Mengenal Sekolah Adiwiyata, Sekolah Peduli Lingkungan SMPN 1 Balung

0
172 views
Mengenal Sekolah Adiwiyata
Mengenal Sekolah Adiwiyata SMPN 1 Balung

JEMBER – JEMPOLINDO.ID –  Mengenal Sekolah adiwiyata adalah Sekolah yang peduli lingkungan yang sehat, bersih serta lingkungan yang indah. Dengan adanya program adiwiyata diharapkan seluruh masyarakat di sekitar sekolah agar dapat menyadari bahwa lingkungan yang hijau adalah lingkungan yang sehat bagi kesehatan tubuh kita.

ADIWIYATA berasal dari 2 kata sansekerta yaitu ADI dan WIYATA. Adi sendiri mempunyai arti yaitubesar, agung, baik, ideal atau sempurna. Sedangkan Wiyata mempunyai arti tempat dimana seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan, norma dan etika. ADIWIYATA artinya tempat yang besar, agung, baik dan indah yang dimana tempat itu digunakan oleh seseorang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, norma, dan etika.

Secara umum tujuannya yaitu membentuk sekolah peduli dan berbudaya lingkungan yang mampu berpartisipasi dan melaksanakan upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan  bagi kepentingan generasi sekarang maupun yang akan datang

Secara khusus tujuan mengenal sekolah adiwiyata yaitu mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan melalui tata kelola sekolah yang baik untuk untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pemanfaatan lahan yang luas untuk menunjang kenyamanan dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) agaknya sudah menjadi keharusan untuk dilakukan oleh SMPN 1 Balung. Karena dengan mengenal sekolah adiwiyata, paling tidak akan tercipta suasana sejuk dan nyaman bagi siswa dalam mengikuti proses KBM di sekolah itu.

   Prinsip-prinsip Dasar Program Adiwiyata

  1. Partisipatif, Komunitas sekolah terlibat dalam manjemen yang meliputi keseluruhan  proses  perencanaan,  pelaksanaan, dan evaluasi sesuai tanggung jawab dan peran.
  1. Berkelanjutan, Seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara  komprehensif.

Komponen Adiwiyata

Untuk mencapai tujuan Adiwiyata ada empat komponen program yang  merupakan satu kesatuan yang utuh.

  1. Kebijakan Berwawasan
  2. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Lingkungan
  3. Kegiatan Lingkungan Berbasis Partisipasif
  4. Pengelolaan Sarana Pendukung Ramah Lingkungan

Keuntungan Program Adiwiyata

  1. Mendukung  pencapaian standar kompetensi/ kompetensi dasar dan standar kompetensi lulusan (SKL) pendidikan dasar dan menengah
  2. Meningkatkan efesiensi penggunaan dana operasional sekolah melalui penghematan dan pengurangan konsumsi dari berbagai sumber daya dan energi
  3. Menciptakan kebersamaan warga sekolah dan kondisi bejar mengajar yang lebih nyaman dan kondusif
  4. Menjadikan tempat pembelajaran nilai-nilai pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan bemar bagi warga sekolah dan masyarakat sekitar
  5. Meningkatkan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui kegiatan pengendalian pencemaran, pengendalian kerusakan dan pelestarian fungsi lingkungan sekolah

Konsep 5 R dalam lingkungan untuk mewujudkan adiwiyata

Konsep  5 R sendiri berasal dari 5 kata dalam bahasa Inggris yaitu Reduce (Mengurangi), Reuse (Menggunakan kembali), Recycle (Mendaur Ulang), Replace (Menggunakan kembali) dan Replant (Menanam Kembali).

  1.      Recycle

Recycle atau mendaul ulang adalah kegiatan mengolah kembali atau mendaur ulang. Pada perinsipnya, kegitan ini memanfaatkan barang bekas dengan cara mengolah materinya untuk dapat digunakan lebih lanjut. Contohnya adalah memanfaatkan dan mengolah sampah organik untuk dijadikan pupuk kompos.

  1.      Reuse

Reuse atau penggunaan kembali adalah kegiatan menggunakan kembali material atau bahan yang masih layak pakai. Sebagai contoh, kantong plastik atau kantng kertas yang umumnya didapa dari hasil kita berbelanja, sebaiknya tidak dibuang tetapi dikumpulkan untuk digunakan kembali saat dibutuhkan. Contoh lain ialah menggunakan baterai isi ulang.

  1.      Reduce

Reduce atau Pengurangan adalah kegiatan mengurangi pemakaian atau pola perilaku yang dapat mengurangi produksi sampah serta tidak melakukan pola konsumsi yang berlebihan. Contoh menggunakan alat-alat makan atau dapur yang tahan lama dan berkualitas sehingga memperpanjang masa pakai produk atau mengisi ulang atau refill produk yang dipakai seperti aqua galon, tinta printer serta bahan rumah tangga seperti deterjen, sabun, minyak goreng dan lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi potensi bertumpuknay sampah wadah produk di rumah Anda.

  1.      Replace

Replace atau Penggantian adalah kegiatan untuk mengganti pemakaian suatu barang atau memakai barang alernatif yang sifatnya lebih ramah lingkungan dan dapat digunakan kembali. Upaya ini dinilai dapat mengubah kebiasaan seseorang yang mempercepat produksi sampah. Contohnya mengubah menggunakan kontong plastik atau kertas belanjaan dengan membawa tas belanja sendiri yang terbuat dari kain.

  1.       Replant

Replant atau penamanan kembali adalah kegiatan melakukan penanaman kembali. Contohna melakukan kegiatan kreatif seperti membuat pupuk kompos dan berkebun di pekarangan rumah. Dengan menanam beberapa pohon, lingkungan akanmenjadi indah dan asri, membantu pengauran suhu pada tingkat lingkungan mikro (atau sekitar rumah anda sendiri), dan mengurnagi kontribusi atas pemanasan global. Dengan menerapkan konsep 5 R yang telah dibahas, kita dapat ikut serta dalam melestarikan dan memelihara lingkungan agar tidak rusak atau tercemar.

Berangkat dari impian ini, SMPN 1 Balung di bawah kepemimpinan, H Chalid, S.Pd, M.Pd, mulai melakukan penataan halaman sekolah yang sampai saat ini pemanfaatan lahannya tidak lebih dari 500 sampai 600 meter saja.

“Kami ingin menjadikan SMPN 1 Balung, sekolah adiwiyata, karena lahan yang kita miliki cukup luas, 1,4 hektar, namun pemanfaatannya belum maksimal,” ujar H Chalid, saat ditemui di SMPN 1CL Balung, dalam acara pembinaan Sekolah Adiwiyata, Kamis (17/06/2021).

Chalid mengakui, saat pertama kali masuk sekolah tersebut pada tahun 2012, lahan seluas itu terkesan dibiarkan begitu saja. Terlihat banyak semak belukar dengan tanaman liar yang tumbuh di halaman sekolah.

“Ibaratnya, kita ini bangga dengan NKRI yang luas, kami juga memiliki lahan yang luas tapi yang dimanfaatkan hanya separuhnya. Kami masuk ke sini 4 rombel. Kalau ngomong lahan yang tidak dimanfaatkan, tidak dihijaukan, lebih dari separuh,” ungkapnya.

Dari kondisi inilah SMPN 1 Balung, di bawah kendali H Chalid, berusaha menjadikan sekolah tersebut menjadi Sekolah Adiwiyata. Caranya, setiap sudut dari halaman di sekolah itu, akan dibuat indah dan hijau dengan tanaman.

“Kami berpikir, kalau dari sisi gedung atau pisik, memang susah untuk mendapatkan bantuan, tapi untuk menata dan menghijaukan halaman, kami lebih mudah mengajak guru-guru maupun siswa. Lebih mudah, menanam pohon, membuat kebun baru dan segala macam yang bernuansa penghijauan,” katanya.

Chalid pun menyatakan tekadnya, apapun akan dilakukan demi teraihnya Sekolah Adiwiyata. “Jangankan hanya di dalam sekolah, di luar halaman sekolah kami juga siap (melakukan penataan),” tegasnya.

Tekad ini disampaikan, karena Chalid menyadari, di depan sekolah yang dipimpinnya, ada sungai yang perlu ditata dan dibuat seindah mungkin.

“Misal kami diberi saran, untuk mengelola sungai yang ada di depan sekolah menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak, SMP, SD atau TK, kami siap mengembangkannya,” ucapnya.

Sementara, Tim Pembina Sekolah Adiwiyata Kabupaten Jember, H. A. Fauzi, S.Sos. M.Si, pada sambutannya, saat acara pembinaan Sekolah Adiwiyata, meminta pihak sekolah bersungguh-sungguh dalam upaya meraih impian menjadikan SMPN 1 Balung bernuansa hijau, sejuk dan indah. Namun yang perlu dicatat, Fauzi mengingatkan, jangan sampai keinginan menjadikan SMPN 1 Balung sebagai Sekolah Adiwiyata, hanya sebatas menggapai cita-cita saja.

Mewujudkan Sekolah Adiwiyata menurut Fauzi, tidak boleh berhenti sekalipun cita-cita itu sudah berhasil diraih. Masih ada hal lain yang mesti dilakukan, hingga predikat Sekolah Adiwiyata benar-bebar melekat dan lestari disandang SMPN 1 Balung

Harus ada tindak lanjut yang berkesinambungan dari pihak SMPN 1 Balung dalam upayanya meraih predikat Sekolah Adiwiyata. Karena jenjang Sekolah Adiwiyata tidak hanya tingkat kabupaten saja, tapi juga propinsi, nasional sampai Adiwiyata Mandiri.

“Jangan sampai setelah predikat sekolah adiwiyata kabupaten berhasil diraih, lalu hanya tinggal sejarah, bahwa tahun sekian ada adiwiyata kabupaten, setelah itu gak ada ceritanya, hanya tinggal kenangan,” pesan Fauzi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here