20.6 C
East Java

Menanam 1053 Pohon, Harmoni Tri Hita Karana: Aksi PDI Perjuangan Jember untuk Alam dan Generasi Mendatang

JEMBER, JEMPOLINDO.ID – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember menanam 1053 pohon, di Desa Suco Kecamatan Mumbulsari dan Desa Paseban Kecamatan Kencong, pada Minggu (18/01/2026).

Aksi itu dilaksanakan seluruh jajaran Pengurus DPC PDIP Perjuangan Kabupaten Jember, bersama masyarakat, dalam rangka peringatan HUT PDIP ke-53.

Melalui Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember Widarto menjelaskan, bahwa kegiatan itu sebagai wujud kecintaan terhadap ibu Pertiwi.

“Penanaman pohon ini kita lakukan dari hulu ke hilir. Hulunya di Desa Suco Kecamatan Mumbulsari, sedangkan hilirnya di Desa Paseban Kecamatan Kencong,” ujarnya.

“Untuk kegiatan di Desa Paseban, selain menanam pohon, juga menebar ribuan benih ikan,” imbuhnya.

Sengaja memilih jumlah 1053 pohon, yang bermakna, 1.000 pohon melambangkan seribu harapan untuk masa depan ekologis yang lestari dan harmonis bagi anak cucu.

“Sedangkan 53, karena bertepatan dengan peringatan HUT PDI Perjuangan yang ke 53,” ujarnya.

Kegiatan ini, kata Widarto bukan merupakan yang pertama dan terakhir. Sebelumnya juga sudah pernah, dan akan terus dilakukan.

“Selain itu, kegiatan ini merupakan hasil rakernas PDI Perjuangan (10-12 Januari 2026), yang mengamanatkan agar terus merawat alam,” katanya.

Melalui pernyataan tertulisnya, Widarto menjelaskan, bahwa berdirinya Negara Republik Indonesia, denyutnya selaras dengan prinsip Tri Hita Karana (Tiga Penyebab Kebahagiaan)

“Prinsip ini menjadi fondasi kehidupan yang kokoh, menjaga keseimbangan suci,” katanya.

Tiga prinsip itu, diantaranya:

  • Parahyangan: Hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  •  Pawongan: Hubungan manusia dengan sesama dalam masyarakat.
  •  Palemahan: Hubungan manusia dengan alam semesta.

“Ini adalah sebuah harmoni kosmis yang harus menjiwai setiap lini pemerintahan, pembangunan, dan peradaban. Bumi adalah tanah suci yang harus dirawat,” ujarnya.

Setiap pembangunan, aktivitas pertanian, dan kemajuan kota, menurut Widarto harus dilandasi semangat keharmonisan dengan alam.

“Di mata kita, sungai adalah doa yang mengalir, gunung adalah meditasi yang membatu, dan hutan adalah kitab suci yang hidup,” katanya.

Kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah penciptaan kesadaran kolektif untuk jangka panjang.

“Ini adalah kemampuan kita untuk melihat dampak satu dekade ke depan dan mengambil langkah selaras untuk mewujudkannya hari ini,” ujarnya.

Seruan untuk Bergerak Bersama

Widarto mengajak seluruh elemen masyarakat, untuk tidak hanya menanam pohon, tetapi juga:

  • Menanam budi pekerti untuk membangun karakter bangsa.
  • Menanam akal sehat dalam mengelola pembangunan.
  • Menanam keberanian untuk membela kelestarian alam.
  • Menanam tanaman kehidupan sebagai warisan untuk generasi mendatang.

“Setiap tunas yang kita tanam hari ini adalah investasi untuk kehidupan yang lebih baik, udara yang lebih bersih, dan ekosistem yang lebih seimbang di Jember dan Indonesia,” pungkasnya. (#)

Pewarna: Selamet Hariyadi
Editor: Miftahul Rachman

- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img