Krisis Solar Nelayan Puger, PWJ Temukan Dugaan Indikasi Sindikat

  • Bagikan
Krisi Solar Nelayan Puger
Foto : Koordinator tim PWJ Rio Christiawan (kanan), Tokoh Nelayan Puger Holil (kiri)

Jember- Jempolindo.idKrisis Solar Nelayan Puger, direspon Perserikatan Wartawan Jember ( PWJ) dengan membentuk tim khusus. Berdasarkan data sementara, menurut pengakuan Nelayan Puger, Kabupaten Jember, krisis pasokan bahan bakar Solar  bersubsidi itu telah membuat sebagian besar nelayan tidak bisa bekerja ke laut, padahal saat ini sedang musim ikan.

Karenanya, menurut Koordiantor Tim PWJ Rio Chritiawan, pihaknya mencoba melakukan investigasi kepada nelayan di Desa Puger Kecamatan Puger Kabupaten Jember.

“Kita masih melakukan pendalaman terlebih dahulu, soal adanya krisis nelayan itu,” katanya

Pengakuan,  salah seorang tokoh nelayan setempat bernama Holil warga desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember kesulitan mendapatkan solar terjadi sejak beberapa minggu terakhir.

Jika para nelayan sebelumnya dengan mudah membeli di SPBN (stasiun pengisian bahan bakar nelayan) yang berada di kawasan TPI Puger saat ini mereka harus antri lama hingga satu hari.

“Benar sekali, sudah 10-15 harian kami nelayan susah mendapatkan solar, antrian bisa satu hari” kata Holil saat ditemui Tim PWJ, Minggu (5/8/2021).

Jika beruntung mereka bisa mendapatkan solar, namun tidak sesuai dengan kebutuhan. Para nelayan hanya dapat membeli solar 1/4 dari kebutuhan sesuai dengan jenis perahu atau kapal yang akan digunakan melaut.

“Itupun  untuk kebutuhan BBM solar mesin  satu  perahu harusnya 400 liter, hanya  diberi 100 liter. Itu (solar) dibeli di SPBN TPI. Kalau cuma 100 liter dibuat melaut di sekitar (pulau) Nusa Barong saja bisa tapi ndak bisa pulang kr darat,” jelasnya.

Nelayan terpaksa harus mengantri lagi di keesokan harinya.  Infonya, kemampuan SPBN hanya 8000 liter per  dua hari.

“Kalau tidak dapat ya antri lagi besok paginya. Kalau misalnya kita butuh 400 liter ya antrinya 4 hari, padahal sekarang lagi musim-musimnya ikan di laut,” jelasnya.

Krisis Solar Nelayan, Ijin dari Syahbandar

Para nelayan juga tidak bisa bebas sebelumnya untuk membeli BBM. Mereka harus mempunyai surat rekomendasi dari pihak syahbandar atau UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Puger Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jatim yang berada di kawasan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Puger.

“Kalau mau membeli solar harus punya surat Pas atau surat seperti ini dari syahbandar,” katanya.

SPBU Tolak Nelayan

Kondisi kesulitan solar ini diperparah penolakan SPBU Puger untuk melayani pembelian solar bersubsidi kepada para nelayan. Menurut Holil alasannya SPBU tidak melayani pembelian dengan jerigen atau drum.

Namun ada SPBU yang bisa melayani nelayan dengan pembelian memakai jerigen atau drum asal membawa surat rekomendasi, jumlanya juga dibatasi hanya untuk 13 nelayan yang membawa surat rekomendasi per hari dengan kuota BBM hanya separoh dari kebutuhan mesin kapal.

“Kalau di SPBU Puger tidak melayani tapi yang di SPBU Jambearum bisa cuma dibatasi 13 orang yang membawa surat seperti ini. Tapi misal kalau kapal sekoci kebutuhannya 400 liter untuk PP (pergi pulang) hanya dilayani separuhnya jadi 200 liter,” katanya.

Lebih jauh Holil mewakili warga nelayan menginginkan kehadiran pemerintah Kabupaten Jember untuk mencari solusi atas kesulitan solar yang dihadapi warga nelayan.

“Ya kita ingin Bupati Hendy dan Wabup Gus Firjaun mencarikan solusi untuk kami,” harapnya.

Harapan itu disampaikan kepada pemangku kebijakan di Jember, untuk mencarikan solusi bagi kesulitan nelayan, karena hanya dengan pergi ke laut, satu-satunya mata pencaharian nelayan.

“Saat ini sedang musim ikan tapi kami malah tidak bisa melaut sementara kami tidak bisa mencari nafkah lainnya selain menjadi nelayan, sementara kami harus menghidupi keluarga,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *