JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, H Eko Yunianto, M.M., menyoroti pentingnya langkah antisipasi terhadap dampak kekeringan, yang berpotensi mengganggu sektor pertanian, terutama di wilayah pedesaan.
Saat kegiatan masa reses yang digelar di Kabupaten Jember, pada Jum’at (29/05/2026), Eko memaparkan sejumlah solusi untuk membantu masyarakat menghadapi ancaman krisis air saat musim kemarau tiba.
Musim kemarau 2026 di Indonesia diprakirakan berlangsung lebih awal, lebih kering, dan lebih panjang dari biasanya.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah akan terjadi pada bulan Agustus 2026
Menurut Legislator PDI Perjuangan itu, antisipasi pertama yang perlu dilakukan dalam budidaya pertanian adalah memanfaatkan cadangan air yang ada secara efisien, termasuk melalui metode pengairan hemat air.
“Selain penggunaan metode pengairan hemat air, pemerintah dan masyarakat juga perlu mengeksplorasi sumber-sumber air baru yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal,” ujar Eko.
Ia menjelaskan, potensi sumber air tersebut dapat dimaksimalkan melalui pembangunan saluran irigasi, sistem perpipaan, maupun penampungan air.
Dengan cara itu, air yang sebelumnya terbuang dapat digunakan untuk kebutuhan pertanian.
“Ada beberapa sumber air yang sebenarnya belum termanfaatkan secara maksimal. Ini bisa dimanfaatkan melalui program irigasi maupun perpipaan sehingga air yang sebelumnya langsung terbuang dapat digunakan untuk pertanian,” tegasnya.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Jember dan sekitarnya.
“Dengan pengelolaan air yang lebih efektif, para petani tetap dapat menjaga produktivitas meskipun menghadapi musim kemarau panjang,” tutupnya.(#)
- Pewarta: Selamet Hariyadi
- Editor: Miftahul Rachman





