Asyiknya Wisata Di Bukit Terapi 9 Sambil Membangun Etika Berpolitik

0
297

Jember _ Jempolindo.id_ Etika berpolitik itu tercetus saat ngobrol santai di Bukit Terapi 9. Sebuah tempat yang cukup eksotis, di Desa Curah Nongko Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember. Sabtu (07/11/2020).

“Pendidikan politiik itu penting, tetapi lebih penting etika politik,” tutur Ketua DPD Partai Golkar Jember didepan sebagian pengurus DPD Partai Golkar Jember H Karimullah Dahrujiadi.

Pendidikan Politik memang dibutuhkan agar setiap pelaku politik memiliki kecerdasan yang cukup untuk menanggulangi problematika politik yang dinamis.

Hanya saja menurut Ji Karim, kecerdasan politik jika tak diikuti etika politik, maka bisa saja berjalan tanpa rel yang jelas.

“Contohnya, saat Partai sudah menentukan rekom mengusung pasangan calon bupati, sudah pasti kita berkomitmen memperjuangkan kemenangan calon bupati yang kita usung,” tuturnya.

Suasana diskusi terasa semakin ganyeng, angin semilir dipuncak bukit Terapi 9, sepertinya sedang menterapi mental para pengurus partai golkar dalam menghadapi tantangan jaman.

Sambil menikmati makan Ayam pedas bertadah daun jati, seolah mengajarkan bagaimana menggembleng kekuatan jiwa politisi yang tetap menjunjung tinggi moralitas.

“Pada dasarnya politik itu alat untuk memperjuangkan kepentingan publik, makanya bagaimana Bukit ini akan kita jadikan sebagai tempat untuk kegiatan yang produktif,” ujar Ji Karim.

Wakil Ketua DPD Partai Golkar Dima Akhyar membenarkan pernyataan Ji Karim. Menurut Dima, etika politik merupakan kompas pelaku partai politik. Tatkala Partainya memutuskan ke arah barat, maka seharusnya tak ada pengurusnya yang justru menuju ke Timur.

“Bilamana ini terjadi, entah pendidikan etik dan politik apa yang hendak di ajarkan pada rakyat dan dirinya,’ kata Dima

Politik memang tidak hitam putih, tentu selalu tersedia jawaban oleh para pelaku sebagai justifikasinya,

Sambil menikmati Ayam Pedas diatas bukit, Dima membeberkan pemikiran
Nicollo Machiavelli yang cenderung diposisikan sebagai patron antagon dalam ajaran politik kekuasaan,

“Ia dibenci dalam kata dan ceramah, namun ia kerap dipraktikkan dalam langkah2 politik nyata,” katanya.

Para Machiavellis berbungkus aneka status dan gaya, bernaung dibawah bendera partai-partai politik yang beraneka, Machiavellis piawai mengemas kebohongan sehingga terdengar sebagai kejujuran, pembunuhan karakter sebagai kemuliaan,

“Ia piawai menyusun narasi, melakukan sugesti dan menyimpulkan peristiwa dengan dirinya sebagai ukuran kebenarannya,” Katanya.

Tujuan Machiavellis adalah meraih dan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, moralitas bukan pilihannya kecuali ia dapat membantu meraih dan mempertahankan kekuasaan yang di incarnya tersebut,

Machiavellis hanya gelisah pada mereka yang ber Integritas, yakni mereka yang setia dengan nilai dan norma dalam kata dan lakunya,

Mereka yang berintegritas bisa saja kalah dalam pertarungan politik kekuasaan, namun mereka tak pernah kalah dalam pengaruh mencerahkan peradaban,

Dan kehidupan memang merupakan pertarungan tak berkesudahan, ia berlangsung menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari dan medan peperangan itu bermula di ruang pikiran, hati dan nurani kita sendiri,

” Kita punya banyak pilihan gaya berpolitik, dengan segala konsekuensi atas pilihan cara berpolitik tersebut,” Tutur Dima, tampaknya rasa Ayam Pedas semakin terasa pedas.

Tak terasa, setengah hari kami habiskan waktu buat menikmati suasana Bukit Terapi 9. Kami ber tujuh harus segera turun bukit, khawatir hari semakin malam. (*)