19.6 C
East Java

Kepakkan Sayap Demokrasi: Satu Suara di Pilkades 2027 Mengubah Masa Depan Desa Jember

JEMBER, JEMPOLINDO.ID Sebanyak 161 desa di Kabupaten Jember bersiap menggelar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak pada tahun 2027.

Rencana ini menyedot perhatian banyak kalangan, termasuk mantan Sekretaris Asosiasi Kepala Desa (AKD) Provinsi Jawa Timur periode 2014–2020, Bhisma Perdana.

Melalui suratnya ke meja redaksi, Bhisma menuangkan pokok-pokok pemikiran tentang momentum Pilkades.

Sosok yang masih menjabat sebagai Kepala Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi ini, telah terlibat langsung mengawal berbagai aspek pembangunan di desanya.

“Saya seorang Kepala Desa di Kabupaten Jember dan telah mengabdi selama tiga periode penuh. Selama hampir 20 tahun, saya menyaksikan langsung denyut nadi demokrasi desa,” ujarnya.

Efek Kupu-Kupu dalam Demokrasi Desa

Gagasan Bhisma, bersandar pada Teori Kekacauan (Chaos Theory) yang mengenalkan konsep Efek Kupu-Kupu (Butterfly Effect)

Kepakan kecil sayap kupu-kupu di satu tempat mampu memicu badai di tempat lain.

“Sekarang, kita coba terapkan konsep itu pada Pilkades,” ujarnya.

Satu suara yang Anda berikan karena iming-iming uang, satu keputusan apatis, atau satu pelanggaran kecil yang kita biarkan — semua itu menjadi “kupu-kupu” perusak.

“Kelak, ia memicu badai di desa: pembangunan mandek, konflik berkepanjangan, generasi kehilangan harapan, dan desa tertinggal dari tetangganya,” jelasnya.

Sebaliknya, satu pilihan sadar, satu suara karena visi dan integritas, serta satu tindakan pengawasan tegas — itulah kepakan sayap yang membawa angin segar.

“Hasilnya? Desa maju, mandiri, sejahtera, dan pemimpinnya berkualitas,” katanya.

Pilkades: Demokrasi Tertua yang Menentukan Masa Depan

Bhisma menegaskan, Pilkades mewakili demokrasi tertua di Indonesia. Ia menjadi akar segala pembangunan yang sesungguhnya.

Pilkades juga membawa harapan bagi setiap desa untuk melahirkan pemimpin yang mendorong kemajuan dan kesejahteraan.

Karena itu, ia mendukung pelaksanaan Pilkades sekali dalam delapan tahun.

“Periode yang lebih panjang memberi kesempatan kepala desa terpilih untuk bekerja lebih fokus, menyusun program jangka panjang, dan menghasilkan karya nyata tanpa terbebani persiapan pemilihan setiap delapan tahun,” jelasnya.

Namun, ia mengamati masyarakat kerap terjebak rutinitas lama.

Pilkades yang semestinya penuh makna berubah menjadi gegap gempita semata: spanduk bertebaran, suara pengeras suara menggelegar, dan uang mengalir deras.

“Akibatnya, pemilih kadang melahirkan pemimpin dengan kualitas kurang memadai. Masyarakat pun semakin terbiasa dengan pilihan oportunis,” katanya.

Menyerukan perubahan fundamental.

Sosok ini  percaya, Kabupaten Jember mampu menjadi lebih baik, dengan cara melaksanakan  Pilkades Serentak 2027,  melalui revolusi Pilkades.

“Bukan perubahan kecil, melainkan transformasi mendalam untuk melahirkan pemimpin visioner dan masyarakat yang sadar akan haknya,” tegasnya.

