24.9 C
East Java

Nobar Film Dokumenter Pesta Babi di Kampus UIJ Sukses Membuka Cakrawala Berpikir Mahasiswa 

JEMBER, JEMPOLINDO.ID – BEM Fakultas Hukum Universitas Islam Jember (UIJ) sukses menggelar nonton bareng Film Dokumenter “Pesta Babi”, di Kampus UIJ, pada Selasa Malam (12/05/2026).

Pemutaran Film Dokumenter ini, sempat menimbulkan kekhawatiran, kemungkinan terjadinya campur tangan aparat keamanan, seperti yang terjadi di beberapa daerah.

Tetapi pantauan media ini, pemutaran film tersebut berlangsung aman, sejak awal hingga akhir.

Wujud Kehangatan Organisasi Kampus

Menurut Direktur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIJ Ainul Yakin, pemutaran film ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi yang ada di Jember, diantaranya UIJ, UIN, Unej, Universitas Muhammadiyah dan Institute Pertanian Bogor (IPB).

“Ada juga keterlibatan komunitas asal Papua, yang turut serta menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di tanah Papua,” katanya.

Terlaksananya kegiatan ini, kata Ainul merupakan wujud adanya kehangatan organisasi di kampus, yang turut serta merasa prihatin terhadap kondisi yang terjadi di tanah Papua.

“Ini tentu menjadi tanggung kita bersama kedepan,” ujarnya.

Menepis Klaim Rezim Kekuasaan Dalam Mengelola Papua

Direktur Eksekutif PAR Alternatif Indonesia Andi Saputra, yang hadir pada kesempatan itu mengapresiasi adanya gairah para mahasiswa, yang turut serta menggairahkan nonton Film Dokumenter Pesta Babi ini.

Pesta Babi menurut Andi, menepis klaim Rezim Presiden Prabowo Subianto, dalam menangani isu Papua ternyata salah besar.

“Karena, sebenarnya yang terjadi di Papua sebenarnya adalah Kolonialisme,” katanya.

Film ini menggambarkan adanya eksploitasi sumber daya alam, perusakan ekosistem yang sangat masive.

“Atau kita sebut sebagai ekosida, perusakan yang masive terstruktur, dengan menggunakan senjata,” ujarnya.

Film ini, menurut Andi akan merubah cara pandang, tentang apa yang terjadi di Papua, dan bahkan mungkin akan mendatangkan dukungan internasional.

“Karena akhirnya tahu bahwa masyarakat Papua mengalami kesengsaraan yang luar biasa,” ujarnya.

Kesengsaraan itu terjadi akibat dari sikap represif pemerintah Indonesia, dengan mengerahkan TNI dan Polri dalam jumlah yang banyak.

“Dan itu untuk memback up korporasi, yang mengeksplorasi sumber daya yang sangat luas bisa,” tandasnya.

Mantan Ketum IMM ini menilai, pemutaran Film Dokumenter ini merupakan awal yang baik, untuk mendorong mahasiswa, agar lebih kritis dan banyak membaca.

“Saya harap akan terus berlanjut dengan banyak belajar, berdiskusi, tentang nasib bangsanya, sehingga dapat merubah keadaan, yang selama ini masih banyak yang salah,” ujarnya.

Menjadi mahasiswa, menurut Andi sesuatu yang luar biasa, sehingga jangan sampai terpengaruh dengan sosmed dan isu isu yang tidak penting.

“Kita berharap mahasiswa terus berani melakukan kritik terhadap kekuasaan, dan tidak terpengaruh dengan hal hal yang remeh temeh,” pesannya.

Meski sempat terjadi pencegahan pemutaran film ini oleh pihak kampus, namun tidak ada indikasi represif dari aparat keamanan.

“Saya kira ini perlu diapresiasi, karena di Jember masih kondusif, dan tidak terjadi seperti di daerah lainnya,” katanya.

Membuka Kesadaran  Mahasiswa

Ratih Soluvida dan Nibbras Rohadatul Aisy, keduanya mahasiswi Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember, menyatakan semula tidak tertarik dengan pemutaran film ini.

“Tetapi setelah menonton film ini, kami menjadi merasa prihatin, dengan apa yang dialami oleh masyarakat Papua,” ujarnya. (#)

  • Pewarna: Sundari Rianto
  • Editor: Miftahul Rachman 
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img