21.7 C
East Java

Kumpulkan OKP dan BEM,  Bupati Jember: Saya Butuh Masukan dari adik adik

JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Dalam sebuah pertemuan hangat bersama organisasi kepemudaan (OKP) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kabupaten Jember di Pendopo Wahyawibawagraha, Bupati Jember Muhammad Fawait menyampaikan orasi mendalam, mengenai potret buram yang ia hadapi di awal masa jabatannya dan langkah strategis yang telah diambil untuk menyelamatkan daerah, pada Sabtu (7/3/2026).

Tantangan Awal Menjabat

Gus Fawait mengungkapkan bahwa saat pertama kali menjabat, ia dihadapkan pada kenyataan pahit. Jember tercatat memiliki angka kemiskinan absolut terbanyak kedua dan kemiskinan ekstrem tertinggi di Jawa Timur.

Sektor kesehatan pun berada di ambang kolaps dengan utang mencapai Rp214 miliar.

“Tiga rumah sakit daerah kita hampir tumbang. Bahkan cadangan oksigen saat itu hanya cukup untuk maksimal dua minggu. Namun, sebagai pimpinan, saya memilih menyimpan kekhawatiran itu sendiri demi menjaga moral tim teknis dan masyarakat,” ujar Gus Fawait di hadapan para aktivis mahasiswa.

Kebijakan Efisiensi

Alih-alih menikmati zona nyaman, sebagai peraih suara terbanyak di Pileg DPRD Provinsi, Gus Fawait memilih jalur terjal eksekutif. Langkah pertamanya adalah melakukan efisiensi APBD secara besar-besaran.

Beberapa kebijakan efisiensi yang diambil antara lain: Pembatalan pengadaan mobil dinas baru bagi SKPD,Pemangkasan anggaran seminar dan pelatihan yang tidak berdampak langsung pada pengentasan kemiskinan dan Pengalihan 80% hasil efisiensi untuk memperkuat sektor kesehatan.

Program UHC

Hasil dari efisiensi tersebut membuahkan program UHC Berkas. Melalui program ini, masyarakat Jember kini bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis di seluruh rumah sakit di Indonesia hanya dengan menunjukkan KTP.

Dampaknya luar biasa. Tidak hanya masyarakat yang terlayani, ekosistem rumah sakit daerah pun kembali sehat. Gus Fawait memaparkan data bahwa pendapatan RSUD dr. Soebandi melompat tajam dari Rp15 miliar menjadi Rp31 miliar dalam waktu kurang dari satu tahun pada periode 2025 ini.

Meski sektor kesehatan mulai stabil, Gus Fawait mengingatkan adanya tantangan besar di sektor pendidikan. Terdapat 1.532 sekolah di Jember dalam kondisi rusak berat.

“Tidak ada jalan lain untuk mengentaskan kemiskinan dalam jangka panjang kecuali melalui jalur pendidikan. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita belajar di bawah atap yang rapuh,” tegasnya.

Butuh Masukan

Di akhir penyampaiannya, Gus Fawait menekankan pentingnya masukan dari mahasiswa dan pemuda. Ia menilai pemikiran mahasiswa masih murni dan tidak terkontaminasi kepentingan politik praktis.

“Saya butuh masukan orisinal dari adik-adik sekalian. Jember punya pesantren terbanyak dan kampus terbanyak ketiga di Jatim, tapi kenapa kemiskinan masih tinggi? Inilah teka-teki yang harus kita selesaikan bersama,” pungkasnya. (#)

  • Pewarta: Sundari Rianto
  • Editor: Miftahul Rachman
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img