Tiga Tantangan Besar yang Harus Dihadapi

Alumni Fakultas Hukum Universitas Negeri Jember ini,  memetakan tiga tantangan utama yang menghambat demokrasi desa yang sehat:

  1. Masyarakat apatis – Warga merasa calon pemimpin tidak mewakili mimpi mereka. Mereka datang ke TPS karena terpaksa atau iming-iming sesaat, bukan keyakinan.
  2. Budaya politik uang – Praktik ini menggerogoti akar demokrasi desa, merusak proses, dan menghancurkan masa depan desa.
  3. Pengawasan dan penyelesaian sengketa lemah – Akibatnya, keadilan terasa jauh dari jangkauan warga desa.

Renungan: Memilih Pemimpin Ibarat Memeras Kelapa

Bhisma menyampaikan perumpamaan sederhana namun kuat.

“Memilih pemimpin ibarat memeras sesuatu. Jika Anda memeras kelapa segar dan berkualitas, Anda mendapat santan kental, putih, dan bermanfaat,” ujarnya.

Santan itu menjadi sumber nutrisi serta kekuatan hidup. Namun, jika Anda memeras bangkai atau kotoran, yang keluar hanya lendir busuk, racun, dan kehancuran.

Demokrasi desa pun demikian. Proses Pilkades menentukan hasil yang diperoleh.

“Jika kita memilih dengan hati-hati, cerdas, dan penuh integritas, kita melahirkan pemimpin yang mendatangkan kemajuan, kesejahteraan, dan kebanggaan desa,” ujarnya.

Sebaliknya, jika membiarkan politik uang dan kualitas rendah mendominasi, maka hanya mendapat kepemimpinan busuk, pembangunan stagnan, serta masa depan desa yang tercemar.

Dua Langkah Nyata Menuju Pilkades Berkualitas

Bhisma mengajak seluruh pihak mewujudkan Pilkades yang lebih bermartabat melalui dua langkah konkret:

1.Bedah Isi Kepala dan Hati Calon dengan Serius,

Panitia Pilkades harus memaksimalkan kampanye visi-misi substantif, bukan sekadar janji manis. Bhisma mengusulkan skrining psikotes dan pemeriksaan kejiwaan bagi setiap calon sebelum penetapan.

“Desa kita butuh pemimpin yang cerdas, berintegritas, dan penuh inovasi,” ujarnya.

Pemimpin dengan IQ rendah, jarang membawa terobosan besar.

“Kita menginginkan pemimpin yang mampu berpikir jauh ke depan, bukan hanya mengelola rutinitas. Ini investasi nyata untuk masa depan desa yang lebih cerah,” jelasnya.

2. Bangun Pengawasan yang Kuat dan Tegas

Bhisma menekankan pembentukan Satgas Anti Kecurangan dan Politik Uang yang aktif sejak awal.

“Libatkan Bawaslu, aparat penegak hukum, dan tokoh masyarakat. Berikan sanksi yang jelas dan tegas terhadap setiap pelanggaran,” katanya.

Hanya dengan pengawasan ketat serta kepastian keadilan, yang bisa memutus rantai politik uang dan membangun budaya demokrasi yang sehat.

Pilkades 2027: Momentum Kebangkitan Desa

Bhisma menyebut Pilkades 2027 sebagai momentum bersejarah. Kesempatan ini memungkinkan kita mewariskan sistem demokrasi desa yang lebih baik kepada anak cucu.

“Mari kita ubah Pilkades dari sekadar ‘pesta demokrasi’ menjadi pesta akal sehat, integritas, dan visi besar. Mari lahirkan pemimpin yang tidak hanya omon omon tetapi mampu mewujudkan mimpi desa yang maju, mandiri, dan sejahtera,” ajaknya.

Ia mengajak pemerintah kabupaten, DPRD, panitia pilkades, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh warga untuk bahu-membahu mewujudkan revolusi ini.

Jadikan Pilkades 2027 sebagai titik balik. Jadikan demokrasi desa sebagai kekuatan pembangunan yang sesungguhnya.

“Pemimpin yang hebat lahir dari masyarakat yang berakhlak,” tutup Bhisma. (#)

- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img