BerandaBeritaGubuk Petani Terbakar, Diduga Terkait Konflik Tambak

Gubuk Petani Terbakar, Diduga Terkait Konflik Tambak

- Advertisement -spot_img

JEMBER – GUMUKMAS – JEMPOLINDO.IDGubuk petani terbakar,  di dusun Jeni desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas, pelaku diduga  orang tak dikenal, sekira hari Selasa (6/7/2021) malam. Kejadian itu diduga terkait dengan memanasnya konflik tambak dan tambang.

Menurut penuturan pemilik lahan, MTQ (60) pembakaran terjadi diperkirakan  malam hari. Pria itu mengetahui pada keesokan harinya, Rabo (7/7/2021).

“Ya saya tidak tahu siapa pelakunya,” ujarnya.

Lahan itu didirikan sebagian diatas tanah miliknya, sedangkan sebagian merupakan tanah negara. MTQ mendirikan gubuk itu untuk berteduh saat beristirahat, usai bercocok tanam.

“Ya untuk istirahat, dan sholat. Disamping untuk pribadi, juga untuk umum. Jadi gak terkunci,” jelasnya.

Akibat kebakaran itu, MTQ telah mengalami kerugian sekira lebih dari 6 juta. Disamping biaya pembuatan gubuk, juga peralatan pertanian yang ikut terbakar.

Atas peritiwa itu, pihaknya telah melaporkan kepada pemerintahan desa setempat, melalui Kepala Dusun setempat.

“ya saya hanya melapor kepada kasun, belum ke polisi. Saya hanya bertanya, apa maunya kok membakar – bakar, saya kurang tahu kenapa saat ini belum ada tindak lanjut,” keluhnya.

MTQ berharap kejadian itu ditindak lanjuti sesuai dengan hukum yang berlaku. Menurut MTQ jika dibiarkan, maka akan berdampak pada kepercayaan masyarakat.

“Pelakunya akan merasa tidak ada apa-apa, meskipun membakar, ya masyarakat yang sudah bersusah payah bekerja, kan jadi kehilangan kepercayaan,” tegasnya.

Diduga Kuat Terkait Tambang

MTQ mengakui, dirinya sering mellihat ke arah selatan, dekat dengan areal Tambak Udang. Ada terpampang spanduk yang bertuliskan “Tolak Pengusaha”.

“Membaca tulisan itu, saya membacanya kok kurang enak, ahirnya saya membuat spanduk, agar isinya lebih mudah dipahami,” tuturnya.

Isi spanduk buatan MTQ, menganjurkan agar jalan tidak ditutup, karena merupakan akses warga yang mencari nafkah, menuju ke pantai.

“Lalu saya juga menulis di spanduk, karena warga sudah merasa nyaman, jangan sampai kenyamanan warga menjadi hilang, akibat limbah tambak,” tandasnya.

MTQ juga mengingatkan agar semua mematuhi anjuran dan aturan pemerintah, seperti aturan tentang pemanfaat kawasan pesisir, jaraknya 100 meter dari bibir pantai.

Karena, kata MTQ akibat aktivitas tambak itu, maka membuat tanaman petani mudah mati, akibat kerasnya angin laut yang tanpa penghalang. Untuk itu, pihaknya berinisiatif untuk membuat penahan angin, dengan memasang pancang patok, yang rencananya akan dipasangi waring tembakau.

“Belum selesai saya menggarap penahan anginnya, sudah terjadi pembakaran,” ujjarnya.

Untuk itu, MTQ meminta maaf kepada semua pihak, barangkali ada tindakannya yang sudah merugikan semua pihak.

“Yang jelas tujuan saya, hanya bagaimana semua sama – sama enaknya,” ujarnya.

Sementara, saat Kepala Desa Kepanjen Syaiful Mahmud dikonfirmasi media ini, melalui jaringan ponselnya, tentang kejadian pembakaran itu, malah menduga perbuatan orang gila.

“ya itu mungkin perbuatan orang gila, sering itu orang-orang gila itu,” katanya, lalu suara di ponselnya terputus. (gito)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img