BERITA JEMPOL POLITIK & PEMERINTAHAN SUARA RAKYAT TOKOH
Beranda / TOKOH / Kolaborasi Pemerintah, Perguruan Tinggi dan Petani Menjawab Tantangan Ketahanan Pangan Jember 

Kolaborasi Pemerintah, Perguruan Tinggi dan Petani Menjawab Tantangan Ketahanan Pangan Jember 

Jember, Jempolindo.id – Upaya penguatan ketahanan pangan di Kabupaten Jember menjadi sorotan utama, dalam pertemuan yang melibatkan perwakilan Pemerintah Kabupaten Jember, institusi pendidikan, dan kelompok tani, di Balai Desa Langkap, pada Senin (01/12/2025).

Baca juga:

Saat Pencairan BLTS KESRA 2025 di Desa Tisnogambar, Warga Penerima Bantuan Mbambung 

Perwakilan Politeknik Negeri Jember (Polije) Yosi Wibisono menegaskan komitmennya, untuk berperan aktif, sementara pihak Kelompok Tani menyuarakan apresiasi serta tantangan spesifik, terutama di sektor tebu.

Peran Baret Rescue Jember Membantu Perawatan Gadis Pengidap Gagal Ginjal   

Perwakilan Politeknik Negeri Jember (Polije) Yosi Wibisono menyatakan kesiapannya, untuk berkolaborasi, memandang isu ketahanan pangan bukan hanya tugas pemerintah atau Gapoktan semata.

Dengan sembilan jurusan dan 43 program studi, Polije akan mengaplikasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi terutama pengabdian untuk mendampingi petani.

Polije akan mempersembahkan varietas unggul kedelai hasil riset 4 tahun untuk Kabupaten Jember pada tahun 2026.

Polije juga memiliki pabrik pakan yang didirikan untuk membantu mitra, petani, dan industri.

“Mamun penyalurannya akan melalui UMKM untuk menghindari persaingan dan justru memperkuat UMKM,” kata Yosi.

Ketua Partai Golkar Jember Prihatin Tragedi Truk Sound Karnaval di Curahmalang

Tidak hanya pada masalah konvensional, Polije akan mendampingi proses pasca produksi, termasuk penyediaan Alat Teknologi Tepat Guna (TTG), sensor, hingga desain produk unggulan, misalnya, pengolahan hasil panen menjadi roti dan kemasan berorientasi pasar.

“Polije juga akan mengambil peran dalam isu pengelolaan sampah, termasuk plastik, dengan bermitra dengan perusahaan pengelola biji plastik untuk menciptakan konsorsium yang menghasilkan biji plastik,” ujar yosi.

“Dosen dan SDM Polije yang unggul akan diterjunkan langsung untuk mendampingi dan menyelesaikan masalah-masalah spesifik yang dihadapi Gapoktan di lapangan,”imbuhnya.

Apresiasi Pemkab dan Program Ketahanan Pangan

Mewakili Bupati Jember Muhammad Fawait, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Bambang Heri, menyampaikan apresiasi Bupati Jember, yang dalam acara tersebut tidak dapat hadir.

Pemerintah Kabupaten Jember menunjukkan komitmennya melalui Dinas Tanaman Pangan dengan berbagai program untuk memajukan pertanian.

AWAS! Aliansi Wartawan Anti Suap Resmi Dibentuk di Jember, Siap Jadi Kontrol Sosial

Indeks Pertanaman (IP) Sangat Baik,Khususnya di Desa Langkap, Kecamatan Bangsalsari, IP telah mencapai 2,5.

“Ini menunjukkan keberhasilan eliminasi permasalahan irigasi, pupuk, benih, dan hama,” kata Heri.

Melalui program andalan dari Kementerian yang pendanaannya signifikan, Kabupaten Jember telah mendapat alokasi 4.400 hektar tahun ini, yang merupakan angka  tertinggi di Jawa Timur, dan target akan ditingkatkan tahun depan.

“Pemkab Jember juga menyalurkan bantuan Alsintan (Alat dan Mesin Pertanian), bantuan benih di luar OPLA, dan pemberdayaan melalui pelatihan rutin seperti SL-PHT dan SL-GAP,” ujarnya.

Wilayah Kecamatan Bangsalsari dulunya dikenal sebagai basis kedelai, namun terjadi penurunan produksi, karena biaya operasional yang tinggi dibandingkan harga jual.

Kedelai tetap menjadi tantangan ke depan untuk mencapai ketahanan pangan yang tidak hanya berfokus pada padi dan jagung.

“Sebagian besar kelompok tani sudah mencapai kategori Madya dan ditargetkan terus ditingkatkan hingga mencapai kategori tertinggi, Utama, agar lebih mandiri,” ujarnya.

Jeritan Petani Tebu, Permintaan Sinergi dengan Pabrik Gula (PG).

Aspirasi kritis disampaikan oleh Nuruddin, perwakilan petani tebu, asal Desa Curahkalong.

Meski menyambut baik keterbukaan pihak terkait, ia menyoroti perlunya kehadiran dan sinergi dari pihak Pabrik Gula (PG).

Nuruddin menyampaikan Kebijakan seperti pembelian lepas SPT (Surat Pembelian Terputus) di era sebelumnya, dinilai lebih menguntungkan pedagang daripada petani.

“Mngakibatkan PG seperti PG Semboro lebih berpihak pada pedagang,” katanya.

Proses pendaftaran ke PG menjadi sulit, sering diarahkan ke KPTR (Koperasi Petani Tebu Rakyat) yang kantornya sering tutup.

Petani memohon agar peremajaan tebu yang sudah dilakukan secara mandiri oleh petani dapat dipertimbangkan atau “diklaimkan” sebagai bagian dari program, mengingat petani tebu lebih memahami kualitas varietas.

“Petani merindukan program seperti “Bongkar Ratoon” melalui KPTR yang bersifat non-bunga (pinjaman yang dipotong saat panen), yang terbukti sangat menguntungkan dan mendorong petani tebu mandiri, bahkan hingga memiliki puluhan hektar,” ujarnya.

Nurudin menegaskan bahwa petani tebu tidak akan tinggal diam dan siap menggugat jika peraturan yang merugikan, khususnya dari pihak PG, tidak diatasi.

“Petani berharap PG kembali menjadi mitra sejati seperti tahun-tahun sebelumnya,” tegasnya.

“Para petani percaya bahwa kehadiran langsung Bupati Jember, yang dikenal inovatif dapat mencari terobosan baru untuk menyelesaikan masalah tebu yang mendesak ini,” pungkasnya. (#)

  • Pewarta: Sundari 
  • Editor: Miftahul Rachman 
× Advertisement
× Advertisement