ISEI Cabang Jember Gelar Webinar Bertajuk : “Fase Baru Daya Saing UMKM Jawa Timur”

0
252

Jember_Jempol. Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Jember menyelenggarakan ISEI Webinar UMKM Series #1 dengan tema “Fase Baru Daya Saing UMKM Jawa Timur”. Tema ini diangkat sebagai respon ISEI Cabang Jember terhadap sektor usaha mikro kecil

menengah (UMKM) yang menjadi sektor usaha yang paling terimbas pandemi Covid-19. Jumat, 3 Juli 2020.

Mengawali acara, Wakil Ketua ISEI Cabang Jember, Dr. Moh. Adenan, MM., mewakili Ketua ISEI Cabang Jember memberi sambutan selamat datang kepada seluruh peserta yang mendaftar hingga 400 orang lebih. Dr. Moh. Adenan menyampaikan komitmen ISEI Cabang Jember untuk ikut mendorong peran sertanya dalam perumusan-perumusan kebijakan, terutama untuk menjawab berbagai tantangan perekonomian, termasuk didalamnya turut membantu UMKM untuk bangkit di masa pandemi.

Selanjutnya, Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur, Dr H Emil Elestianto Dardak M.Sc melalui rekaman video keynote speech, mengapresiasi isu yang diangkat dalam ISEI Webinar
UMKM Series #1 mengingat pertanyaan yang banyak menguak saat pandemi adalah “Bagaimana
nasib UMKM?”.

Menurut Wagub Jatim salah satu tantangan yang dihadapi
saat ini adalah keterbatasan kapasitas modal untuk menahan gejolak dan tekanan dari perlambatan ekonomi di masa pandemi.

Untuk itu, ada tiga pilihan yang harus diambil UMKM. Pertama, mengedepankan efisiensi.
Kedua, menyesuaikan harga. Ketiga, diversifikasi sumber pendapatan.

Wagub menyampaikan
bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur telah menerbitkan Peraturan Gubernur
(Pergub) untuk merevisi konsep dana bergulir. Program ini bertujuan untuk memberi kekuatan modal bagi UMKM kelompok atau individu dengan konsep pinjaman yang dirancang berbunga sangat rendah, tanpa jaminan, dan diberi insentif beberapa bulan pertama untuk tidak membayar cicilan pokok pinjaman.
Selanjutnya, Narasumber Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember, Hestu Wibowo, memaparkan perkembangan ekonomi global.

Dijelaskannya, kasus Covid-19 yang telah menginfeksi lebih dari 4,7 juta jiwa penduduk dunia secara nyata memengaruhi pula pendapatan
domestik bruto (PDB) global.

Pertumbuhan ekonomi triwulan I-2020 di banyak negara menurun
tajam seiring meluasnya pandemi Covid-19. Dengan proyeksi kontraksi ekonomi berlanjut hingga
triwulan III-2020, Bank Indonesia memprediksi ekonomi global tahun ini tumbuh negatif 2,2%.

Survei BI Jember dengan wilayah kerja Se-Eks Karasidenan Besuki dan Lumajang (Sekarkijang)
menunjukkan terjadi penurunan konsumsi rumah tangga dan penurunan kinerja korporasi.

Korporasi dan UMKM melakukan kebijakan merumahkan tenaga kerja untuk sementara. Sekitar
30% korporasi merumahkan tenaga kerja dengan jangka waktu 3 bulan (67%).

Sedangkan UMKM
melakukan kebijakan merumahkan tenaga kerja sebanyak 33% dengan jangka waktu 3 bulan (60%). Berdasarkan hasil survei, 33% UMKM masih sanggup mempertahankan tenaga kerja dalam waktu 2 bulan ke depan selama wabah Covid-19 belum berakhir.

Selanjutnya, beberapa korporasi di Sekarkijang masih mampu membiayai kegiatan produksi/operasional hingga 3 bulan kedepan (20%). Bahkan, ada yang masih mampu membiayai hingga 1 tahun ke depan (10%). Sementara itu, ketahanan UMKM relatif pendek yang sebagian besar hanya mampu membiayai kegiatan produksi/operasional sampai dengan 2 bulan ke depan (40%).

Berdasarkan hasil survei, korporasi maupun UMKM butuh waktu untuk kembali pada kapasitas normal jika berhenti beroperasi. Jangka waktu yang dibutuhkan paling cepat adalah 1 bulan dan paling lama 1-2 tahun, bergantung dari kegiatan usaha perusahaan/UMKM.

