BERITA JEMPOL Ekonomi EKONOMI & BISNIS
Beranda / EKONOMI & BISNIS / Krisis Pasokan BBM di Jember, Ini Penyebabnya

Krisis Pasokan BBM di Jember, Ini Penyebabnya

JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Beberapa hari belakangan, warga Kabupaten Jember mengalami kesulitan mendapatkan BBM, baik jenis pertalite maupun solar. Terpantau, beberapa SPBU mengalami antrian mengular.

Seperti yang dialami Catur Teguh, jurnalis Jember yang mengantri dari pukul 23.00 WIB baru mendapatkan jatah pertalite pada pukul 05.00 WIB pagi, pada Sabtu (05/09/2022).

“Sebagian warga ada yang beralih beli Pertamax,” katanya.

Bukan hanya pertalite yang mengalami kesulitan, Siti Muyasaroh, warga Jubung juga mengaku kesulitan mendapatkan solar.

“Yang ada hanya pertadex, harganya mahal,” katanya.

Gerak Jalan Tajemtra, Karya Legendaris Bupati Jember Abdul Hadi, Kian Menggelora di Era Muhammad Fawait 

Hingga Minggu malam (06/09/2026), tampak beberapa SPBU yang tidak ada lagi pasokan pertalite.

Rilis Pertamina

Saat ditanya terkait kelangkaan BBM ini, Iqbal Wilda Fardana, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Hiswana Migas (Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas) eks Karesidenan Besuki, hanya mengirim rilis PT Pertamina Patra Niaga.

“Ini rilis yang dikirim PT Pertamina, pada Jum’at (04/09/2026),” katanya, melalui percakapan WhatsApp.

Berdasarkan rilis tersebut, diketahui krisis pasokan itu akibat Kemacetan panjang hingga 15 kilometer di kawasan Tanjung Wangi, Banyuwangi.

PT Pertamina Patra Niaga sebenarnya telah berupaya menanggulangi dengan menerapkan strategi darurat distribusi BBM.

Dirut dan Direktur Teknik Tirta Pandhalungan Jember Kompak Ikuti TAJEMTRA 2026, Tempuh Rute 35 Kilometer

Perusahaan pelat merah itu mengalihkan pasokan sebanyak 584 kiloliter (KL) melalui dua jalur alternatif demi menjaga ketersediaan energi di empat kabupaten.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengungkapkan bahwa dampak kemacetan mulai terasa pada Kamis (3/9) lalu. Kepadatan kendaraan yang mencapai tiga jalur di beberapa titik membuat mobil tangki (MT) kesulitan bergerak.

“Di depan Integrated Terminal Tanjung Wangi, kendaraan hanya bisa berjalan 7–8 menit lalu berhenti 45–60 menit. Akibatnya, waktu tempuh pengiriman ke Bondowoso dan Situbondo melonjak dari 8–10 jam menjadi 15–23 jam,” jelas Ahad dalam keterangan resmi, Jumat (4/9).

Dari 10 mobil tangki yang terjebak kemacetan, Pertamina langsung mengaktifkan skema alih suplai. Sebanyak 112 KL dialihkan melalui Malang dengan dukungan empat MT 24 KL dan satu MT 16 KL dari Madiun. Sisanya, 472 KL, dialihkan melalui Integrated Terminal Surabaya.

Untuk mendukung skema Surabaya, Terminal Tanjung Wangi menyiapkan 10 unit MT dengan rincian enam unit 24 KL dan empat unit 32 KL, total volume 272 KL. Selain itu, skema estafet juga digerakkan dari FT Madiun (150 KL), FT Tuban (72 KL), dan Camplong (48 KL).

Kemendikdasmen dan Pemda Teken Komitmen Percepat Revitalisasi 100.000 Satuan Pendidikan pada 2027

Ahad menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor terus digalakkan. Pertamina berkolaborasi dengan Satuan Lalu Lintas, KP3, Polairud, Lanal, Polsek, dan Babinsa untuk memberi prioritas pergerakan MT. “Kami juga memberikan dukungan konsumsi bagi awak mobil tangki yang terdampak,” tambahnya.

Pertamina akan terus mengevaluasi kemungkinan estafet distribusi antarwilayah hingga kondisi lalu lintas normal. Masyarakat diimbau tidak panic buying dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Untuk pengaduan, hubungi Pertamina Contact Center 135. (#)

Berita Terbaru

× Advertisement
× Advertisement