Kirab Pusaka Reog Ponorogo Asli di Jember Mendapat Perhatian Media

0
263

Jember – Jempol.  Kirab pusaka asli Ponorogo yang digelar di Kecamatan Balung Jember, Sabtu (23/3/19) mendapat sorotan sejumlah media massa. Pasalnya, giat itu memang diakui sejumlah kalangan memiliki daya magnet tersendiri.

Pimpinan rombongan seniman reog Ponorogo, Langgeng Dwi yang menghadiri giat itu menyatakan kekagumannya.

 “Alhamdulillah dari Ponorogo ada 17 orang yag hadir ke Balung, terdiri atas beberapa warok dan seniman pembarong khususnya maestro pembarong Kembar Mbah Suwandi-Suwondo serta seniman yang tergabung dalam yayasan reog Indonesia,” kata Langgeng

Aksi Pembarong Kembar Legendaris Suwondo – Suwandi, tanpa dadak merakpun terkesan indah dan magis

Kata Langgeng, jika bicara pembarong maka orang Ponorogo pasti terlintas sang Legendaris Pembarong Kembar Suwondo dan Suwandi. Kehadiran sang legenda itu memperkuat suasana kebatinan diantara para pelaku reog.

Tak salah jika Detik.com mengangkat tajuk Kirab yang dinilainya baru pertama kalinya digelar di Jember. Ke khasan acara itu justru ada pada Kirab Pusaka berupa Kepala Barong Dadak Merak  yang berumur ratusan tahun.  Pusaka peninggalan para warok itu diarak  dengan melakukan long march sejauh kurang lebih 2 km  menuju Lapangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) kecamatan Balung.

Menurut Sekretaris Panitia Moh Ilham Wardana, barisan Kirab Pusaka   diiringi para pendekar dan pesilat Cimande, seniman reog Ponorogo, beserta warok dan pembarong, serta grup jaranan.  Sejumlah 25 kelompok   Jaranan   di wilayah selatan Kabupaten Jember tampak turut terlibat. Sambil membawa 20 tumpeng yang sedianya akan dimakan bersama  sebagai penanda ritual reog, dalam tradisi “Kembul Bujono”, sekaligus simbol rasa kebersamaan.

 “Tumpeng  akan dinikmati bersama – sama sebagai pertanda rasa kebersamaan diantara pecinta kebudayaan Reog,” katanya.

Tak disangkal,  seperti dilansir Jatim.Sindonews.com, menyitir pandangan Sejarawan Muda Setyo Hadi, menilai  kegiatan itu merupakan rangkaian agenda seni warga Panoragan dan seniman reog asal Ponorogo khususnya gelar  Kirab Pusaka Reog yang baru pertama kali terjadi  di Jember.


“Saya sungguh sangat menyesal tidak bisa hadir karena ada acara di Malang, padahal peristiwa ini [Kirab Pusaka Reog asli Ponorogo] merupakan peristiwa langka, bahkan di Ponorogo saja belum pernah dilakukan. Sungguh peristiwa civil over yang menajubkan dengan dibingkai silaturahim,” kata Setyo Hadi, seperti dilansir Jatim.Sindonews.com

TribunJatim.com  memotret kebudayaan Reog Ponorogo yang berkembang dan mengakar di Kabupaten Jember. Seperti dikatakan dosen Fakultas Ilmu Budaya dan Bahasa Universitas Jember  Suharto, keberadaan 25 grup reog yang berkembang di Jember Selatan merupakan bukti  bahwa memang terdapat sambungan sejarah yang dibangun dari eksisnya  komunikasi kebudayaan.

“Dengan adanya kirab pusaka reog serta kehadiran para seniman reog beserta para warog asli Ponorogo ke Jember ini sangat menggembirakan sekali. Publik menanggapi positif, faktanya meski sempat hujan penonton sangat antusias hingga jalanan di Balung macet. Silaturahmi seniman ini mesti berlanjut terus,” kata Suharto, yang biasa dipanggil Mak Endon atau Mas Gendon.

www.malangpostonline.com  mengangkat peranan mantan PJ Bupati Jember Zarkasi yang terlibat aktif  mendukung suksesnya acara sakral itu.

Menurut  Zarkasih dukungannya dilakukan karena menyadari adanya hubungan kultural antara  masyarakat Jember dan Ponorogo yang   sepertinya sudah terbangun sejak lama. Terdapat banyak bukti – bukti yang memperkuat dugaannya itu, diantaranya keberadaan trayek Ambulu – Ponorogo yang justru tidak masuk di Terminal Tawang Alun Jember.  

“Hal itu saya rasakan ketika  mempertahankan trayek angkutan Ambulu – Ponorogo yang harusnya ditutup, karena tidak masuk terminal Jember,” kenang Zarkasih, ulas www.malangpostonline.com . (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini