Banyaknya Anak Yatim Karena Covid-19 Jadi Perhatian Risma 

  • Bagikan
Banyaknya anak yatim
Foto : Kemensos Tri Rsmaharini, saat kunjungan ke Kecamatan Rambipuji.

Jember – Jempolindo.id – Banyaknya anak yatim karena Covid-19, menjadi perhatian Menteri Sosial RI  Tri  Rismaharini. Hal itu diungkapkan Risma saat kunjungan kerja bersama  Komisi VII DPRRI di Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember, Sabtu (29/08/2021) siang.

Lihat Juga :

Tampak hadir pada acara kunjungan Kemensos itu, Bupati Jember Hendy Siswanto,  Wabup Jember KH MB Firjaun Barlaman, Kadinsos Jember Widi Prasetyo, serta undangan lainnya. Pada kesempatan itu, Risma memberikan bantuan kepada anak yatim Piatu, eks OGDJ, Tuna Netra, diantaranya berupa Tongkat elektrik yang di lengkapi dengan gps, alat bantu dengar, mesin Jahit, kursi Roda, alat tambal ban dan kopresor, kambing, EPG serta berbagai macam sembako.Sedangkan, Bupati Jember Hendy Siswanto memberikan bantuan 10 paket untuk 10 anak yatim.

Data tentang anak yatim korban Covid-19 itu, berasal dari pengaduan dari daerah.  “Banyaknya pengaduan soal anak yatim yang karena Covid, orang tuanya kan mendadak, sehingga memang belum sempurna, sehingga  saya coba untuk mengumpulkan anggaran yang ada di kita. Alhamdulillah,  sehingga terkumpullah sekitar 24 milyar, dan insyaallah bisa 10.000 anak,” Ujar Risma.

Namun, kata Risma anggaran yang terkumpul hanya untuk anak yatim orang tuanya meninggal tiba-tiba. Harapannya, pada tahun 2022 seluruh anak yatim bisa mendapatkan bantuan. Sementara ini, data yang sudah masuk ke kementerian sosial, menurut Risma sudah mencapai 9.800 anak.

“Kecuali yang sudah masuk PKH, karena di PKH itu sudah ada unsur anak-anaknya, jadi kalau di PKH anaknya tiga, dia juga dapat tiga,” tegasnya.

Disamping itu, Risma juga berjanji akan bantu anak yatim yang ada di balai. Jadi bukan hanya yang tinggal bersama orang tuanya, tetapi juga anak yatim ada di balai -balai penampungan anak yatim.

“Nanti juga kami harapkan, balai bisa mengumpulkan anak -anak yatim,” ujarnya.

Sesuai dengan UU No 13 tahn 2011, kata Risma, bahwa Fakir miskin dan anak – anak terlantar itu datanya dari daerah.

“jadi nanti datanya lewat daerah, ya undang-undangnya ngomong gitu kok,” katanya seraya berseloroh.

Risma berharap sebenarnya data sudah masuh ahir bulan Agustus 2021,  hanya saja masih belum banyak yang  mengirim data, sehingga menurutnya akan dilakukan berdasarkan data yang sudah masuk.

“Ya kita lakukan sambil jalan saja, dari data yang sudah ada ya kita bantu,” ujarnya.

Dakam kesempatan yang sama, Risma juga mendatangi tiga anak yatim dan memberikan motivasi untuk tetap semangat. “Saya hidup dengan 70 anak yatim, ada yang jadi Jendral, ada yang jadi Paspampres, ada dokter, ada insinyur, artinya kalian tidak boleh menyerah,” katanya.

Risma juga mengatakan, dengan ditinggalkan oleh orang tua yang tiba-tiba jangan samapi syok. Karena, semua yang ada di dunia ini hanya titipan.

Sementara penerima bantuan kursi roda, Hodi Shodikin warga Wirowongso kecamatan rambipuji, yang kesehariannya sebagai tukang potong rambut merasa bersyukur, karena dengan adannya bantuan kursi roda, setidaknya bisa membantu aktifitas kerjanya.

Sebelumnya, Menteri Sosial Tri Rismaharini,  mengusulkan pagu anggaran tambahan Rp11 triliun lebih untuk penanganan anak yatim, piatu, dan yatim piatu, termasuk anak yang yang kehilangan orang tua akibat pandemi COVID-19, pada tahun 2022,  dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI dengan Agenda Pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) Tahun 2022 di Jakarta, Kamis 26 Agustus 2021.

Dalam rapat kerja yang dipimpin oleh Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto itu, para anggota dewan memahami pengajuan usul pagu anggaran tambahan Rp 11.124.227.112.000 untuk penanganan anak yatim piatu melalui Program ATENSI Anak. Kemensos berencana memberikan bantuan selama 12 bulan kepada empat juta anak yatim, piatu, dan yatim piatu pada 2022. (Arif R/Sofyan/Sugito)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *