19.9 C
East Java

80 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Sudahkan Kita Merdeka ?, Prof Djati Koesoemo Ingatkan Pesan Bung Karno

Jember, Jempolindo.id – “80 tahun Kemerdekaan Indonesia, Sudahkah Kita Merdeka ?”, tema sarasehan itu cukup menggelitik, untuk menjadi bahan renungan bersama.

Sarasehan itu digelar dalam rangka memperingati HUT ke 80 Republik Indonesia, di Sekretariat Forum Pengawal Pembinaan Ideologi Pancasila (FPPIP) Jember, Senin (18/8/2025).

Salah satu narasumber dalam sarasehan itu, Budayawan Prof Drs Djati Koesoemo B.Sc mengatakan, yang diucapkan Bung Karno tentang makna kemerdekaan telah terbukti di era ini.

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri,” Prof Djati Koesoemo mengutip kalimat Bung Karno.

Kutipan kalimat itu memperjelas bahwa perjuangan yang paling sulit adalah melawan kondisi dan perilaku para penguasa negeri ini.

Saat mengutip kalimat sakral itu, Prof Djati terlihat emosional dengan suara bergetar dan mimik muka yang sedih.

“Maaf, saya mau menangis, melihat kondisi bangsa ini,” ujarnya.

Menurut Prof Djati, Indonesia harus banyak mengaji ajaran Bung Karno tentang Marhaenisme yang menentang ekploitasi rakyat kecil.

“Marhaenisme harus menjadi inspirasi dalam memperjuangkan hak-hak rakyat kecil dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu nara sumber lainnya, Dr Ikwan Setiawan, lebih menyoroti tentang makna nasionalis berdasarkan tiga jaman, orde lama, orde baru dan era reformasi.

“Walaupun Soekarno sendiri tidak pernah menyebutkan jamannya adalah era orde lama, penamaan istilah tersebut diberikan saat kepemimpinan Soeharto,” paparnya .

Ikwan menyampaikan bahwa era Soeharto negara berperilaku sebagai teroris, bagi negara sendiri yang diwujudkan dalam politik.

“Stigma yang penuh pembatasan dari semua unsur, baik itu politik, sosial dan budaya,” ujarnya.

Sarasehan Dalam Rangka Peringatan Kemerdekaan Indonesia

Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh, diantaranya Ketua Umum FPPIP sekaligus Ketua PA GMNI Jember Prof. Bambang Supeno, Ketua I FPPIP Dr Fendik Setiawan, Pembina FPPIP Jember Drs. Andang Subaharianto M.Hum, Budayawan Dr. Ihwan Setiawan, Prof. Arif Amrullah, aktivis perempuan, aktivis GMNI Jember, perwakilan nelayan, petani, peternak, mahasiswa, pensiunan, dan perwakilan dari PA GMNI Situbondo, Banyuwangi, dan Jember.

Dalam sambutannya, Ketua Umum FPPIP Prof. Bambang Supeno menyampaikan bahwa secara historis, 17 Agustus adalah momen di mana bangsa ini lepas dari bangsa penjajah.

Namun, ia menegaskan bahwa makna kemerdekaan dalam pengertian yang sebenarnya masih belum sepenuhnya tercapai.

“Makna 80 tahun kemerdekaan adalah merdeka lepas dari penjajah kolonial, namun belum merdeka dari bangsa sendiri,” ujar Prof. Bambang. Senin (18/08/2025).

Penyebab Ketidak Merdekaan

Ia kemudian menjelaskan pandangannya berdasarkan perspektif sistem pemerintahan yang terdiri dari legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

Menurutnya, ketiga pilar ini yang membuat ketidakmerdekaan sejati.

“Di bidang yudikatif, kita masih merasakan banyak perilaku lembaga peradilan yang belum memihak pada rakyat,” jelasnya.

Banyak kasus kasus, yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht) bertahun tahun, namun hingga kini belum juga dieksekusi.

“Sehingga masyarakat meyakini, bahwa keadilan tajam ke bawah dan tumpul ke atas, bahkan ada pandangan kehilangan ayam bisa menghabiskan sapi,” ujarnya.

Di sisi legislatif, Prof. Bambang mengkritik para wakil rakyat, yang seharusnya memperjuangkan aspirasi rakyat.

“Namun justru sering mengejutkan publik dengan berbagai berita, yang kurang berpihak pada rakyat, seperti tingginya gaji dan fasilitas yang mereka nikmati, sementara rakyat terus dibebani dengan kenaikan pajak yg semakin mencekik,” katanya.

“Begitu pula di bidang eksekutif, gaji dan tunjangan pejabat kementerian dan komisaris, dinilai sangat fantastis, padahal sumbernya berasal dari uang rakyat,” imbuhnya.

Pada penghujung acara, Charisa Anindya yang bertindak selaku moderator sarasehan, mengutip pernyataan Prof Bambang, bahwa dalam kenyataannya masih banyak permasalahan yang mengaburkan makna kemerdekaan itu sendiri.

Mahasiswa flFakultas Ilmu Budaya (Fib) Unej ini, menambahkan bahwa kemerdekaan seharusnya dimaknai sebagai kedaulatan dalam demokrasi berpolitik, kemandirian ekonomi serta tidak adanya eksploitasi manusia oleh sesama manusia sendiri.

“Masih banyak konflik agraria, kemiskinan dan korupsi yang merajalela serta adanya ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi itulah kata penutup dari sang moderator,” tutupnya. (Ket)

- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img