17 C
East Java

Refleksi HUT ke-81 RI di Desa Jubung: Menggugah Ashabiyah, Menjaga Semangat Juang di Tengah Kenyamanan

JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Momen peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Jubung Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember, pada Minggu (16/08/2026), bukan sekadar seremonial tahunan.

Kegiatan itu juga dimeriahkan dengan potong tumpeng, pembagian hadiah, dan door prize.

Tampak, masyarakat Desa Jubung, khususnya Warga Perumdim, berkumpul bersama melaksanakan tasyakuran, sebagai tanda syukur atas Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menariknya, dalam kegiatan ini tampak dua sosok Bakal Calon Kepala Desa Jubung tahun 2027, diantaranya Imam Zainuri dan Dhimas Krisdianto Putra.

Selaku Ketua Panitia Penyelenggara Dhimas Krisdianto Putra menyampaikan bahwa terselenggaranya peringatan HUT RI ke 81 di RW O4 Perumdim Desa Jubung, berkat gotong royong semua warga.

“Tanpa adanya semangat gotong royong, kegiatan ini tidak mungkin terselenggara,” ujar Dhimas dalam sambutannya.

Menurut Dhimas, peringatan HUT RI ini bukan sekedar seremonial belaka, melainkan momentum membangun solidaritas sosial, yang berbalut persaudaraan dan kebersamaan.

“Kedepan, semoga kita bisa menyelenggarakan kegiatan yang lebih meriah lagi,” tandasnya.

Sambutan Kades Jubung

Di tengah gegap gempita perayaan, terselip renungan mendalam tentang siklus sejarah dan posisi bangsa ini di dalamnya. Kehormatan dapat hadir dalam peringatan bersejarah ini.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Jubung Bhisma Perdana SH, mengajak seluruh hadirin merenungi kondisi bangsa saat ini.

Bhisma mengingatkan bahwa sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pendahulunya. Sebab, seperti pesan Bung Karno yang abadi, Jas Merah, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.

“Bangsa yang kehilangan jati diri karena melupakan sejarah akan hilang dari peradaban,” demikian pengingat Bhisma, yang menggema di tengah perayaan.

Siklus Bangsa dalam Pandangan Ibnu Khaldun

Menariknya, renungan yang disampaikan Bhisma ini mengutip pemikiran sejarawan besar abad ke-14, Ibnu Khaldun.

Dalam magnum opusnya, kata Bhisma, sang filsuf sejarah menemukan pola berulang, usia rata-rata sebuah peradaban hanya sekitar 120 tahun. Sebuah siklus yang terdiri atas lahir, tumbuh, berjaya, lalu melemah.

“Semua bermula dari Ashabiyah, sebuah konsep solidaritas sosial yang kokoh,” ujarnya.

Generasi pertama adalah sosok-sosok tangguh, sederhana, dan kompak.

“Dengan keberanian dan rasa senasib, mereka merebut kekuasaan lama dan mendirikan negara baru. Ini adalah tahap kemenangan,” ujarnya.

Generasi kedua mulai menikmati stabilitas.  Kekuasaan terpusat, kehidupan makin nyaman. Muncullah masa kemakmuran, ekonomi tumbuh, budaya maju, monumen berdiri.

“Namun kenyamanan perlahan mengikis ketangguhan. Solidaritas mulai luntur,” katanya.

Generasi ketiga lahir di tengah kejayaan. Mereka tak pernah merasakan pahitnya perjuangan pendiri negara. Penguasa mulai puas diri dan enggan berinovasi.

“Masuklah tahap pemborosan—kemewahan berlebihan, rakyat diperas, dan Ashabiyah nyaris hilang. Dari luar tampak megah, tapi fondasi mulai rapuh,” ujarnya.

Hingga akhirnya, muncul kelompok baru dengan solidaritas lebih kuat, membawa Ashabiyah segar, dan siklus pun berulang.

Ibnu Khaldun merangkumnya dengan indah: “Zaman sulit melahirkan orang kuat, orang kuat menciptakan masa jaya, masa jaya melahirkan orang lemah, dan orang lemah menciptakan zaman sulit.”

Indonesia di Persimpangan Sejarah

Hari ini, di tasyakuran HUT ke-81 RI, Bhisma mengajak merenung. Indonesia lahir dari Ashabiyah yang sangat kuat—dari darah, air mata, dan semangat juang para pahlawan.

“Kini, setelah melewati berbagai masa sulit dan masa jaya, muncul pertanyaan kritis, di generasi ke berapa kita berada sekarang?. Masihkah solidaritas kita sekuat dulu? Masihkah kesederhanaan dan semangat juang tetap terpelihara?,” ucapnya, seraya bertanya.

Harapan di Usia ke-81

Bhisma berharap, semoga di usia ke-81 ini, Indonesia terus melahirkan generasi tangguh, bukan generasi yang lemah karena terlalu nyaman.

“Sudah saatnya menjaga persatuan, memperkuat rasa senasib sepenanggungan, dan membangun negeri dengan semangat yang sama seperti para pendiri bangsa,” ujarnya.

“Dirgahayu Republik Indonesia ke-81! Merdeka!,” pungkasnya. (#)

- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img