JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Malam ini, di Kecamatan Pakusari terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal daerah ini bukan kawasan pegunungan yang terkenal dengan hawa menusuk tulang. Tetapi entah mengapa, ada rasa dingin lain yang sulit dijelaskan. Bukan datang dari angin malam, melainkan dari sesuatu yang lebih sunyi: arah gerakan PMII Cabang Jember hari ini.
Dingin itu terasa seperti tanda bahwa ada sesuatu yang perlahan mati. Bukan organisasinya, melainkan keberanian gerakannya. Postulat itu muncul ketika saya melihat unggahan Instagram kaderisasi PB PMII yang memamerkan deretan juara nasional.
Ada kategori penulisan ilmiah, ngaji kitab kuning, kader influencer, hingga penghargaan kelembagaan terbaik dalam hal advokasi. Yang cukup membuat saya seperti tersambar petir di tengah hawa dingin itu: kategori advokasi tidak dimenangkan oleh PC PMII Jember.
Di titik itu saya mulai bertanya dengan serius, jangan-jangan selama ini saya hanya dibesarkan oleh dongeng organisasi.
Sebab sejak pertama masuk PMII, saya terlalu sering mendengar narasi bahwa “PC PMII Jember adalah sentrum kaderisasi dan advokasi di Jawa Timur bahkan nasional.”
Kalimat itu diproduksi terus-menerus seperti ayat wajib dalam forum kaderisasi. Diulang dari rayon ke komisariat, dari komisariat ke cabang, lalu diwariskan lagi kepada kader baru seolah menjadi kebenaran absolut yang tidak boleh disentuh kritik.
Dari dulu, PMII Jember digambarkan sebagai organisasi paling progresif, paling militan, paling dekat dengan rakyat, paling serius mengawal isu lingkungan, dan paling siap berdiri di garis depan ketika masyarakat kecil ditindas.
Masalahnya, semakin sering narasi itu diulang, semakin saya merasa seperti sedang mendengar kaset pita lama yang diputar terus-terusan demi menghibur orang-orang yang takut menerima kenyataan.
Sebab kalau memang PMII Cabang Jember sedemikian hebat dalam advokasi, mengapa gaung perjuangannya hari ini justru terdengar begitu lirih? Mengapa publik lebih sering melihat PMII hadir di feeds Instagram daripada di titik konflik masyarakat? Mengapa organisasi yang dulu katanya menakutkan bagi penguasa kini justru lebih sibuk menakut-nakuti algoritma agar engagement-nya tidak turun?
Pertanyaan itu akhirnya membawa saya membuka kembali jejak sejarah PMII Cabang Jember. Saya mulai membaca ulang arsip berita, tulisan lama, dokumentasi gerakan, hingga catatan perjuangan para pendahulu. Dan dari sana saya menemukan fakta yang tidak bisa dibantah: PMII Cabang Jember memang pernah memiliki taring.
Dulu, PMII bukan organisasi yang sibuk membuat desain pamflet tiga atau lebih slide dengan caption “lawan ketidakadilan” lalu merasa sudah menyelamatkan rakyat kecil. PMII benar-benar turun ke lapangan. PMII hadir di tengah masyarakat, berdiri bersama petani, nelayan, dan warga yang terzholimi.
Pada era Sahabat Adil Satria Putra misalnya, PMII cukup konsisten mengawal isu ruang hidup masyarakat. Penolakan terhadap pembangunan tambak udang di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, menjadi salah satu contohnya. Saat investor datang membawa bahasa “pembangunan” dan “investasi,” PMII justru memilih berdiri bersama masyarakat yang lahannya terancam dicaplok.
PMII waktu itu paham bahwa tidak semua pembangunan lahir untuk kesejahteraan rakyat. Sebab di negeri ini, kata “investasi” terlalu sering menjadi nama lain dari perampasan ruang hidup masyarakat kecil.
Genetika perlawanan itu berlanjut pada era Sahabat Hamdi Hidayatullah. PMII Cabang Jember saat itu cukup agresif mengawal penolakan tambang emas Blok Silo. Demonstrasi dilakukan berulang kali. Audiensi terus dibangun. Tekanan politik diarahkan kepada pemerintah daerah maupun kementerian.
Dan yang menarik, gerakan mereka tidak berhenti di upload dokumentasi aksi dengan backsound lagu Hindia atau Feast. Mereka benar-benar menang. Izin tambang emas Blok Silo akhirnya dicabut pada tahun 2019 di hadapan ribuan masyarakat. Itu bukan kemenangan estetika digital. Itu kemenangan gerakan.
Pada masa-masa itu, PMII tampak seperti organisasi yang benar-benar memahami fungsi keberadaannya. Mereka tidak sibuk menjadi influencer perjuangan. Mereka hadir langsung di tengah konflik sosial, mendampingi masyarakat, bahkan berhadapan dengan kekuasaan dan korporasi.
Jika menelusuri jejak digital PMII era tersebut, yang terlihat bukan feed penuh desain estetik berwarna hitam-merah dengan kutipan Tan Malaka atau Proudhon. Yang terlihat justru dokumentasi aksi lapangan, pengorganisiran masyarakat, hingga keberpihakan nyata terhadap rakyat kecil.
