Sebagai kader PDI Perjuangan tentu saja saya tunduk pada keputusan Partai, hanya saja jika mungkin, mas Dima diusung partai kami,” kata Agus.

Dima juga diantar dua pegiat sosial Jember, Ketua IBW Sudarsono dan Ketua ICC Nurdiansyah Rahman. Keduanya juga berharap Dima bisa ikut kontestasi Pilkada Jember tahun 2020 melalui PDI Perjuangan. (*)

Mengintip Perjalanan Anjangsana Dima Akhyar

0

Jember_Bangsalsari_Jempol. Malam itu, mereka duduk bersila di Musholla yang terbuat  dari bilik bambu beratap daun tebu. Bercengkrama akrab, saling berbagi sekenanya. Kamis malam (28/11).

Kaji Madhori, begitu warga di Kecamatan Bangsalsari mengenalnya. Diusianya yang sudah 70 an tahun, masih terlihat energik, penuh semangat. Tutur katanya lirih, tetapi kuat dan tajam.

“Tempat ini dulu bernama  Baitul Nikmah (maksudnya plesetan dari tempat pelacuran) lalu sekarang menjadi Baitul Makmur,” katanya berseloroh.

Lokasi seluas kurang lebih 1 ha itu kini terbangun lembaga pendidikan, yang didirikan Kaji Madhori hanya bermodal semangat dan doa.

Perlahan terwujud bangunan gedung yang cukup untuk Madrasah Ibtidaiyah, SMP Islam dan Pondok Pesantren. Tidak ada biaya dari pemerintah. Seluruhnya dibiayai dari kemampuannya sendiri.

“Saya mengawalinya dari modal nol rupiah,” katanya menyakinkan.

Rupanya Kaji Madhori sedang berusaha menyakinkan pria muda yang duduk bersila dihadapannya.
Dima Akhyar tampak sungguh – sungguh mendengarkan petuah Kaji Madhori, tentang bagaimana pengalaman hidupnya selama ini.

“Jika Allah sudah berkehendak segala sesuatu yang tidak mungkin, maka  akan menjadi mungkin,” petuahnya.

Dima lebih banyak  hanya menjadi pendengar setia. Sambil sesekali bertanya, perihal yang tak dipahaminya.

Pengalaman hidup yang dituturkan Kaji Mudhori memang sepertinya bisa menjadi penyemangat dan teladan bagi anak – anak muda.

Tak terasa malam sudah semakin larut. Anak anak muda yang menyertai Dima sudah ada yang tergeletak kelelahan.

Hingga menjelang subuh, mereka asyik bercengkrama. Meski perbincangan malam itu sudah harus diahiri. (*)

Peringati Hari Jadi Ke 117 Desa Curahlele Gelar Festival Gunungan

0

Jember_Curahlele_Jempol. Tak banyak desa yang mengerti  hari jadi desanya, Desa Curahlele Kecamatan Balung mencoba mengenang Hari Jadinya yang ke 117, dengan menggelar Festival Gunungan Sedekah Bumi.  Kamis (28/11)

Kepala Desa Curahlele Abdul Hamid mengatakan peringatan Hari Jadi Desanya itu baru pertama kali digelar dan mendapat perhatian dari masyarakat desa dan sekitarnya.

Desa Curahlele
Abdul Hamid, Kepala Desa Curahlele

“Sebenarnya acara ini menjawab keinginan masyarakat desa Curahlele yang sudah lama ditunggu – tunggu,” tuturnya.

Sekitar 60 persen masyarakat Desa Curahlele hidup dari hasil pertanian, berkeinginan mengekspresikan rasa syukurnya dengan cara kebudayaan yang sudah lama ditinggalkan.

“Gunungan Sedekah Bumi terbuat dari susunan berbagai macam hasil bumi, seperti sayuran, buah – buahan, palawija, dan beragam pala pendem yang dihasilkan dari hasil bumi desa setempat,” katanya.

Gunungan itu diarak sepanjang 1 km, berikut tumpeng yang dibawa kaum ibu,  diiringi musik hadrah. Seluruh lapisan warga dari 29 RT, bersama masyarakat terlibat aktif memeriahkan acara itu.

“Acara ini akan kita evaluasi, agar tahun depan dapat kita perbaiki dan lebih meriah lagi,” ujarnya.

Warga Desa Istiyana Warga Desa Curahlele mengaku memang baru pertama kali gelaran sedekah bumi dilaksanakan.
Istiyana
Istiyana, Warga Desa Curahlele

“Hasil bumi yang dikirab semua berasal dari hasil bumi kami sendiri,” katanya.

Curahlele
Warga Desa Curahlele sedang berebut gunungan

Diahir acara, gunungan yang terdiri dari buah dan sayur jadi rebutan mayarakat. Acara jadi kelihatan semakin meriah.  (Basu)

%d blogger menyukai ini: