BerandaBeritaDekanat FEB Unej Diduga Tak Netral Didemo Mahasiswa

Dekanat FEB Unej Diduga Tak Netral Didemo Mahasiswa

- Advertisement -spot_img

Jember Dekanat FEB Unej diduga tak netral  dalam pelaksanaan Pemilu Raya (Pemira) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB Unej, 80 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) menggelar aksi unjuk rasa (unras) di depan kampusnya, Selasa (4/1/2022).

Pantauan wartawan di lapangan, massa aksi mahasiswa itu melakukan longmarch dari lapangan Unej menuju ke depan Gedung Dekanat FEB Unej. Sekitar pukul 14.00 Wib.

Kronologis yang disampaikan para mahasiswa saat melakukan orasi,  diantaranya, dibuktikan dengan pesan verba berupa Voice Note (VN) dari Dekan FEB Unej Prof. Isti Faidah.

Dekanat FEB Unej
Caption : Prof. Isti Fadah saat menemui massa aksi mahasiswa di depan Gedung Dekanat FEB Unej, Selasa (4/1/2022).

Pihaknya mengarahkan mahasiswa memilih salah satu calon dalam Pemira Ketua BEM FEB Unej.

“Ada pemilihan BEM di FEB (Unej), anu (mahasiswa) S2 bisa milih. Tolong teman-temannya di anu (arahkan, red) ya. Untuk memilih paslon nomor 1 Chandra. Nasionalis dan komunikasinya bagus dengan FEB, kinerja juga bagus. Tolong ya,” ucap Dekan dalam voice note yang tersebar di kalangan mahasiswa.

Ketua Korlap aksi Nelles Harlowin mengatakan, ada juga beberapa kronologisnya terkait dengan ketidak netralan itu. Salah satu mahasiswa sempat sakit karena stres.

“Aksi APD (Aliansi Penyelamat Demokrasi) inikan, aksi dari teman-teman (mahasiswa FEB Unej), perihal sakit hati atas beberapa intervensi dari beberapa pihak Pimpinan itu (Dekanat) ke teman-teman, dalam proses PEMIRA proses demokrasi di FEB,” ucap Nelles saat dikonfirmasi sejumlah wartawan di sela aksinya.

Kata Nelles, sikap ketidak netralan dari Dekanat FEB Unej. Diketahui dari banyaknya sinyal yang terjadi saat pelaksanaan Pemira 28 Desember 2021 lalu.

“Ada beberapa oknum pimpinan yang mengintervensi secara verbal. Untuk Bu Dekan sendiri itu bentuknya berbentuk instruksi Voice Note. Yang tadi diputar pada saat aksi,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, juga ada intervensi yang dalam bentuk pesan teks. Bahkan hal itu disampaikan, terkait isu pelaksanaan magang mahasiswa di BUMN yang terancam akan dipersulit.

“Itu perihal dari salah satu mahasiswa yang mengatasnamakan asisten Ka Prodi. Beliau ngomong menganjurkan memilih salah satu paslon. Bahwa kita satukan suara, siapa yang keluar barisan akan saya pangkas. Saya (tidak) mau direpoti perihal magang BUMN dan juga lainnya. Itu yang tertuang dalam teks (percakapan singkat lewat aplikasi Whatsapp),” jelasnya.

Untuk yang dalam bentuk voice percakapan telepon, lanjut Nelles, juga diakui ada oleh mahasiswa.

“Isinya kurang lebih, salah satu Ka Prodi bilang kepada salah satu mahasiswa ditelpon pada waktu hari H. Si mahasiswa ditanya, ‘kamu sudah memilih? Dia menjawab, sudah bapak, teman-temanmu juga sudah memilih? Dia juga menjawabnya ‘mohon maaf ini sifatnya privasi, karena sesuai dengan asas demokrasi’ Lalu si Ka Prodi itu menjawab sambil tertawa ‘hahaha. Kamu pasti memilih paslon 02. Kemudian teleponnya dimatikan,” ungkapnya menirukan percakapan telepon antara mahasiswa dengan salah seorang oknum dosen yang menjabat Ka Prodi.

“Karena sedikit ketakutan, dia (mahasiswa yang ditelpon Ka Prodi), membalas kembali sambungan telepon lewat chat ( aplikasi Whatsapp), mempertanyakan percakapan telepon yang terputus singkat itu. Kemudian dibalas singkat ‘iyo…aku ora butuh suaramu… paham sekarang’ gitu kira-kira,” imbuhnya.

Berdasarkan kronologis itu, puluhan mahasiswa FEB melakukan massa aksi.

“Padahal kita belajar tentang proses demokrasi (di tingkat kampus), ya kita di sini sama-sama belajar. Bagaimana bijaknya dan baiknya, supaya FEB lebih baik. Ini atas dasar cinta dan pengabdian teman-teman. Kenapa mereka sampai rela melakukan aksi massa ini,” kata Nelles.

Sementara itu, saat mahasiswa akan menerobos masuk ke Ruang Kantor Dekan FEB Unej Prof Isti Fadah. Akhirnya, pihak Dekan melakukan mediasi kepada perwakilan mahasiswa.

Namun saat dimintai konfirmasi, dari pihak Dekanat FEB Unej tidak ada yang bersedia dikonfirmasi. Bahkan sejumlah wartawan diusir keluar kantor oleh sejumlah petugas keamanan. (Fit)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img