JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Pemerintah Kabupaten Jember melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar Apel Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional Tahun 2026 di kawasan Agrowisata Sidomulyo, Minggu (26/4/2026).
Kegiatan ini bersamaan dengan peringatan serentak di seluruh Indonesia yang dipusatkan di Provinsi Aceh oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Dalam apel tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember menetapkan status siaga darurat bencana sebagai bentuk kesiapan menghadapi potensi bencana tahun ini.
Hadir mewakili Bupati Jember Muhammad Fawaid, Kepala BPBD Kabupaten Jember Edy Budi Susilo bersama seluruh jajaran Muspika Kecamatan Silo, Wakil Administrator Perhutani Jember Suyono, Koordinator Polhut Taman Nasional Meru Betiri, serta seluruh relawan tanggap bencana.
Edy menyampaikan bahwa seluruh komponen pemerintah daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), hingga pemangku kepentingan terkait telah menyatakan kesiapannya.
“BPBD bersama instansi terkait telah menyiapkan posko siaga serta melakukan pemetaan wilayah rawan. Tercatat terdapat tujuh wilayah yang masuk kategori prioritas pengawasan, baik untuk potensi kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” ujar Edy mewakili Bupati Jember yang berhalangan hadir.
Dia merinci, wilayah yang diidentifikasi rawan kekeringan meliputi Tempurejo, Kalisat, dan Sumbersari. Sementara kawasan Wuluhan menjadi perhatian khusus terkait potensi karhutla.
Perhutani Tingkatkan Mitigasi
Sementara itu, Wakil Administrator Perhutani Wilayah Jember, Suyono, mengatakan bahwa pihaknya meningkatkan langkah mitigasi kebakaran hutan dan lahan seiring dengan potensi musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi tahun ini.
“Sejumlah wilayah lereng pegunungan diidentifikasi sebagai zona rawan yang memerlukan perhatian khusus. Beberapa lokasi prioritas pengawasan antara lain kawasan Wuluhan, lereng Argopuro, lereng Gunung Raung, termasuk wilayah Sumberjambe dan Sempolan,” jelas Suyono.
Menurutnya, wilayah selatan seperti Wuluhan memiliki potensi tinggi karena kondisi geografis berupa pegunungan dan material kering saat kemarau panjang yang mudah terbakar.
“Kami sudah melakukan antisipasi dan sosialisasi kepada seluruh masyarakat setempat,” imbuhnya. (#)
- Pewarta: Selamet Hariyadi
- Editor: Miftahul Rachman





