JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Kabupaten Jember berdiri di atas tanah yang diberkati, dengan dualitas alam yang luar biasa: hamparan sawah dan perkebunan yang subur, serta deburan ombak Samudera Hindia yang tangguh di wilayah pesisir selatan.
Keunikan geografis ini telah melahirkan sebuah identitas budaya agraris-maritim yang kuat, sebuah “mozaik kebudayaan” yang kaya akan nilai-nilai luhur.
Namun, potensi besar ini memerlukan sebuah wadah yang kokoh agar tidak sekadar menjadi catatan kaki dalam sejarah.
Untuk bertransformasi menjadi daerah dengan aura seni budaya yang kuat setara dengan Bali atau Yogyakarta, Kabupaten Jember harus mulai merajut kembali helai-helai identitasnya secara sistematis dan visioner.
Landasan Hukum dan Perlindungan Cagar Budaya
Langkah pertama menuju kebangkitan ini dimulai dari tataran regulasi.
Kehadiran Peraturan Daerah (Perda) Pemajuan Kebudayaan menjadi mutlak sebagai payung hukum yang melindungi sekaligus menghidupkan ekosistem seni lokal.
Secara teoretis, merujuk pada pemikiran Clifford Geertz mengenai “Kebudayaan sebagai Sistem Makna”, kebudayaan memerlukan struktur yang mendukung agar makna-makna di dalamnya dapat terus diwariskan.
Perda ini bukanlah sekedar dokumen birokrasi, melainkan sebuah Tindakan nyata dari janji politik dan budaya untuk melindungi bangunan-bangunan cagar budaya yang selama ini terabaikan.
Jember memiliki jejak arsitektur kolonial dan peninggalan purbakala yang tersebar di berbagai sudut.
Menetapkan kawasan Jember Heritage adalah upaya menyelamatkan “ingatan kota” dari gerusan modernisasi yang tak terkendali.
Bangunan tua bukan hanya tumpukan batu bata, melainkan saksi bisu perjalanan Jember sebagai pusat perkebunan dunia di masa lalu.
Kerja nyata perlindungan ini harus dibarengi dengan pembangunan Museum Daerah.
Tanpa museum, Jember ibarat sebuah buku tanpa sampul; kita memiliki banyak cerita, tetapi tidak memiliki rumah untuk menyimpannya.
Museum akan menjadi pusat gravitasi bagi generasi muda untuk mempelajari akar jati dirinya dan bagi wisatawan untuk memahami kedalaman sejarah Jember sebelum mereka menjelajahi keindahan alamnya.
Sinergi Pelosok dan Modernitas
Salah satu kekuatan Jember yang tidak dimiliki daerah lain adalah eksistensi para pelaku seni tradisional yang tumbuh subur di pelosok-pelosok desa.
Dari kesenian Jaranan, Reog, hingga Musik Patrol, detak jantung budaya Jember sebenarnya berada di tangan para maestro di desa.
Namun, seringkali mereka berjalan sendiri tanpa sentuhan pembinaan yang modern. Di sinilah letak pentingnya kolaborasi strategis dengan Jember Fashion Carnaval (JFC).
JFC, yang telah menempatkan Jember di peta kreatif dunia, harus berfungsi sebagai lokomotif bagi gerbong seni tradisional.
Pembinaan dari JFC kepada pelaku seni di desa-desa bukan untuk mengubah tradisi menjadi modern secara paksa, melainkan untuk memberikan sentuhan manajemen pertunjukan, estetika visual, dan pengemasan kreatif.
Sinergi ini akan menciptakan standar pertunjukan yang profesional tanpa menghilangkan “ruh” asli dari kesenian tersebut.
Dengan demikian, seni tradisional di pelosok Jember tidak lagi dipandang sebagai tontonan pinggiran, melainkan aset berharga yang siap dipentaskan di panggung internasional.
Etalase Budaya dan Kebangkitan Ekonomi
Visi besar ini pada akhirnya harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Sektor pariwisata budaya dan ekonomi kreatif adalah kunci untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kita dapat bercermin pada keberhasilan Yogyakarta dengan Malioboronya atau Bali dengan Pasar Sukawatinya.
Jember memiliki potensi serupa pada kawasan Jember Street Food di wilayah sekitar Alun-Alun kota.
Kawasan ini tidak boleh hanya menjadi tempat transaksi jual-beli makanan semata.
Ia harus dikonsep sebagai sebuah Etalase Kebudayaan. Alun-Alun Jember harus menjadi ruang publik yang bernafas seni, di mana trotoarnya menjadi panggung bagi pemusik lokal, sudut-sudutnya menjadi tempat pameran kriya khas Jember, dan warung-warungnya menyajikan cita rasa agraris-maritim yang otentik.
Dengan penataan yang estetik dan berkarakter, kawasan ini akan menjadi magnet bagi wisatawan.
Orang tidak hanya datang untuk makan, tetapi untuk “mengalami” Jember.
Inilah yang akan menggerakkan roda ekonomi kreatif, di mana setiap produk yang terjual membawa narasi budaya yang kuat.
Mewujudkan Jember yang Berbudaya
Menjadikan Jember sebagai kabupaten dengan sentuhan seni budaya yang kuat adalah sebuah kerja besar yang menuntut konsistensi.
Jika Bali memiliki kekuatan pada budaya luhur bernafas spiritualitas dan Jogja pada budaya luhur yang bermuara pada keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, maka Jember memiliki kekuatan pada harmoni antara alam dan manusianya.
Dengan perlindungan hukum yang tegas, kehadiran museum sebagai pusat edukasi, keterlibatan aktif seniman desa, serta penciptaan ruang ekonomi kreatif yang ikonik, Jember akan tumbuh menjadi destinasi wisata budaya yang disegani.
Kita tidak hanya sedang membangun infrastruktur, kita sedang membangun kebanggaan.
Saat warga Jember bangga akan budayanya, saat seniman di pelosok desa merasa dihargai, dan saat sejarah kota ini dijaga dengan terhormat, maka pada saat itulah Jember telah benar-benar menemukan jati dirinya sebagai kota budaya yang sesungguhnya. (*)
*)Penulis: Sapto Raharjanto, Adalah Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember, Tim Strategi dan Komunikasi Pemajuan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Riset Dan Tekhnologi (2019-2024)
Alamat : Perm Griya Mangli Indah Blok BE 16 Kaliwates Jember, Telp : 082229170915





