JEMBER, JEMPOLINDO.ID — Dr. Hj. Faida, MMR, resmi meraih gelar Professor of Practice in Human Resource Management dari Universiti Geomatika Malaysia sebagai pengakuan atas dedikasinya di bidang manajemen sumber daya manusia.
Melalui jaringan WhatsApp, media ini mengucapkan selamat atas diraihnya gelar prestisius itu, sebagai wujud penghargaan atas pengabdian dan dedikasinya.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, jabatan ini hanya bisa disandang oleh dosen yang memiliki homebase di perguruan tinggi aktif.
Sebagai guru besar, dr Faida bercita cita kuat, untuk mengaplikasikan konsep kampus hilirisasi dengan kurikulum yang lebih dekat dengan dunia kerja, sesuai profesi.
Melalui penguatan konsep itu, Faida berharap dapat menyambungkan SDM lokal dengan dunia kerja internasional.
Perjalanan Karier
Perjalanan karier Faida memang tak biasa. Dari seorang dokter yang mengelola rumah sakit hingga menjadi Bupati perempuan pertama di Jember (2016-2021), perempuan kelahiran Malang, 19 September 1968, ini terus menorehkan prestasi di berbagai bidang.
Anak ketiga dari lima bersaudara pasangan almarhum dr. Musytahar Umar Thalib dan Widad Thalib ini tumbuh dalam lingkungan medis.
Setelah lulus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, ia memulai kariernya sebagai staf pelayanan medis di Banyuwangi.
Awal Mula Terjun ke Politik
Keputusannya terjun ke dunia politik bermula dari kegelisahan saat mengadakan bakti sosial operasi gratis bagi 1.000 pasien duafa dari lima kabupaten pada 2014.
Saat itu, ia kesulitan mendapatkan rekomendasi dari lurah-camat yang disyaratkan untuk memastikan pasien benar-benar duafa.
“Rekomendasi dari perangkat pemerintah terdepan itu sulit sekali diperoleh. Mbulet!,” kenang Faida.
Setelah berkonsultasi dengan kiai, Faida menemukan solusi cerdas dengan mengganti persyaratan rekomendasi dari pondok pesantren dan takmir masjid.
Aksi kemanusiaan yang melibatkan santri dan takmir masjid sebagai panitia itu tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai operasi pasien terbanyak.
Kegelisahan itu mendorongnya maju dalam Pilkada Jember 2015 dengan syarat tegas: tanpa mahar politik.
Empat partai—Nasdem, Hanura, PAN, dan PDIP—sepakat mengusungnya. Ia menang dengan perolehan suara 53,76 persen.
Kiprah di Bidang HAM dan Kesehatan
Kepedulian Faida terhadap hak asasi manusia terlihat jelas.
Pada 2018, saat masih menjabat sebagai Bupati Jember, ia membangun kesepakatan dengan masyarakat menolak operasional tambang emas di Blok Silo dan berjanji menerbitkan peraturan daerah bebas tambang.
Perjuangan ini membuahkan hasil dengan dicabutnya izin tambang emas di Kabupaten Jember.
Sikap tolerannya juga mendapat pujian. Pada 2018, ia mengadakan buka puasa bersama di Gereja Katolik Santo Yusuf Jember.
“Harapan saya agar tali persaudaraan dengan sesama umat beragama di Jember dapat terjalin kendati berada dalam perbedaan,” ujarnya.
Pengakuan internasional pun datang. Faida menjadi satu-satunya bupati dari Indonesia yang diundang Forum PBB untuk membahas isu Sustainable Development Goals (SDGs) pada Juni 2019.
Bupati dan Pemimpin Rumah Sakit
Sebagai Bupati Jember (2014 – 2019, Faida memfokuskan perhatian pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia mewajibkan in-house training bagi seluruh pegawai pemkab dan menggagas program “gropyokan” (dikerjakan bersama-sama) untuk menanggulangi buta aksara, anak putus sekolah, dan pembangunan infrastruktur.
Di luar jabatan politik, Faida mengelola dua rumah sakit—RS Al Huda di Banyuwangi dan RS Bina Sehat di Jember—serta lembaga pendidikan perawat.
Ia bahkan nekat meminjam uang bank dengan agunan seluruh aset keluarga untuk membangun rumah sakit yang modern.
“Jadikan rumah sakit ini seperti istana, tapi istana yang bisa dimasuki para duafa,” begitu pesan sang ayah yang selalu ia ingat.
Meraih Gelar Profesor
Pengalamannya di bidang manajemen rumah sakit dan kepemimpinan daerah membuahkan pengakuan akademik.
Universiti Geomatika Malaysia menganugerahi gelar Professor of Practice in Human Resource Management sebagai apresiasi atas dedikasi dan kontribusi nyatanya.
Faida juga telah menulis delapan buku berdasarkan pengalamannya bersama sang ayah dan pergumulannya dengan para perawat.
Melalui Bina Sehat Training Center (BSTC) yang didirikannya pada 2006, ia mencetak tenaga perawat yang siap bekerja di Arab Saudi dan Kuwait.
Lembaga yang awalnya hanya diikuti 12 orang itu kini pesertanya membengkak dan mencakup siswa pariwisata serta perhotelan. (Sumber Informasi: Diramu dari berbagai sumber)





