Literasi Digital Cegah Radikalisme dan Terorisme : “Saring Sebelum Sharing”

0
136

Jempol _ Berdasarkan penelitian, dunia digital merupakan sarana yang bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan ajaran berbau radikalisme dan terorisme. Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ditengara yang paling intens menggunakan pemanfaatan dunia digital dibanding Jamaah Islamiyah.

Memang, tampaknya pemanfaatannya masih bisa dikendalikan dengan upaya penegakan hukum yang dikakukan pemerintah Indonesia dengan menindak tegas pelaku penebar konten berbau radikalisme dan terorisme.

Fungsionaris Partai Golkar Kabupaten Jember Nanang Sugiyanto berpendapat banyaknya bertebaran konten hoaks, fake news, dan ujaran kebencian di media online menunjukkan bahwa dunia digital memang menjadi sarana yang gampang menyebarkan ajaran dengan cepat

“Pencegahannya dengan literasi digital. Literasi itu sebenarnya bagaimana kita memahami konten media. Jadi ini lebih ke individu. Sayang literasi media cetak kita kurang. Padahal, orang yang sudah bisa membaca media cetak, dia biasa melihat konten yang panjang dan berpikir, di media digital sekarang itu tulisannya singkat-singkat,” kata Nanggi.

Literasi media masyarakat Indonesia dinilai Nanggi terlalu cepat berubah, belum cukup matang memahami media cetak, kini harus berhadapan dengan media digital. Lompatan itu membuat literasi digital masyarakat buruk.

Belakangan kata Nanggi, isu agama masih sangat dominan menjadi konten perdebatan warganet. Isunya sering tidak terkait dengan ajaran agama, tetapi mengenai peristiwa-peristiwa tertentu yang dikaitkan dengan sentimen keagamaan.

“Pelaku bisa saja bukan sekedar membuat konten, tetapi juga beroperasi di media sosial dan kolom komentar dalam berita-berita di media online,” kata Nanggi.

Nanggi menegaskan perlunya penanganan, terutama Indonesia sedang menghadapi pilkada serentak tahun 2020, serta persiapan menuju pilpres dan pillleg serentak tahun 2024.

Menyusupnya radikalisme, kata Nanggi melalui pemanfaatan digital sudah merambah ke sejumlah kampus. Menyitir hasil kajian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), setidaknya ada tujuh kampus yang terpapar radikalisme pada 2018. Setahun berselang, Setara Institute merilis 10 kampus yang disusupi paham radikal.

Kampus-kampus itu antara lain Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, dan Universitas Gajah Mada.

Fakta-fakta seputar radikalisme di kampus pada 2019, Setara Institute menemukan ada 10 kampus yang terpapar paham radikal.

Kajian BNPT dan Setara Institute seolah mengamini hasil survei yang dirilis Alvara Research Center pada 2017. Ketika itu, Alvara menemukan sebanyak 17,8% mahasiswa mendukung pendirian khilafah sebagaimana diusung Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Meskipun begitu, Nanggi menyarankan kampus tak berlebihan dalam menyikapi situasi.

“Akan lebih baik jika pihak kampus tetap membebaskan perdebatan antara pemikiran di mimbar dakwah,” tegas Nanggi.

Dima Akhyar SH, mantan Ketua Panwaskab Jember lebih mencermati generasi muda yang datanya menunjukkan kelompok umur ini mudah direkrut dalam tindak terorisme.

Kata Dima anak muda paling akrab dengan dunia digital, sehingga dipandang perlu perhatian khusus, misalnya dengan menyelenggarakan sejumlah kegiatan kreatif bagi generasi muda, termasuk di dalamnya pengawasan terhadap sektor pendidikan, mulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

“Karenanya guru sebagai pendidik memegang peran penting yang dapat mengajarkan kepada anak – anak tentang materi yang bisa mencegah berkembangnya doktrin berbau radikal. Bagaimanapun, guru merupakan panutan anak anak,” jelasnya.

Dosen Unuversitas Muhammadiyah Jember Suyono HS berpendapat Media sosial saat ini, menjadi sebuah keniscayaan sebagai akibat dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang begitu pesat.

“Sekarang kita masuk dalam era revolusi industri 4.0, yang juga dikenal sebagai era disrupsi. Artinya, era teknologi yang menggantikan era-era sebelumnya. Di era ini banyak pekerjaan atau profesi yang hilang, karena tergantikan oleh hal baru yang sebelumnya tidak terpikirkan,” jelasnya

Pemanfaatan dunia digital, Kata Suyono menyebar dihampir semua sektor kehidupan. Termasuk diantaranya, dibidang dakwah, khususnya dakwah Islam.

Dulu, kata mantan Wartawan kawakan itu, dakwah dilakukan dengan cara tatap muka dalam majelis taklim di musolah dan masjid. Sekarang, dengan bantuan teknologi, dakwah bisa dilakukan dari rumah atau tempat lain yang tersembunyi, sekalipun.

” Penyampai dakwah, kalau dulu dilakukan juru dakwah atau ustadz, muballigh, ulama dan kiai, sekarang siapapun bisa melakukannya. Wajar kalau di era saat ini, berita bohong atau hoax, bersliweran di masyarakat. Karena teknologi sudah menghilangkan sekat, menghilangkan batas. Wajar kalau di media sosial sering kita jumpai upaya provokasi, termasuk provakasi berkedok agama,” paparnya.

Sekarang kembali kepada msyarakat, harus bijak bermedia sosial. Tugas kita semua untuk terus memberi pencerahan, agar msyarakat bisa melek literasi, sehingga mereka bisa menahan diri dan tidak terjerumus ikut – ikutan, mrnyebar luaskan informasi yang belum teruji kebenarannya.

“Tugas ini juga harus diambil oleh teman-teman jurnalis,” tegasnya.

Dugaan tentang dunia kampus yang juga dijadikan tempat berkembangnya ajaran radikalisme dan terorisme, menurut Suyono, kebetulan Universitas Muhammadiyah punya methode untuk mencegah masuknya aliran radikalisme.

“Di Universitas Muhammadiyah Ndak ada, dari awal sudah harus ikut training pembinaan ideologi Muhammadiyah lewat DAD ( Darul Arqam Dasar) selama satu minggu dan menginap di rumah-rumah tokoh Muhammadiyah. Biasanya DAD bagi dosen baru di laksanakan di Watukebo, Ambulu, atau di Cakru, Kencong, sebagai basis Muhammadiyah di Jember,” pungkasnya. (Penulis : Miftahul Rahman)