Mitos Desa Kemiri, Gadisnya Cantik dan Menawan

Desa Kemiri

Loading

Jember _ Jempolindo.id_ Wanita Cantik di Desa Kemiri Kecamatan Panti Kabupaten Jember, sepertinya bukan sekedar mitos. Faktanya, perempuan di desa ini memang sebagian besar, tampak awet muda dan cantik, meski usianya sudah menjelang senja.

Baca juga : Evaluasi Kebijakan SSA Dishub Jember 

Mayoritas perempuan Desa Kemiri berkulit putih bersih, atau kuning langsat, tutur katanya lembut, dan menawan.

Desa Kemiri
Keterangan Foto: Dari kiri , Satoha (Budayawan), Almarhum Mbah Maryati, dan Jempolindo

Untuk menjawab misteri itu, jempolindo sengaja mencoba menemui tokoh masyarakat di desa Kemiri, pada Selasa (03/12/2024).

Budayawan setempat, Satoha, mencoba mengungkapkan mitos itu, berdasarkan cerita rakyat yang berkembang.

Konon, menurut Satoha, kecantikan wanita Desa Kemiri, terhubung dengan legenda Dewi Rengganis, seorang putri cantik, penghuni Pegunungan Argopuro.

“Beliau, sang Dewi, masih dipercaya masih hidup hingga sekarang,” tutur Satoha.

Secara geografis, Desa Kemiri terletak persis di lereng sebelah selatan Pegunungan Argopuro. Karenanya, cukup beralasan, jika ada anggapan bahwa Wanita Desa Kemiri, dikaitkan dengan keturunan Dewi Rengganis, yang cantik molek.

“Dewi Rengganis merupakan putra dari seorang begawan, penghuni Pegunungan Argopuro,” kata Satoha.

Kecantikan Dewi Rengganis, menurut mantan Guru Agama itu, karena suka memakan bunga bunga yang sedang mekar.

“Karena kegemarannya itu, membuat sang Dewi menjadi awet muda, bahkan usianya juga bisa mencapai ratusan tahun,” tegasnya.

Mbah Kemiri Cikal Bakal Desa Kemiri

Selain itu, kecantikan perempuan Desa Kemiri, kata pengurus Dewan Kebudayaan Jember itu, juga merupakan berkah dari seorang begawan, yang hidup di era Kerajaan Majapahit.

Masyarakat mengenalnya dengan sebutan Eyang Basmen, julukan dari Raden Kerto Wiryo. Makamnya berada di Desa Kemiri, yang hingga kini masih ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

Lantas apakah Mbah Kemiri dan Eyang Basmen, adalah sosok yang sama atau sosok berbeda.

Penelusuran sementara, silsilah keduanya masih harus ditelusuri kebenarannya. Ada sebagian yang menyebut sosok yang berbeda, ada juga yang menyebutnya Mbah Kemiri merupakan keturunan dari Eyang Basmen.

Mbah Kemiri, nama sebenarnya adalah Eyang Kasmah, yang keturunannya masih ada.

“Mbah Kemiri, merupakan sosok pembabat alas Desa Kemiri, yang hingga sekarang menjadi pepunden masyarakat Desa Kemiri,” ujarnya.

Ada juga yang menyebut Mbah Kemiri, sesungguhnya berasal dari daerah Magelenan Jawa Tengah, yang melanglang buana, hingga sampai di Lereng Pegunungan Argopuro.

Menurut hikayat, yang disampaikan oleh Mbah Maryati, cucu dari Mbah Kemiri. Sampainya Mbah Kemiri, di daerah Jember, gara-gara ingin mendapatkan daun tembakau, yang ditanam di daerah Jember.

“Namun, saat di Jember, Mbah Kemiri, malah enggan pulang ke tanah kelahirannya,” kata Satoha.

Mbah Kemiri, malah ingin mengelola dan merawat kawasan lereng Pegunungan Argopuro, sebagai ladang perkebunan dan pertanian.

Setelah membuka kawasan menjadi ladang pertanian, Mbah Kemiri bersama kerabatnya, melanjutkan dengan menanam pohon, diantaranya pohon Kemiri.

“Itulah cikal bakal, desa ini bernama Desa Kemiri,” ujarnya.

Sendang Tunjung Biru

Sesungguhnya, kawasan yang berada di bawah kekuasaan Mbah Kemiri, bukan hanya Desa Kemiri, melainkan meluas di Kecamatan Panti dan sekitarnya.

Klaim itu didukung dengan berkembangnya cerita rakyat di daerah sekitar Kecamatan Panti, bahkan di sekitar Kecamatan Bangsalsari dan Tanggul.

Diantaranya, kisah Sendang Tunjung Biru, yang dianggap sebagai Sendang Kemakmuran oleh masyarakat.

“Dulu, jika desa akan mengadakan selamatan atau sedekah desa, biasanya wajib mengambil air sendang Tunjung Biru,” kata Satoha.

Sendang itu, berada di Desa Panti, Kecamatan Panti, yang hingga kini masih ada. Sayangnya, sudah tidak ada lagi kembang Tunjung biru, yang dulu tumbuh di tengah sendang.

Air sendang itu, dipercaya sebagai air berkah yang dapat membawa kemakmuran bagi masyarakat desa yang menyelenggarakan sedekah desa.

“Setelah mengambil air sendang, wajib meminta ijin kepada Mbah Kemiri, untuk kemudian dibawa pulang, sebagai pelengkap selamatan,” ujar Satoha.

Kembang Kemakmuran, Wanita Cantik dan Pernikahan Langgeng

Pada tahun 2020, tokoh Pemuda Desa Panti Irham Fiduziar, sempat mengajak Jempolindo mengunjungi Sendang, tempat yang diyakini tempat tumbuhnya Kembang Tunjung Biru (red : Teratai Biru), di Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember.

Sendang itu, berada di sekitar rumpun bambu, airnya bening, berbatasan dengan areal persawahan, yang dipisahkan oleh aliran sungai.

Sayangnya, sebagian besar sudah tertupi timbunan tanah. Sedangkan Bunga Tunjung Biru, sudah tak lagi tumbuh dan tinggal cerita yang masih berkembang.

Air bening Sendang itulah, yang dulu diyakini dapat membawa berkah kemakmuran.

“Bukan hanya itu, air sendang itu juga dipercaya dapat menambah awet muda, membuat wanita makin cantik dan melanggengkan pernikahan,” ujarnya.

Air sendang, kata Irham, hanya dapat berfungsi maksimal, jika sudah mendapatkan ijin dari Mbah Kemiri.

“Jadi bagi mereka yang punya hajat, setelah mengambil air di sendang, masih harus minta restu kepada Mbah Kemiri,” ujarnya. (MMT)