Ribuan Jamaah Hadiri Haul KH Ahmad Hafid ke 39

KH Ahmad Hafid
Ribuan jamaah hadiri Haul Ke 39 Almarhum KH Ahmad Hafid

Loading

Jember _ Jempolindo.id _ Ribuan orang hadiri haul KH Ahmad Hafid , yang ke 39 bertempat di Desa Nogosari,.Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember, Selasa (12/9/2023).

KH Ahmad Hafid
Ribuan jamaah hadiri Haul Ke 39 Almarhum KH Ahmad Hafid

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Jember Terus Naik, dari Minus 2,98 Persen Hingga Menjadi 4,53 Persen 

Hadir dalam acara tersebut santri, alumni santri al-hafidi, serta masyarakat umum dari berbagai daerah, termasuk Jember, Madura, Lumajang, dan Malang.

Acara haul tersebut mendapat pengamanan dari polres Jember, Muspika Kecamatan Rmbipuji, Pemdes Nogosari dan Banser Kecamatan Rambipuji .

Mengenal KH Ahmad Hafid  

Mengutip Laduni.id, menjelaskan bahwa KH Ahmad Hafiduddin bin Usman Basyaiban, dikenal masyarakat dengan sapaan Mbah Hafid Nogosari.

Kiai Kharismatik ini lahir di Desa Brongkal Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Putra dari pasangan KH Ageng Usman berasal dari Mataram dan masih ada keturunan dengan Raden Fatah sekaligus juga keturunan Prabu Brawijaya Majapahit.

Ayah beliau, KH Ageng Usman di makamkan di pemakaman Gribik Malang.

KH Ahmad Hafid Wafat

Mbah Hafid wafat pada hari Senin tanggal 27 Shafar 1406 H, dalam usia kurang lebih 105 tahun.

Meninggalkan 12 putra-putri, diantaranya, KH. Nur Ali Yasin, Kiai Imam Ahmad Nur Sadah, dan Kiai Hasan.

Menikah 

Sepulang dari belajar ilmu agama di Mekkah Mbah Hafid kembali mengabdi kepada gurunya KH Khozin di Siwalan Panji, dan beliau pun di ambil menantu oleh Kiai Khozin dan dinikahkan dengan putrinya Nyai Muhsinah.

Pendidikan

KH Ahmad Hafiduddin memulai pendidikannya dengan belajar ilmu agama kepada ayahnya.

Setelah selesai, beliau melanjutkan dengan belajar ilmu agama kepada KH R Khozin bin Khoiruddin bin Ahmad Al-Adhomat Khon Siwalan Panji Sidoarjo.

Setelah bebarapa tahun, belajar kepada Mbah Kiai Khozin, Kiai Hafid berangkat menimba ilmu di Mekkah kurang lebih selama tujuh tahun.

Menurut salah satu sumber dari Almarhum mbah Kiai Ibrohim Pasuruan (teman mondok Mbah Hafid), Kiai Hafid juga berguru kepada Mbah Kholil Bangkalan selama kurang lebih 16 tahun.

Mengajar Tafsir  

Konon, setiap hari minggu, Mbah Hafid mengadakan pengajian kitab tafsir secara umum, yang banyak di hadiri oleh masyarakat dan kiai-kiai sekitar Kecamatan Rambipuji.

Ketika membaca ayat-ayat suci al-Quran suara beliau sangat tartil, merdu dan sangat fasih, beliau sangat hati-hati dan benar-benar menerapkan ilmu tajwid sesuai makhorijul hurufnya.

Begitu juga ketika membaca aurad dzikir-dzikir, membacanya dengan cara perlahan, jelas, fasih, tidak terburu buru, karena bahasa arab beda pengucapan artinya bisa jauh berbeda.

Karomah

Mbah Hafid tidak hanya terkenal dengan kealimannya, tapi juga dengan kekeramatanya, banyak orang yang sowan, minta sambung barokah doa, mulai dari habib, ulama, kiai, masyarakat umum dan orang-orang non muslim, juga orang-orang tionghoa atau china.

Habib Muhammad bin Ali Al-Habsy dari Ketapang Probolinggo sendiri sangat menghormati Mbah Hafid Nogosari, saking ta’dzimnya Habib Muhammad tidak berani duduk dihadapannya tanpa seizin Mbah Kyai Hafid. (Gito)