JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Akibat Jembatan roboh diterjang banjir, yang terjadi pada 15 Desember 2026, telah mengganggu aktivitas sehari hari warga Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember.
Anak anak yang bersekolah di SD Negeri 1 Jubung dan SMKN 5 Jember, juga mengalami kesulitan menyebrangi sungai Bedadung sepanjang 150 meter lebih itu.
Mereka sempat harus menggunakan rakit bambu, agar bisa menyeberangi sungai, dengan bantuan warga setempat.
Sambil menunggu rencana pembangunan dari anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Desa Jubung mengambil inisiatif dengan menghadirkan perahu karet, sebagai sarana penyeberangan sementara.
Uji coba menggunakan perahu karet itu dilakukan oleh Kepala Desa Jubung Bhisma Perdana, pada Jum’at (17/04/2026).
Menurut Bhisma Perdana, kebijakan ini sebagai respons darurat sambil menunggu pembangunan ulang jembatan penghubung.
“Sambil menunggu pembangunan jembatan terlaksana, langkah ini kami lakukan agar aktivitas warga tetap berjalan,” ujarnya.
Bagi warga Dusun Darungan, jembatan itu memegang peranan penting, yang menghubungkan dengan tiga kecamatan, yakni Kecamatan Ajung, Sukorambi, dan Rambipuji.
Putusnya jalur itu praktis menghambat mobilitas warga, mulai dari aktivitas ekonomi hingga pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Dalam situasi darurat, warga sempat mengandalkan rakit bambu. Namun, cara tersebut berisiko tinggi, terutama saat debit air meningkat.
“Keselamatan warga menjadi pertimbangan utama,” tegas Bhisma.
Merespons kondisi ini, Pemerintah Desa Jubung bersama komunitas lokal Jubung Peduli bergerak cepat. Kolaborasi lintas elemen terbangun dalam semangat gotong royong.
Pemerintah desa memilih perahu karet sebagai alternatif. Meski sederhana, penerapannya tidak sembarangan. Aparat desa menyiapkan sistem pengamanan ketat, termasuk menempatkan tiga petugas khusus di titik penyeberangan.
Mereka bertugas mengoperasikan perahu sekaligus memastikan setiap warga mematuhi prosedur keselamatan.
“Para petugas tersebut juga mendapatkan honor dari pemerintah desa sebagai bagian dari layanan publik yang dikelola secara resmi,” ujarnya.
Langkah ini mencerminkan pendekatan adaptif pemerintah desa dalam menghadapi kondisi geografis dan cuaca yang sulit diprediksi.
“Alih-alih terus mengandalkan pembangunan fisik yang rentan rusak, solusi lebih fleksibel menjadi pilihan rasional dalam situasi darurat,” jelas Bhisma.
Penguatan Kapasitas Desa
Di sisi lain, pemerintah desa mulai merancang penguatan kapasitas.
Wakil Ketua BPD Desa Jubung, Dimas Krisdianto, yang juga pernah aktif sebagai anggota pecinta alam semasa mahasiswa, menggandeng pemerintah desa untuk berkolaborasi dengan komunitas pecinta alam MAPALUS.
“Kolaborasi ini memberikan pelatihan standar operasional prosedur (SOP) sekaligus edukasi penggunaan perahu karet secara profesional,” kata Dimas.
Dimas juga melihat peluang lain dari inisiatif tersebut. Menurutnya, pengelolaan yang baik tidak hanya menjadikan perahu karet sebagai solusi sementara, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata desa.
“Agar tidak hanya menjadi akses penghubung, perahu karet ini kami harapkan bisa menjadi embrio wisata di Desa Jubung,” ujarnya.
Kolaborasi ini tidak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi situasi darurat serupa di masa mendatang.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari sarana pendidikan dan pelatihan khusus (diklatsus) bagi Destana (Desa Tangguh Bencana) Desa Jubung. (#)





