Jember, Jempolindo.id – Polres Jember menggelar giat Jum’at Curhat, di Pendopo Kecamatan Bangsalsari, pada Jum’at (05/12/2025).
Giat itu dihadiri oleh Kabagren Polres Jember Kompol Drs Moh Sudariyanto, mewakili Kapolres Jember AKBP Bobby A Condroputra, KBO Satintel Polres Jember Ipda Wawan, Sekcam Bangsalsari, Kapolsek Bangsalsari Iptu Joko Sumargo, 11 Kepala Desa dan Tokoh Masyarakat.
Saat memberikan paparan, Kompol Sudariyanto menjelaskan bahwa program Jum’at Curhat, merupakan program Polres Jember, dalam rangka membangun komunikasi dengan masyarakat.
“Melalui program ini, Polri bisa mendapatkan banyak masukan dari masyarakat,” katanya.
Karena, dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya, yakni terciptanya Kamtibmas, Polri tidak bisa sendirian.
“Program Kamtibmas bukan semata mata tanggung jawab polri, melainkan tangung jawab kita semua,” ujarnya.
Situasi aman dan nyaman, kata Sudariyanto, bukan hanya adanya polisi, tetapi juga karena ada peran semuanya.
“Tentu dengan masukan dan saran dari berbagai lapisan masyarakat, akan membantu Polri dalam memperbaiki kinerjanya,” katanya.
Meski, berdasarkan Survei, untuk Harkamtibmas masih 72 % masyarakat merasa puas.
“Namun, bukan berarti kami sudah baik, tentu masih ada kekurangan yang harus terus menerus kami perbaiki,” ujarnya.
Hal itu, sejalan dengan tekad Polri, untuk terus berbenah, terutama dalam penananganan penegakan hukum yang humanis, dari berbagai sisi, baik ekonomi, sosial dan budaya.
“Penanganan hukum, tidak harus diselesaikan melalui jalur pengadilan, melainkan bisa ditempuh melalui restoratif justice (RJ),” ujarnya.
Sudariyanto memberi contoh, bahwa orang mencuri bisa jadi karena kondisi ekonomi.
“Penyelesaiannya, bisa melalui sudut pandang ekonomi,” katanya.
Demikian pula, penyelesaian kasus narkoba, tidak semua diselesaikan melalui jalur pengadilan, bisa juga dilakukan dengan rehabilitasi.
“Kecuali bagi pengedar, memang harus diselesaikan berdasarkan hukum formal,” tegasnya.
“Untuk itu, Polres Jember mendorong perlunya pusat rehabilitasi,” imbuhnya.
Dalam rangka mendukung peningkatan kinerja, maka Polri memandang perlu melakukan peningkatan profesionalisme sumber daya manusia (SDM).
“Apalagi Sumber daya polri, memang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan,” ujarnya.
Sementara proses pendidikan Polisi juga dipersingkat, sehingga perlu penambahan kapasitas, melalui upaya pelatihan.
“Seperti giat Jum’at Curhat, ini juga merupakan wadah bagi polisi untuk belajar, melalui interaksi bersama masyarakat,” katanya.
Dalam menjalankan tugasnya, masih diperlukan peningkatan sarana dan prasarana polri, yang masih jauh dari harapan.
“Namun, Kami tetap mendorong anggota kami, untuk bekerja lebih baik,” ujarnya.
Pengawasan internal, juga semakin ketat, yang dilakukan melalui penggunaan IT, untuk mempertanggungjawabkan kepada rakyat.
“Kami menyadari, masih ada oknum Polisi yang nakal, dan perlu dilakukan pembinaan,” ujarnya.
Untuk menjalankan Pelayanan Prima Kepolisian, menurut Sudariyanto, jumlah anggota polisi tidak sebanding dengan jumlah penduduk, misalnya, anggota Polsek Bangsalsari 18 orang, berbanding 110.000 jumlah penduduk Bangsalsari.
“Padahal yang harus dilayani polisi bukan hanya ngurusi SKCK, tetapi semua bidang yang berkaitan dengan penegakan hukum, keamanan, dan ketertiban masyarakat,” katanya.
Dalam menjalankan tugasnya, Polisi seringkali mengalami dilema, satu sisi harus menegakkan hukum, sisi lain harus memberikan pelayanan, maka memungkinkan terjadinya konflik, pro kontra, ditengah masyarakat.
“Kami tidak berharap dicintai, tetapi minimal dipercaya, maka harus melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Karenanya, Polisi harus bisa berhubungan dengan masyarakat.
“Kami selalu tekankan kepada anggota, Baik baiklah Dengan masyarakat, (Babadem). Sesuai dengan moto kami, Polri untuk masyarakat,” tegasnya.
Masyarakat Bertanya
Pada kesempatan itu, tokoh masyarakat memanfaatkan untuk menyampaikan harapan dan sarannya.
Salah seorang anggota BPD Bangsalsari, menyampaikan keluhan masyarakat terkait dengan perpanjangan STNK, yang seringkali mengalami kesulitan tentang KTP.
Sedangkan, biaya perpanjangan STNK, juga dirasakan masih terlalu memberatkan.
“Jika bisa, kami mohon kelunakan perpanjangan STNK,” harapnya.
Ahmadi, Tokoh Masyarakat Bangsalsari menyarankan agar personal polri, ketika ada giat Jum’at Curhat memakai seragam, sehingga terkesan lebih familiar,
“Masyarakat kalau melihat seragam, biasanya takut,” katanya.
Polri yang nakal, juga menjadi sorotan Ahmadi, padahal oknum polri yang nakal, bisa berdampak pada nama naik institusi polri.
“Bagaimana menangani polri yang nakal,” tanyanya.
Sebagai Ketua Gabungan Wartawan Indonesia (GWI) Jember, Ahmadi mempertanyakan program Posbankum.
“Anggarannya dari mana ? Siapa yang layak menerima bantuan hukum,” katanya.
Namun, Ahmadi mengapresiasi pelaksanaan giat Jum’at Curhat, yang memberikan banyak informasi kepada masyarakat.
“Kami, berterimakasih kepada Polri, sering seringlah ada acara seperti ini,” ujarnya.
Sedangkan Kepala Desa Tunggusari Ahmad Khoiri, menilai Jum’at Curhat bisa menambah wawasan, sehingga masyarakat mengetahui informasi tentang Kepolisian.
“Apalagi, kami di desa sering berhadapan dengan berbagai komponen. Kami harap, jika ada masalah di desa, maka sebaiknya ditangani di desa,” harapnya.
Khoiri juga menyampaikan informasi adanya tindak Kriminal, terutama peredaran narkoba dan obat terlarang, yang sudah merambah ke desa desa.
“Apa tindakan kepolisian, untuk mengarahkan anak anak muda,” katanya.
Menjawab pertanyaan masyarakat itu, Sudariyanto menyarankan agar jika ada informasi, tentang adanya tindak Kriminal, bisa langsung disampaikan kepada Polres Jember.
“Bisa juga menggunakan Call Center 110, yang terkoneksi langsung ke Polri,” pungkasnya. (#)





