Puluhan Pesantren Malang Raya Ikuti Pelatihan ’Santri Bangun Desa’

Pesantren Malang

Loading

Malang (Tumpang)— Jempolindo.id _ Puluhan pesantren Malang Raya mengikuti pelatihan bertemakan ’Pelopor Pembangunan Desa’ yang berlokasi di PPPI Al Ittihad Desa Jeru, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Baca juga: Buka Hotline Pengaduan, BEM FH Universitas Muhammadiyah Jember Berharap Pemilu 2024 Jurdil 

Di Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH. Agus Ikhwan, pelatihan tersebut berorientasi pada pembangunan Desa yang juga dapat dilakukan oleh para santri.

Dalam sambutannya, KH. Agus Ikhwan yang juga merupakan ketua RMI NU Kabupaten Malang, mengapresiasi kegiatan semacam ini.

Menurutnya, dengan kegiatan semacam ini, peran santri tidak lagi dapat dipandang sebelah mata. Santri, memang semenjak awal turut membangun negeri dengan kapasitas dan kemampuannya yang beraneka ragam di tengah-tengah masyarakat.

“Sudah tepatlah jika santri juga dilibatkan dalam membangun negeri melalui akar rumput yang berada di desa-desa,” ungkapnya.

Sementara itu, Muhammad Nuruddin yang akrab dengan panggilan Gus Din, yang menjadi salah satu pemateri dalam pelatihan selama 3 hari (17-19 Januari 2024), menyampaikan secara historis, mengapa santri dan pesantren yang dilibatkan?

Oleh sebab, ungkap Gus Din, santri dan pesantren memiliki hubungan dan kedekatan erat dengan masyarakat desa. Dengan model pemberdayaan ala pesantren, tentunya. Bahkan, hingga hari ini masih banyak ditemui pesantren yang mengirimkan para santri di desa-desa, sebagai guru tugas.

Selain itu, jika melihat faktanya, hampir 75 persen pesantren, input peserta didiknya berada di desa. Tak jarang juga ditemui nama pesantren itu diambil dari nama desa setempat. Seperti Pondok Pesantren Tebuireng, Denanyar, Widang, Rembang, Tambak Beras, dan lain sebagainya.

“Karena itulah santri kami libatkan dalam membangun desa, tiada lain karena santri juga memiliki kegigihan untuk menjalankan tugas pengabdian di tengah masyarakat. Sebagaimana para santri yang juga memiliki nilai perjuangan yang senantiasa ditanamkan saat berada di pesantren,” terang Gus Din. (*)