Terkait dengan kinerja perbankan di Sekarkijang sampai dengan Mei 2020, juga mengalami
penurunan. Hal ini tercermin dari perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit rumah tangga.
Namun demikian, penyaluran kredit kepada korporasi terpantau tumbuh 7,78% (yoy).

Risiko kredit terpantau masih baik atau di bawah threshold, yakni sebesar 2,06% meskipun meningkat
dibandingkan bulan sebelumnya 1,93%.

Narasumber Pemimpin PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Cabang Jember, Irfan
Ardianto, memaparkan program Permodalan Nasional Madani (PNM) Membina Ekonomi Keluarga
Sejahtera (MEKAAR) untuk membantu peningkatan kesejahteraan nasabahnya.

PNM MEKAAR adalah layanan pemberdayaan berbasis kelompok bagi perempuan pra-sejahtera dengan pembiasaan budaya menabung, peningkatan kerukunan kekeluargaan dan gotong royong serta indoktrinasi usaha untuk jujur, disiplin, dan kerja keras.

PNM MEKAAR dibentuk dengan anggota 10-30 orang perempuan pra-sejahtera. Mereka secara pekanan melakukan pertemuan kelompok. PNM memberi pembiayaan Rp2-5 juta kepada kelompok-kelompok tersebut secara bertahap untuk usaha produktif, tanpa jaminan, dan menerapkan metode tanggung renteng untuk usaha dan pengembaliannya.

Selain MEKAAR, PNM juga memiliki program Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) berupa layanan pembiayaan modal kerja/investasi kepada pelaku usaha mikro kecil. Dua program ini memang membidik UMKM. Namun demikian, modal yang diberikan PNM sebenarnya bukan hanya modal finansial. Ada tiga jenis modal yang diberikan PNM. Yaitu, modal finansial melalui pembiayaan MEKAAR dan ULaMM. Kemudian, modal intelektual melalui pelatihan dan pendampingan.

Dan terakhir, modal sosial berupa jejaring usaha, kepedulian sosial, empati, dan sinergi bisnis antar nasabah. Di masa pandemi Covid-19, Irfan Ardianto menyampaikan sejumlah tantangan yang dihadapi
nasabah PNM. Yaitu: menurunnya omset penjualan, sulitnya mendapat bahan baku, distribusi terhambat, minimnya saluran penjualan, terbatasnya pengetahuan pasar, dan rendahnya sumber daya manusia (SDM). Untuk itu, menyesuaikan situasi yang ada, PNM melaksanakan program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) Online dengan memberikan pelatihan kepada nasabah melalui daring, dimana nasabah tersebut tetap berada di rumah masing-masing.

Narasumber Pengamat UMKM sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Dr. Agus Luthfi, M.Si, memaparkan problematika UMKM secara umum. Diantaranya pencatatan aktivitas bisnis yang mengandalkan ingatan, pengelolaan keuangan bisnis bercampur dengan keuangan keluarga, belum maksimal dalam melakukan evaluasi perkembangan/kondisi usaha, dan laporan keuangan belum mengacu pada standar akuntansi yang berlaku (SAK-EMKM).

Selama pandemi, Agus Luthfi menyampaikan 56% UMKM mengalami penurunan profit.
Konsumen sekarang beralih terhadap e-commerce. Namun, hanya sekitar 6% UMKM yang siap memasuki e-commerce. Untuk itu, dibutuhkan leader yang mau terus berkembang dan memiliki entrepreneurship mindset mengingat krisis pandemi menimbulkan banyak perubahan.
Narasumber Ketua Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) Nusantara Cabang Jember, Rendra Wirawan, MM., memaparkan perkembangan stimulus fiskal untuk penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional yang masih menghadapi tantangan di level operasional dan proses administrasi.

Dalam rangka penguatan kelembagaan dan peningkatan daya saing UMKM, beliau menyampaikan sedikitnya tujuh langkah yang harus
dilakukan. Yaitu: penguatan kelembagaan koperasi dan UMKM, pemberdayaan sumber daya manusia, memfasilitasi permodalan, peningkatan teknologi atau digitalisasi, pengembangan
jaringan usaha, promosi, dan menciptakan iklim usaha yang produktif. (#)

Sumber : SIARAN PERS
No. SP-002/C-ISEI-Jember/VII/2020
tentang ISEI Webinar UMKM Series #1