21.3 C
East Java

Petani Tebu Jember Sambut Program Bongkar Ratoon, Soroti Minimnya Sosialisasi

Jember, Jempolindo.id – Program peremajaan tebu “Bongkar Ratoon” atau Calon Petani Calon Lahan (CPCL) Tebu disambut baik sebagai upaya mendukung swasembada gula nasional.

Namun, program yang dicanangkan Pemerintah Pusat dan Daerah ini menuai kritik, akibat minimnya sosialisasi dari Pabrik Gula (PG) Semboro sebagai pelaksana.

Baca juga:

Minimnya Sosialisasi Dana Bongkar Ratoon Untuk Petani Tebu Jember 

Program yang bertujuan mengganti tebu keprasan (ratoon) tua dengan bibit unggul baru ini secara serentak diluncurkan di Jawa Timur, pada Rabu (3/12/2025).

Acara tersebut dihadiri secara virtual oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak, yang menegaskan keseriusan program ini.

Target Ambisius dan Bantuan yang Ditawarkan

General Manager PG Semboro, Agus Budi Juwono, menjelaskan program ini menyasar petani dengan produktivitas di bawah 70 ton per hektar. Tujuannya adalah:

  1. Meningkatkan produktivitas tebu hingga di atas 100 ton per hektar.
  2. Memperbarui bibit dan meremajakan lahan.

Kabupaten Jember menargetkan areal Bongkar Ratoon seluas 2.600 hektar, meski realisasi hingga kini baru sekitar 450 hektar.

“Program akan dilanjutkan bertahap hingga tahun depan,” tegas Agus.

Bantuan yang disediakan meliputi bibit tebu dan biaya garap (AOK) sebesar Rp 4 juta per hektar. Pendaftaran dibatasi maksimal 5 hektar per petani.

“Untuk mendaftar, petani cukup hubungi PG Semboro dengan membawa KTP dan bukti kepemilikan atau sewa lahan,” kata Agus.

Kritik dari Lapangan: Sosialisasi Minim dan Keterlibatan Organisasi Petani

Di balik target tersebut, para petani menyoroti masalah komunikasi.

Nuruddin, petani dan pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Jember, mengungkapkan kegelisahannya.

Ia mempertanyakan ketidakhadiran para ketua APTR dalam sosialisasi.

“Yang hadir adalah perangkat wilayah dan dinas. Kenapa ketua APTR tidak hadir? Hanya diwakilkan,” ujarnya.

Menurut Nuruddin, sosialisasi dari PG dan organisasi petani sangat minim.

Petani kesulitan mendapatkan informasi resmi tentang petunjuk pelaksanaan (juklak) dan teknis (juknis), serta proses pendaftaran.

“Seharusnya program sudah gencar sejak Oktober atau Juli, mengingat masa tanam optimal Desember-Januari. Keterlambatan ini bisa mengganggu pencapaian target,” tambahnya.

Ia juga mengkhawatirkan ketidakmerataan akses informasi.

“Saya khawatir program mulia ini justru ‘diserobot’ oleh pengusaha tebu skala besar jika sosialisasi tidak merata dan transparan,” kata Nuruddin.

Beruntung, ia akhirnya dapat mendaftarkan 2 hektar lahannya setelah berinteraksi langsung dengan GM PG Semboro dalam acara tersebut.

Tuntutan untuk Perbaikan Komunikasi

Kritik ini menjadi alarm bagi PG Semboro dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk Asosiasi Petani Cane Grower (APCTR), untuk segera memperbaiki mekanisme sosialisasi dan pendataan.

“Dukungan Presiden untuk swasembada gula dan Waguber Jatim akan sia-sia jika petani di akar rumput tidak dapat informasi yang jelas, cepat, dan transparan,” tegas Nuruddin.

Ia menekankan pentingnya transparansi juklak-juknis dan penyebaran informasi yang luas hingga ke kelompok tani terkecil.

Program Bongkar Ratoon merupakan harapan besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani tebu dan produktivitas gula nasional. Kesuksesannya sangat bergantung pada sinergi yang tidak hanya seremonial, tetapi juga implementatif dan inklusif di tingkat lapangan. (#)

  • Pewarta: Sundari
  • Editor: Miftahul Rachman 
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img