13.9 C
East Java

Kolaborasi RRI dan SMSI: Firdaus Tegaskan Jurnalis Garda Terdepan Lawan Hoaks

JAKARTA, JEMPOLINDO.ID – Dunia jurnalistik berubah cepat di tengah gempuran teknologi digital. Jurnalis tak cukup hanya menguasai satu keterampilan.

Mereka kini wajib mengolah informasi lintas format, memverifikasi fakta dengan ketat, dan memahami perilaku audiens di ruang maya.

Diskusi Panel Pengembangan Kompetensi Jurnalistik LPP RRI pada 21 Agustus 2026 menjadi ajang mempertegas arah baru profesi wartawan.

Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Firdaus, M.Si., menekankan urgensi sinergi antara Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) dan ekosistem media siber nasional. Menurutnya, kolaborasi ini kunci menghadapi banjir disinformasi sekaligus menjaga ruang publik tetap sehat.

Jurnalis Era Digital Wajib Kuasai Ragam Kemampuan

Konvergensi media penyiaran publik dan media siber, kata Firdaus, bukan pilihan tapi kebutuhan strategis demi kedaulatan informasi Indonesia.

Profesi jurnalis kian kompleks. Wartawan RRI dan media siber dituntut tak sekadar menulis berita. Mereka harus mahir produksi audio, video, fotografi, pengolahan data, hingga teknologi peliputan bergerak.

Firdaus memaparkan kompetensi kunci yang perlu dikuatkan:

1. Etika Jurnalistik dan Uji Kompetensi Wartawan (UKW)

Sertifikasi kompetensi memastikan wartawan profesional, independen, berintegritas, dan patuh pada Kode Etik Jurnalistik.

2. Mobile Journalism (MoJo)

Penguasaan teknologi peliputan via perangkat bergerak—dari fotografi, perekaman audio, hingga produksi video berkualitas lewat smartphone.

3. Fact-Checking dan Verifikasi

Jurnalis dituntut cakap memeriksa data, memakai perangkat investigasi digital, dan memastikan informasi bebas dari hoaks maupun manipulasi.

4. Digital Analytics dan GEO

Kemampuan membaca perilaku audiens dan mengoptimalkan distribusi berita di ekosistem digital jadi bagian tak terpisahkan dari jurnalistik modern.

“Kolaborasi RRI dan SMSI menjadi kunci penjaga kebenaran atau truth enforcer nasional,” tegas Firdaus.

RRI dan SMSI: Dua Kekuatan Saling Melengkapi

RRI mengemban posisi strategis sebagai lembaga penyiaran publik berbasis audio dan multiplatform dengan jangkauan hingga ke pelosok Indonesia, termasuk daerah perbatasan.

SMSI, yang merupakan konstituen Dewan Pers, menaungi ribuan perusahaan media siber terbesar yang tersebar di seluruh daerah.

Keduanya memiliki kekuatan saling mengisi. RRI punya jaringan penyiaran publik, SMSI punya jaringan media siber yang kokoh di tingkat daerah. Kolaborasi ini berpotensi memperluas jangkauan informasi sekaligus meningkatkan kualitas pemberitaan dari daerah.

Dorong UKW dan Penguatan Newsroom

Firdaus memaparkan sejumlah bentuk kolaborasi strategis yang bisa dikembangkan RRI bersama SMSI:

  • Pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan bagi wartawan media anggota SMSI
  • Pencetakan penguji UKW lewat Training of Trainer (ToT)
  • Penyusunan dan pembaruan materi UKW sesuai kebutuhan jurnalistik terkini

Kolaborasi juga diarahkan pada penguatan newsroom RRI dan SMSI. Kerja sama ini diharapkan tak cuma meningkatkan kompetensi wartawan, tapi juga memperkuat distribusi informasi pembangunan, mengangkat potensi, dan menyuarakan aspirasi masyarakat daerah ke panggung penyiaran publik nasional.

Media Siber dan Penyiaran Publik Wajib Bersinergi

Firdaus menilai tantangan media ke depan bukan sekadar berebut perhatian audiens. Persoalan utamanya: bagaimana memastikan masyarakat mendapat informasi benar, terverifikasi, dan berkualitas di tengah derasnya arus media sosial.

“Pers yang kuat lahir dari jurnalis yang kompeten dan perusahaan media yang sehat. Kolaborasi LPP RRI dan SMSI adalah kunci utama menjaga kedaulatan informasi serta mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkas Firdaus.

Kolaborasi ini diharapkan memperkuat kapasitas jurnalis sekaligus memperluas akses masyarakat pada informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. (#)

- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img