JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Komisi B DPRD Kabupaten Jember melakukan inspeksi mendadak (Sidak) pelaksanaan program Optimasi Lahan (Oplah) pertanian di Wilayah Kecamatan Bangsalsari, pada Selasa (03/02/2026).
Program Oplah yang dikunjungi diantaranya Desa Banjarsari, Tisnogambar dan Tugusari.
Menurut Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Jember, Candra Ary Fianto, yang ditemui saat berada di lokasi, menjelaskan bahwa sidak dilakukan setelah adanya Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama petani.
“Hari ini kami menindaklanjuti hasil RDP itu, di beberapa lokasi program Oplah,” katanya.
Berdasarkan hasil tinjauan lapangan, di Desa Banjarsari, terdapat program Oplah, pembangunan tandon air, untuk menyediakan kebutuhan pengairan lahan seluas 19,1 hektar, dengan nilai anggaran yang berasal dari APBN tahun 2025 sebesar Rp 91 juta.
Di desa Tugusari, nilai anggaran sebesar Rp 115.966.000, untuk pembuatan sumur pertanian, untuk memenuhi pengairan areal lahan seluas 25,21 hektar.
Serta, di Desa Tisnogambar, anggaran sebesar Rp 159.420.000, untuk pengairan areal lahan seluas 34,66 Hektar.
Menurut Candra hasil temuan di lapangan akan dikaji lebih lanjut, untuk dibahas dalam rapat komisi B DPRD Kabupaten Jember.
“Selanjutnya, kami akan mengundang Dinas Pertanian, Kelompok Tani dan petani,” katanya.
Harapan Petani
Hariyanto, petani asal Desa Banjarsari, menjelaskan bahwa program Oplah tersebut dinilai perlu adanya evaluasi.
“Kalau dilihat sepintas, contohnya di desa kami, nilai sarana dan prasarana Oplah, hanya berkisar 10 jutaan, dengan anggaran 91 juta,” katanya.
Selain itu, tandon air yang dibangun dipandang kurang tepat, untuk optimasi lahan pertanian.
“Lahan pertanian kami tadah hujan, kami khawatir pada saat musim kemarau, tandon air itu justru tidak berfungsi, karena tidak adanya sumber air,” ujarnya seraya bertanya.
Untuk itu, Hariyanto mendesak agar DPRD Kabupaten Jember mengevaluasi pelaksanaan Oplah, sehingga tujuan dari program tersebut dapat terpenuhi.
“Saya kira, program ini sejak tahap perencanaan, hingga pelaksanaannya patut dipertanyakan,” tegasnya.
Target Oplah
Sementara, Bupati Jember Muhammad Fawait dalam sebuah kesempatan menegaskan bahwa program Oplah, bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di kabupaten Jember.
Pemerintah daerah berupaya menghidupkan kembali lahan-lahan yang sebelumnya kurang produktif sekaligus memperluas cakupan lahan yang bisa ditanami lebih dari satu musim dalam setahun.
Program ini berjalan dengan mekanisme swakelola yang memberi kebebasan pada petani untuk mengelola kegiatan sesuai kebutuhan lapangan, terutama di wilayah yang selama puluhan tahun tidak pernah tersentuh bantuan infrastruktur pertanian.
Dampak nyata dari mekanisme ini terlihat pada pembangunan infrastruktur air di berbagai lokasi.
Banyak daerah terpencil kini dapat menikmati akses air untuk pertama kalinya, meningkatkan peluang menanam padi lebih dari satu kali setahun.
Menurut Gus Fawait, keberhasilan tersebut bukan hanya soal angka, tetapi menjadi bukti bahwa petani Jember mampu menjadi motor pembangunan ketika diberi ruang untuk mengelola program secara mandiri.
“Dalam program ini, seluruh kegiatan dijalankan menggunakan sistem swakelola tipe IV, di mana dana ditransfer langsung ke rekening kelompok tani dan dikelola sepenuhnya oleh mereka,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (28/11/2025).
Adapun pelaksanaan OPLAH tahun ini dikelola oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Jember dengan total alokasi lahan mencapai 4.410 hektare dan melibatkan 107 kelompok tani.
Dalam implementasimya, seluruh anggaran diterima utuh oleh kelompok tani dan diawasi melalui tim teknis serta tim pengawas agar tetap sesuai pedoman.
Pemerintah daerah berkomitmen menjaga transparansi, memperkuat pengawasan, dan memastikan setiap rupiah anggaran benar-benar memberi manfaat bagi petani.
Untuk mewujudkan visi tersebut, program OPLAH menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur air dan dukungan sarana produksi bagi petani.
Salah satu komponen penting adalah perbaikan saluran irigasi, normalisasi alur air, hingga pemanfaatan sumber air baru.
Langkah ini dinilai sangat penting bagi wilayah yang sebelumnya hanya mampu menanam padi sekali setahun, karena kini membuka peluang peningkatan indeks pertanaman dari IP 1 menjadi IP 2, bahkan menuju IP 3.
Dampak positifnya, mendorong pemerintah daerah menetapkan target produksi padi hingga 1 juta ton pada 2026.
Saat ini Jember berada pada angka 602 ribu ton, menempati posisi keempat di Jawa Timur dan bersaing ketat dengan Lamongan, Ngawi, dan Bojonegoro.
Melalui OPLAH, Jember ingin menembus posisi puncak sebagai daerah dengan produksi padi tertinggi di Jawa Timur. (#)
- Pewarta: Sundari Rianto
- Editor: Miftahul Rachman





