24.3 C
East Java

Dana Desa Dipangkas,  Pembangunan Infrastruktur dan Bansos  Desa Curah Kalong Terdampak Signifikan

JEMBER, JEMPOLINDO.ID Kebijakan pemerintah pusat melakukan pemangkasan Dana Desa (DD), mulai memicu kekhawatiran di tingkat pemerintahan desa. Salah satunya di Desa Curah Kalong, Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.Pada Jum’at(9/1/2026).

Pemangkasan anggaran Dana Desa tahun 2026 ini dapat menghambat realisasi program prioritas, yang telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa).

Melalui Sekretaris Desa Curah Kalong, Bukhori Ismail, mengungkapkan bahwa pengurangan anggaran ini berdampak langsung pada keleluasaan pemerintah desa dalam mengeksekusi pembangunan.

“Yang jelas dampaknya amat dirasakan oleh warga masyarakat. Kenapa? Pemerintah desa dalam hal ini Pak Kades tidak dengan leluasa, melaksanakan pembangunan-pembangunan yang ada di desa karena sudah ada pemangkasan itu tadi,” ujar Bukhori, saat di konfirmasi  media ini, di Kantor Pemdes Curahkalong, pada Jum’at (09/01/2026).

Infrastruktur dan Ketahanan Pangan Jadi Terbatas

Dari total anggaran yang biasanya berkisar di angka Rp.2 miliar, Desa Curah Kalong kini mengalami penyusutan yang cukup tajam. Menurut informasi dari bagian keuangan desa, alokasi untuk pembangunan infrastruktur kini hanya tersisa sekitar Rp 74 juta.

“Itu pun penggunaannya sangat spesifik. Harus diarahkan untuk area pertanian, seperti jalan usaha tani atau saluran irigasi guna mendukung program ketahanan pangan,” kata Bukhori.

Pemangkasan Drastis Penerima BLT-DD

Sektor bantuan sosial juga tak luput dari dampak efisiensi ini. Pada tahun 2025, tercatat ada sekitar 70 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang menerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD). Namun, untuk tahun anggaran 2026, jumlah tersebut diprediksi akan merosot tajam.

“Untuk tahun 2026 dipangkas lagi, kemungkinan hanya sekitar 20 sampai 30 orang calon penerima nanti,” ujar Bukhori.

Pemberdayaan Potensi Desa Terancam Terhambat

Desa Curah Kalong memiliki potensi ekonomi  besar, yang membutuhkan dukungan infrastruktur mumpuni. Bukhori menjelaskan pembagian wilayah potensi desa menjadi dua sektor utama,

  •  Wilayah Utara: Mayoritas warga merupakan petani kopi hutan.
  • Wilayah Selatan Krajan  dan Curah Kalong Tengah Didominasi oleh perkebunan tebu.

Dua komoditas ini merupakan urat nadi ekonomi warga. Dengan terbatasnya anggaran pembangunan, pemerintah desa khawatir optimalisasi potensi kopi dan tebu ini, tidak bisa berjalan maksimal sebagaimana yang direncanakan sebelumnya.

“Namun, Pemerintah Desa Curah Kalong masih berupaya menyusun skala prioritas agar anggaran yang terbatas tetap bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas meskipun banyak program yang terpaksa ditunda,” tutupnya.(#)

  • Pewarta: Sundari Rianto
  • Editor: Miftahul Rachman 
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img