22 C
East Java

Dunia Terancam Krisis Minyak, 700 Kapal Terjebak  di Selat Hormuz Termasuk 2 Tanker Indonesia 

JAKARTA , JEMPOLINDO.ID — Krisis minyak global mulai merambat ke seluruh dunia, persis seperti tumpahan minyak yang menyebar perlahan.

Kemacetan total di Selat Hormuz—jalur vital yang memasok 20% kebutuhan minyak dunia atau setara 20 juta barel per hari—kini mulai terasa dampaknya. Indonesia pun ikut terdampak, dengan dua kapal tanker milik Pertamina yang masih tertahan.

Tujuh Ratus Kapal Terjebak, Produksi Terpangkas

Perang antara AS-Israel melawan Iran yang meletus pada 28 Februari lalu telah melumpuhkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz selama lebih dari sebulan.

Data menunjukkan lebih dari 700 kapal menumpuk di kedua sisi selat, sementara volume tanker yang berhasil melintas anjlok 86% dibanding rata-rata tahunan. Kilang-kilang minyak di kawasan Teluk yang rusak akibat konflik diperkirakan membutuhkan minimal dua bulan untuk pulih—sekalipun perang berakhir hari ini.

Akibatnya, kilang di Teluk Persia kelebihan pasokan dan terpaksa menurunkan produksi. Harga minyak melonjak ke level 110 dolar AS per barel.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut ini sebagai gangguan pasokan terparah dalam sejarah, dengan proyeksi defisit 8 juta barel per hari pada Maret 2026.

Rantai Pasok Terganggu, Pemulihan Butuh Waktu

Dampaknya tidak berhenti pada harga BBM. Bahan baku industri seperti plastik, pupuk, dan kemasan mulai langka.

Di Singapura dan Malaysia, sekitar 70 kapal tanker raksasa berlabuh tanpa muatan, menanti waktu yang tepat untuk mengambil minyak dari Teluk.

Para analis memperkirakan butuh delapan pekan bagi kapal-kapal Asia Tenggara untuk dapat mengirimkan minyak secara normal.

Kapal Indonesia Tertahan, Negara Tetangga Lebih Dulu Dapat Izin

Di tengah krisis ini, dua kapal tanker Pertamina—Pertamina Pride dan Gamsunoro—masih terkatung-katung di perairan Teluk Persia. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui bahwa negosiasi dengan pihak Iran berjalan alot dan masih terus berlangsung.

Menariknya, Malaysia dan Filipina telah lebih dulu memperoleh izin melintas dari Iran. Malaysia bahkan sudah memberangkatkan tanker pertamanya pada 6 April, sementara Filipina mendapatkan izin melalui komunikasi telepon pada 2 April.

Pemerintah Indonesia pun terus berupaya membangun komunikasi intensif agar segera mendapatkan lampu hijau.

Pemerintah menjamin stok BBM nasional masih aman dan tidak bergantung pada kedua kapal yang tertahan, dengan cadangan energi yang cukup untuk 23 hari ke depan.

Namun, insiden ini menjadi pengingat bahwa kelambanan dalam langkah diplomatik di tengah krisis global dapat berdampak serius pada ketahanan energi.

Linimasa Krisis (Ringkasan)

  •  28 Februari 2026: Perang pecah, Selat Hormuz ditutup.
  • 1 Maret: Hanya 3 kapal tanker yang melintas.
  • · 3 Maret: Lebih dari 700 kapal mengantre.
  • 4 Maret: IEA umumkan defisit 8 juta barel/hari.
  • 25 Maret: Kapal kargo Thailand diserang.
  • 27 Maret: Kapal tanker Indonesia tertahan.
  • 2 April: Filipina dapat izin via telepon.
  • 6 April: Harga minyak tembus 110 dolar AS; kapal Malaysia pertama melintas.
  • 7 April: Analis peringatkan pemulihan berbulan-bulan.
  • Proyeksi Mei 2026: Aliran minyak pulih bertahap.

Penutup

Konflik Timur Tengah ini telah menjelma menjadi bencana logistik global. Di tengah upaya dunia mencari solusi, Indonesia harus memetik pelajaran dari ketidakcepatan diplomasi yang membuat kapal tankernya masih terkatung-katung.

Dampaknya mungkin belum langsung terasa hari ini, namun seperti tumpahan minyak, ia akan merembet perlahan—dan ketika terasa, mungkin sudah terlambat. (#)

- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img