Terlantarnya Seni Tradisi Jember Perlu Orkestrasi Gerakan

0
112

Jember_Curahnongko _ Jempolindo.id _ Kesenian Jember sempat berpolemik dengan istilah Pandhalungan. Tak nyana, polemik itu telah menyebabkan terlantarnya seni tradisional. Hal itu terungkap saat Diskusi Silaturahim Jember Idea ke 17 di kediaman Arjes Desa Curahnongko Kecamatan Tempurejo. Minggu Malam (23/11).

Diskusi yang diikuti kelompok Seni Tradisi  jaranan Sari Budoyo Pangestu, Putra Manunggal,  ludruk Putra Desa, dan Citra Putri Rahayu, berlangsung ganyeng.

Para tokoh seni tradisi menyampaikan keluh kesahnya atas ketidak pedulian pemerintah atas kehidupan seniman yang harus bertahan hanya karena mengemban amanat upaya melestarikan budaya leluhur.

Arjes mengungkapkan, ditengah kesulitan bertahan hidup, pelaku seni tradiai  sejak tahun 2016 sudah melaksanakan pagelaran.

“Setiap usai acara nunjang palang, nyungsep (rugi). Jangankan dibantu dana, untuk mendapat ijin kegiatan saja  kadang kesulitan,” keluhnya.

Ketua Saribudoyo Pangestu Suyadi, warga Andongrejo, Curahnongko itu menuturkan riwayat kesenian yang kini dibinanya merupakan jenis kesenian yang sudah berdiri sejak tahun 1919.

Sepengetahuannya, kesenian jaranan yang dibinanya semula dibawa oleh Pak Surjo asal Karang Duren Balung, lantas secara turun temurun dilanjutkan oleh anak cucunya Isman, Kadirejo, Mistini dan Hariyanto.

“saya membinanya sejak tahun 1980. Sekedar mencoba melestarikan kesenian buat anak cucu,” katanya.

Suyadi mengaku selama ini bergerak secara mandiri, belum pernah ada pembinaan pemerintah.

“Pernah mencoba ngajukan ke Kabupaten dan propinsi, tahun 2018, tetapi hingga saat ini tidak ada jawaban,” keluhnya.

Pengelola  Jaranan Putra Manunggal Boiran menilai ada jurang pembatas antara pemerintah dan pelaku seni. Karenanya musti ada yang menjembatani.

“Pemerintahan niku tengahe bolong sedoyo sampun paham, tapi mboten nyadari (red : pemerintah itu tengahnya kosong, tapi tidak juga menyadari),” katanya.

Sementara Pengelola Ludruk Putra Desa Kasiyono banyak menyampaikan catatan atas kehidupan berkesenian yang dialaminya. Disamping polemik kebudayaan yang sedang menguat, Kasiyono masih berharap tumbuhnya kehidupan berkesenian.

“Kesenian tradisi itu kan asset nasional, sudah sepantasnya diperhatikan,” harapnya.

Sementara, kata Kasiyono lembaga yang membawahi pelaku seni seperti Dewan Kesenian Jember (DKJ) tampaknya disepelekan.

“Ini bagaimana terus menyelesaikannya ?,” Sergahnya.

Ketua DKJ Panti Satoha  yang hadir pada acara itu membenarkan bahwa kesenian hanya  dipandang sebelah mata. hanya diperhatikan saat dibutuhkan. Kesenian hanya dieksploitasi.

“Karenanya saya berharap kepemimpinan Jember lebih peduli pada pemberdayaan kebudayaan dan kesenian,” pintanya.

Menyikapi situasi direndahkannya kehidupan berkesenian Pemerhati seni tradiai Agung Suryo Ngalam
menekan mestinya Kesenian mestinya di awali dari ruh dan tata nilai yang kuat, sehingga tidak mudah dipermainkan.

“Kita harus memulai dari diri sendiri, melakukan dari yang paling gampang,” katanya.

Karakter yang kuat akan membangun kepribadian yang kuat, tidak minder dan kecil hati.

“Jika tradisi leluhur ingin terus bertahan, paling tidak mulai memakai  baju adat saja tanpa  malu,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, hadir inisiator Jember Idea Dima Akhyar yang menyampaikan itikat Jember Idea untuk terus membangun budaya
Silaturahim dengan senantiasa menyebarkan kebaikan.

Menurut Dima kebudayaan merupakan hasil  cipta rasa dan  karsa  manusia yang terus bergerak membangun peradaban.

“Untuk itu dipandang perlu digelar sebuah orkestra seni tradisi, untuk menunjukkan bahwa eksistensi kesenian tradisi itu ada,” katanya.

Dima juga ingin kesenian tradisi mampu mengembalikan girahnya seperti yang sudah dilakukan oleh para pendahulunya.

Pagupon Omahe Doro,
Melok Nippon tambah soro,”
Dima menyitir kidungan Cak Durasim, seniman ludruk legendaris yang ditahan Jepang karena kidungannya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini