Jember, Jempolindo.id – Desa Sukorambi, Kecamatan Sukorambi menorehkan sejarah baru dalam upaya perlindungan masyarakat.
Desa ini telah ditetapkan sebagai pilot project atau desa percontohan Program BERANI II (Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Berbasis Gender/KBG), pada Minggu (07/12/2025),
Hal itu menegaskan komitmen kuat pemerintah desa dan seluruh elemen masyarakat, untuk menciptakan lingkungan yang aman dan setara, menuju target zero atau nol kekerasan berbasis gender.
Launching program yang berlangsung di Balai Desa Sukorambi ini, dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, kader PKK, perwakilan karang taruna, serta mitra dari Lembaga Panti yang juga menjadi sasaran program.
Program BERANI II merupakan inisiatif kolaboratif yang didukung oleh dinas terkait dan lembaga sosial, yang fokus pada dua aspek utama, yakni pencegahan melalui edukasi dan perubahan paradigma, serta penanganan yang terintegrasi jika terjadi kasus.
Cakupan program tidak hanya di wilayah permukiman warga, tetapi juga meluas ke Panti Sosial di wilayah Sukorambi, sehingga menjangkau kelompok rentan yang lebih luas.
Rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan antara lain pelatihan dan pembentukan Tim Responsif KBG di desa, sosialisasi dan penyuluhan tentang kesetaraan gender, jenis-jenis kekerasan, serta mekanisme pelaporan.
Selain itu, akan dibentuk sistem pendampingan psikologis dan hukum bagi korban, serta ruang aman untuk konseling.
KBG di Desa Sukorambi Rendah
Kepada media ini, Kepala Desa Sukorambi H Abdus Shoim, menyatakan bahwa penetapan Sukorambi sebagai pilot project merupakan kehormatan dan tanggung jawab besar.
“Kami ingin membuktikan bahwa desa bisa menjadi garda terdepan, dalam mencegah kekerasan, khususnya terhadap perempuan dan anak,” ujarnya.
Dengan semangat gotong royong, Shoim menegaskan kesiapannya mewujudkan Sukorambi yang bebas dari kekerasan berbasis gender.
“Alhamdulillah, selama dua tahun terakhir, kekerasan terhadap perempuan dan anak mulai menurun,” katanya.
Meski, masih ditemui bentuk kekerasan verbal, namun sudah relatif rendah.
“Kalau kekerasan dalam bentuk verbal, seperti membentak, menggunakan kata kata kasar, masih ada,” ujarnya.
Upaya menekan tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak, dilakukan Pemdes Sukorambi dengan melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda dan kaum perempuan.
“Kami berkeyakinan, dengan meningkatnya pengetahuan, maka kita bisa memperbaiki suasana keluarganya. Kalau keluarganya baik, maka kami kira tingkat kekerasan dapat ditekan,” katanya.
Komitmen dan Solidaritas Sosial
Sementara itu, Koordinator Program BERANI II, Anton Wijaya, menjelaskan, pemilihan Sukorambi didasarkan pada komitmen dan solidaritas sosial masyarakatnya yang tinggi.
Program ini dirancang berkelanjutan, dengan terus menerus dilakukan sosialisasi.
“Kami akan membangun sistem dari tingkat dusun, melatih kader, dan menyinergikan dengan layanan yang ada. Panti sebagai mitra juga menjadi bagian penting dalam ekosistem perlindungan ini,” ujarnya.
Harapan Peserta
Para peserta yang hadir terlihat antusias menyambut program ini. Seperti diungkapkan oleh salah satu kader PKK, bahwa selama ini dia sering mendengar, tapi bingung harus bertindak bagaimana jika ada tetangga yang menjadi korban.
“Dengan adanya program terstruktur ini, kami jadi punya pengetahuan dan jalan yang jelas untuk membantu,” ujarnya.
Dengan dicanangkannya Program BERANI II, Desa Sukorambi resmi memulai perjalanannya sebagai desa percontohan.
Kesuksesan program ini diharapkan dapat menjadi model dan inspirasi bagi desa-desa lain di wilayah tersebut, dalam upaya kolektif menghapuskan kekerasan berbasis gender dari akar rumput masyarakat. (#)
- Pewarta: Selamet Hariyadi
- Editor: Miftahul Rachman





