12.4 C
East Java

Perlawanan Iran di Tengah Badai Neo-Imperialisme, Pelajaran Kemandirian bagi Indonesia

JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Di balik hiruk-pikuk geopolitik Timur Tengah, Iran tampil sebagai simbol ketahanan yang tak terduga. Itulah inti sarasehan bertajuk “Epos Perlawanan Iran versus Neo-Imperialisme Modern, Iktibar Kemandirian Bangsa”.

Sarasehan itu  digelar Majelis Gaul bekerja sama dengan ICMI Orda Kabupaten Jember, di VIP Room Green Bistro Cafe UDS, Universitas Dr. Soebandi, Rabu, (25/03/2026)  malam.

Diskusi yang berlangsung hingga larut itu, menghadirkan para pakar lintas disiplin, mulai dari ilmuwan farmasi hingga ahli hukum dan hubungan internasional.

Mereka membedah bukan hanya fakta konflik, melainkan juga nilai-nilai yang bisa diambil Indonesia sebagai bangsa besar yang tengah membangun kemandirian.

Strategi Pertahanan Iran

Dr. Zaki Amami, alumnus S3 Qom Iran dan staf ahli Islamic Cultural Center Jakarta, membuka tabir strategi bertahan Teheran.

“Iran mempertahankan diri dari agresi Amerika dan Israel. Iran selalu menyerang balik dengan proporsi yang sama, meski dampaknya sangat mematikan,” ujarnya tegas.

Menurut Zaki, fondasi ketahanan itu bukan semata militer, melainkan juga persatuan umat Islam yang ditekankan Ayatollah Khomeini.

Sang pemimpin Revolusi Islam Iran itu berulang kali menyerukan bahwa semua Muslim adalah saudara, dan perselisihan Sunni-Syiah hanya menguntungkan musuh bersama.

“Persatuan inilah yang membuat Republik Islam Iran mampu bertahan di tengah embargo dan tekanan bertubi-tubi,” tambahnya.

Selat Hormuz Jantung Energi

Prof. Agus Trihartono, Ph.D., Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi dan dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember, membawa perspektif strategis yang lebih luas. Ia menunjuk Selat Hormuz sebagai “jantung” energi dunia.

Sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir 20 persen konsumsi minyak global melewati selat sempit tersebut setiap harinya. Gangguan sekecil apa pun di sana dapat langsung mengguncang harga energi dunia, termasuk di Indonesia.

Agus mengutip buku fenomenal Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb untuk menggambarkan ketahanan Iran. Biasanya, serangan terhadap pemimpin suatu negara memicu keruntuhan rezim.

Namun, Iran justru bertahan dan bahkan tetap mengendalikan harga minyak. “Perang ini akan berakhir hanya jika semua tuntutan Iran dipenuhi. Jika tidak, negosiasi damai tidak ada dalam kamus mereka,” katanya.

Iran, lanjut Agus, sangat paham strategi “mencekik” geopolitik, menguasai titik chokepoint sehingga musuh tidak bisa leluasa mengalirkan minyak.

Iran Cermin Kemandirian Ideal

Sementara itu, Prof. Dr. Bambang Kuswandi, Ketua Umum ICMI Orda Jember sekaligus Warek IV Universitas Jember yang masuk jajaran Top 2% Global Scientist di bidang farmasi menjadikan Iran sebagai cermin kemandirian yang ideal.

“Amerika dan Barat kerap menerapkan standar ganda. Iran justru menjadi contoh negara yang mandiri di berbagai bidang, termasuk pendidikan dan teknologi,” ujarnya.

Bambang berharap semangat tersebut menular ke Indonesia, termasuk kemandirian psikologis, yaitu keberanian dalam semangat syahid melawan segala bentuk penindasan.

Nilai Keadilan

Assoc. Prof. Dr. Aries Harianto, Ketua Dewan Pakar ICMI dan dosen Fakultas Hukum UNEJ yang dinobatkan sebagai Dosen Favorit Hukum Nasional 2024, menyoroti dimensi nilai dan opini publik.

“Inti dari pergolakan ini adalah nilai keadilan,” tegasnya.

Menurut Aries, sekitar 45 persen netizen merespons positif dan mendukung perjuangan Iran. Bahkan perang ini memicu ledakan kreativitas Artificial Intelligence (AI) yang digunakan untuk memperkuat narasi perlawanan.

Aries juga mengkritik posisi Indonesia, yang berkeinginan menjadi mediator konflik perang.

“Sangat ironis jika kita hendak menjadi mediator perdamaian, sementara anggaran kita minim dan keikutsertaan dalam berbagai operasi sering melanggar semangat konstitusi yang menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Perhimpunan Bangsa-Bangsa (PBB) kini hanya menjadi nama tanpa peran signifikan, sementara, ia meramalkan Israel tetap sulit merebut tanah Palestina karena akan menghadapi perlawanan banyak negara.

Dampak Perang

Pada sesi lainnya, Wakil Ketua ICMI Jember Dr. Khoiron menambahkan catatan penting soal dampak lingkungan yang nyata akibat konflik berkepanjangan.

Alfianda, Ketua Aktifis Perempuan melihat  perang justru menyulut perlawanan di tingkat akar rumput masyarakat.

Sedangkan Sofyan Hadi, Ketua IJABI Jember menekankan bahwa persatuan Sunni dan Syiah menjadi kunci kekuatan umat Islam menghadapi tantangan zaman.

Acara yang dipandu Ustadz HUTRI, da’i milenial sekaligus founder Majelis Gaul ini berlangsung hidup dan interaktif.

Para peserta kerap mengangguk setuju ketika pembicara menghubungkan pengalaman Iran dengan perjuangan Indonesia meraih kemandirian sejati.

Kemandirian Bukan Mimpi

Di akhir diskusi, Prof. Bambang Kuswandi menyimpulkan bahwa pelajaran terbesar dari “epos” Iran adalah bahwa sebuah bangsa bisa berdiri tegak meski diterpa badai besar, asal memiliki persatuan, strategi yang jitu, dan tekad yang tak goyah.

“Kemandirian bukan mimpi, melainkan pilihan yang harus kita wujudkan,” pungkasnya.

Sarasehan ini menjadi pengingat bagi Indonesia, di era neo-imperialisme modern, ketahanan nasional bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. (sar)

  • Penulis : Sa Ramadhan
  • Editor: Miftahul Rachman
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img