Sebab saat itu PMII tampaknya masih percaya bahwa gerakan lahir dari lorong-lorong didesa lalu menjadi keberanian untuk turun ke jalan, bukan dari kemampuan memilih font paling revolusioner di Canva.
Tradisi itu masih terasa pada era Sahabat Baijuri. Salah satu contohnya ketika PMII melakukan penahanan alat berat akibat pembelokan saluran irigasi di kawasan pabrik semen di Puger. Ketika sawah masyarakat terancam gagal panen akibat krisis air, PMII memilih berdiri bersama petani.
Mereka sadar bahwa organisasi pergerakan memang seharusnya mengganggu kenyamanan kekuasaan, bukan malah sibuk menjaga kenyamanan citra organisasi.
Memasuki era Sahabat Faqih Al Haramain, PMII kembali cukup aktif mengawal revisi RTRW Kabupaten Jember yang dinilai membuka ruang besar bagi kepentingan pertambangan. Demonstrasi dilakukan, petisi disebarkan, kajian kritis disusun, hingga policy brief diterbitkan.
PMII pada masa itu tampak memahami satu hal penting: bahwa regulasi sering kali menjadi pintu masuk paling sopan bagi penghancuran lingkungan. Tambang tidak selalu datang membawa excavator terlebih dahulu. Kadang ia datang lebih dulu dalam bentuk pasal-pasal yang tampak legal dan rapi.
Kesadaran itu membuat PMII tidak hanya bergerak di jalanan, tetapi juga mencoba masuk ke ruang kebijakan. Mereka sadar bahwa melawan ketidakadilan tidak cukup hanya dengan orasi dan toa. Harus ada kajian, tekanan politik, dan keberanian mengintervensi regulasi.
Tradisi advokasi itu berlanjut pada era Sahabat Bayu Wicaksono hingga Sahabat Fikron Mustofa. Isu galian C, konflik tambak udang di Getem, hingga ekspansi tambak vaname di Gumukmas terus dikawal. PMII masih tampak memiliki sensitivitas terhadap problem ruang hidup masyarakat.
Tetapi pertanyaannya sekarang sederhana: apakah tradisi itu masih hidup hari ini?
Sebab ketika melihat kondisi PMII Cabang Jember di era Sahabat M. Taufiqurrahman, publik justru seperti kehilangan jejak gerakan tersebut. Sejak awal pencalonannya, publik disuguhkan narasi besar tentang “PMII progresif berbasis riset.” Jujur saja, konsep itu terdengar keren. Sangat keren malah. Akademis, modern, dan intelektual.
Tetapi persoalannya, publik hari ini lebih membutuhkan gerakan daripada jargon. Karena sejauh ini, yang terlihat justru PMII semakin aktif memproduksi narasi dibanding memproduksi tekanan politik. Feed Instagram tampak progresif. Caption penuh diksi perlawanan. Desain visual dibuat sedemikian intelektual. Semua tampak keren di layar.
Sayangnya, rakyat kecil tidak hidup di dalam feeds Instagram. Petani yang lahannya rusak akibat tambang tidak akan kenyang oleh caption “melawan ketidakadilan.” Korban banjir tidak akan terselamatkan oleh poster digital bertuliskan “solidaritas tanpa batas.” Gumuk yang dihancurkan excavator tidak akan kembali utuh hanya karena seminar ekologis diadakan di ruangan ber-AC lalu diakhiri sesi foto bersama.
Kadang saya merasa PMII hari ini terlalu sibuk terlihat progresif daripada benar-benar progresif. Aktivitas organisasi tampak ramai di media sosial, tetapi sunyi di lapangan. Diskusi terus digelar, tetapi keberpihakan semakin kabur. Pernyataan sikap diproduksi hampir setiap saat, tetapi jarang benar-benar berubah menjadi gerakan yang mengganggu kenyamanan penguasa.
Ironisnya, romantisme masa lalu terus dipelihara seperti barang pusaka. Nama-nama pendahulu terus disebut. Kisah kemenangan gerakan terus diulang. Seolah kejayaan masa lalu bisa menjadi selimut untuk menutupi minimnya kerja konkret hari ini. Padahal organisasi besar tidak hidup dari nostalgia. Sebab rakyat tidak membutuhkan organisasi yang pandai mengenang perjuangan. Rakyat membutuhkan organisasi yang mau ikut berjuang.
Dan jika PMII Cabang Jember hari ini lebih sibuk membangun estetika perlawanan dibanding membangun gerakan perlawanan itu sendiri, maka mungkin masalah terbesar organisasi ini bukan lagi kehilangan taring, tetapi mulai kehilangan alasan mengapa ia dulu dilahirkan sebagai organisasi pergerakan.(#)
*) Narasi ini ditulis oleh Muhammad Nafis Saighoni demisioner Ketua Umum PMII Rayon Hukum UIJ 2024-2025, sebagai otokritik terhadap PMII Cabang Jember, organisasi mahasiswa yang telah membesarkannya. Redaksi mempertimbangkan dimuat, untuk memberikan ruang dialog. Namun, isi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.





