Hujan Lebat Kirab Pusaka Reyog Tetap Digelar

Kepala Dadak Merak Itu Berusia 4 Generasi

0
472

Jember – Jempol.  Meski  hujan lebat, acara diskusi kebudayaan reyog yang digelar  Sanggar Putra Tanjung Balung dan didukung komunitas Silat Cimande Jember  tetap digelar. Agenda bertajuk “Kirab Pusaka & Diskusi Budaya Dalam Rangka Menggali Budaya Bangsa Membangun Indonesia Lebih Bermartabat Mari Kita Ciptakan Pemilu Damai 2019″ itu semula  dijadwalkan digelar di lapangan Balung, bergeser ke Pendopo Kecamatan Balung.  Minggu, 17 Maret 2019.

Ketua Panitia Bambang Sugiarto berterima kasih kepada Muspika Balung yang telah banyak membantu sehingga acara bisa digelar. Acara sempat tertunda,  hingga hujan sedikit  mereda. Panitia memutuaskan untuk tetap bertahan di pendopo Kecamatan Balung.

“Kami ucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga, jika saja  pihak muspika tidak memberi kemudahan, pasti  acara sudah gagal,” ungkap Bambang.

Camat Balung, Widayaka SH Msi menyambut positif acara yang diselenggarakan komunitas Reyog. Pihaknya berharap agenda  ini akan menjadi kegiatan positif untuk melestarikan budaya bangsa.  Lagipula, Jember dan Ponorogo memiliki ikatan kebudayaan  yang erat.

Sekretaris Panitia Moh Ilham Pradana sedang menyerahkan Akta Notaris

“Ada yang menarik,  sejak dulu ada trafik Bus jurusan Ambulu – Ponorogo, ini menunjukkan ada ikatan yang sudah lama terbangun,” katanya.

Acara yang diikuti tak kurang dari 25 Grup Reyog  yang di Wilayah Jember  bagian selatan dan Komunitas Cimande Jember itu,  terbukti mampu memberi daya tarik tersendiri kepada masyarakat yang hingga acara berahir waarga yang menonton masih tetap bertahan.

Kirab Kepala Dadak Merak Reyog Berusia 4 Generasi

Acara diawali dengan mengarak “Kepala Dadak Merak Reyog” atau biasa dikenal kepala Singobarong,  dari rumah Ketua Panitia Bambang Sugiarto menuju lapangan Balung. Kepala Singobarong yang sudah berusia 4 generasi itu  secara khusus  sengaja dibawa dari Ponorogo.  Piranti Reyog itu tak diketahui dengan pasti berapa umurnya. Teksturnya sangat terkesan sudah berusia sangat tua.

Pusaka Bujang Ganong

Menurut perwakilan Seniman Ponorogo Langgeng Dwi, Kepala reyog, terbuat dari kulit harimau dan merupakan piranti kunci pertunjukan reyog. Biasanya, diatas kepala dihiasi bulu – bulu merak asli.

Disamping Singobraong ada juga piranti TopengBujang Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri sehingga disetiap penampilannya senantiasa di tunggu – tunggu oleh penonton khususnya anak-anak.

Langgeng Dwi

“Kami merasa tersanjung, karena Kepala Singobarong ini pada ahirnya diminta diarak justru oleh seniman reog di Jember,” ungkapnya.

Kehadiran Sang Maestro

Penampilan  Sang Maestro Kembar Wondo dan Wandi  rupanya lumayan menyedot perhatian penonton.  Seniman Ponorogo yang berkesempatan hadir pada acara itu, meski tanpa dadak merak  berhasil membawakan tarian dadak merak dengan gaya  tarian klasik.

Sang Maestro Dadak Merak Wondo – Wandi

Menurut seniman Reog Ponorogo yang juga hadir pada acara itu, Shodig  Pritiwanto, tarian yang dibawakan sang Maestro itu merupakan jenis tarian dadak merak yang kini sudah hampir punah, sebuah gerakan tari yang bukan sekedar menggerakkan badan, melainkan memiliki nilai yang mendalam.

Seniman Ponorogo Shodig P

“Tarian mbah Wandi dan Wondo, memang sudah mulai ditinggalkan, ini merupakan tanggung jawab bersama untuk mewariskannya kepada generasi penerus,” kata Shodig prihatin.

Tarian Jatilan Kontemporer

Tarian Jatilan Kontemporer yang dibawakan Sanggar Putra Tanjung, juga mendapat perhatian  Shodig, yang menurutnya merupakan sebuah  perpaduan kreasi tarian jatilan klasik dan modern. Bukan saja gerakannya yang dinamis, tetapi pakaian yang dikenakan juga sudah sudah dimodifikasi.

Tarian Jatilan

“Jatilan itu menggambarkan Prajurit yang bertempramen seperti wanita. Ini merupakan bentuk kritik terhadap prajurit yang tidak punya ketegasan,” ungkap Shodig.

Shodig juga menjelaskan, gambaran  femenisme seorang prajurit juga terlihat pada  piranti “Jaranan” yang digunakan. Hal itu bisa dicermati dari bentuk ekor jaranan  dan bulu bulu yang ditempelkan.

“Bentuk jaranan juga membedakan secara tajam antara tarian jaranan di ponorogo dan di luar ponorogo,” kata Shodig.

Tampil juga pada kesempatan  penari dari UKM kesenian Universitas Jember dengan tarian modern.

Aksi Silat Cimande

Tak kalah menariknya, kelompok Silat Cimande juga membawakan atraksi yang berhasil membawakan jurus kembangan yang ternyata juga bisa dipadukan dengan musik reog. Pesilat dari Perguruan Anak Sholeh, Macan Tutul, Panji Nusantara, dan perguruan silat yang hadir juga mampu memberikan warna pertunjukan.

Permainan Alat Silat Cimande

Shodig sekali lagi memberikan kesannya bahwa tarian  kembangan silat cimande juga memiliki keindahan koreografi yang tak kalah indahnya.

“Tarian cimande ini jika digarap serius bisa jadi seni pertunjukan yang tak kalah menariknya,” Pungkasnya Shodig. (M1f)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini