JEMPOLINDO.ID – Pada 3 April 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp16.998 per dolar AS, sebuah level yang secara nominal sangat dekat bahkan hampir menyamai titik terendah krisis moneter 1998 yang mencapai Rp16.800–Rp17.000 per dolar AS.
Namun, angka nominal yang mirip ini menyembunyikan perbedaan fundamental yang sangat tajam antara kedua periode, sehingga perbandingannya dinilai tidak relevan oleh Bank Indonesia.
1998: Depresiasi Ekstrem yang Menghancurkan
- Kurs yang Meledak: Rupiah anjlok dari kisaran Rp2.400 per dolar AS dalam waktu singkat.
- Utang Luar Negeri Membebani: Banyak utang korporasi tidak dilindungi nilai (unhedged), sehingga bebannya membengkak dan memicu kebangkrutan masif.
- Inflasi Tak Terkendali: Harga barang melonjak drastis hingga inflasi mencapai 77-80% (YoY).
- Kontraksi Ekonomi: PDB Indonesia terkontraksi hingga minus 13,13%.
- Perbankan Runtuh: Non-Performing Loan (NPL) atau kredit macet melonjak di atas 30% hingga 55%, memaksa puluhan bank dilikuidasi.
2026: Pelemahan Terkendali di Tengah Badai Global
- Depresiasi Bertahap: Pelemahan terjadi dari level yang jauh lebih tinggi (Rp14.000-15.000) dalam beberapa tahun, bersifat terkelola.
- Fundamental Lebih Kuat: Cadangan devisa jauh lebih besar dan NPL terjaga di bawah 3%.
- Tekanan dari Faktor Global: Pelemahan saat ini terutama dipicu penguatan dolar AS dan kebijakan proteksionisme (perang dagang).
- Kekhawatiran Domestik Baru: Sentimen negatif juga muncul dari isu defisit anggaran yang melebar dan potensi tekanan terhadap independensi Bank Indonesia.
- Inflasi Terjaga: Inflasi tahun 2026 sangat rendah, bahkan sempat mencatat deflasi.
Daya Beli yang Berbeda Jauh
Perbedaan paling signifikan terletak pada daya beli. Sebagai ilustrasi, pada 1998, Rp16.000 dapat membeli 16 porsi soto, sementara di 2026, jumlah yang sama hanya cukup untuk satu mangkuk.
Contoh lainnya, 1 gram emas yang dihargai Rp75.000 pada 1998, saat ini nilainya mencapai sekitar Rp1.800.000.
Perbandingan Tak Relevan
Meskipun secara nominal Rupiah saat ini menyentuh level yang mirip dengan masa krisis 1998, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dan stabil.
Pelemahan tahun 2026 lebih merupakan respons terhadap dinamika global yang keras, bukan karena keruntuhan sistemik dari dalam negeri.
Karena perbedaan yang sangat kontras ini, membandingkan kedua periode hanya berdasarkan nilai nominal dianggap tidak relevan. (#)





