JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Rapat Dengar Pendapat Panitia Khusus Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (Pansus LKPJ) I Bupati Jember Tahun Anggaran 2025, di DPRD Kabupaten Jember, membahas Revitalisasi Pasar Tradisional dan Program Gerobak Mlijo Cinta.
Pembahasan tersebut mendatangkan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskopum) Jember, di Gedung DPRD Kabupaten Jember, pada Kamis (02/06/2026).
Pembahasan Pansus I LKPJ 2025, dipimpin oleh Ketua Pansus I Mochamad Holil Asyari.
Poin Penting Pembahasan
Terdapat beberapa poin penting yang dibahas dalam rapat tersebut, diantaranya optimalisasi peran pasar tradisional dan Program Mlijo Cinta.
Melalui Wakil Ketua Pansus I DPRD Kabupaten Jember Wahyu Prayudi Nugroho, menjelaskan bahwa kondisi 30 pasar tradisional dan 7 Pasar Hewan di Jember, masih mengenaskan.
“Sehingga kami menyarankan kepada Dinas Koperasi, agar disediakan anggaran yang cukup, untuk revitalisasi pasar,” ujarnya.
Karena, retribusi pasar merupakan salah satu sumber PAD, yang dari target Rp 7 Miliar, masih tercapai 80 persen lebih.
“Maka diperlukan perbaikan sarana dan prasarana, sehingga dapat meningkatkan transaksi perdagangan, dengan mendatangkan banyak pembeli serta pedagang,” ujarnya.
Dalam upaya peningkatan peran pasar, Pemkab Jember telah berkoordinasi dengan Kementerian PU dan Kementerian Koperasi, untuk melakukan revitalisasi Pasar Tanjung, yang selama ini berfungsi sebagai pasar induk.
Dalam revitalisasi Pasar Tanjung, Pemkab Jember telah mengajukan anggaran sebesar Rp 237 Miliar.
“Tentu ini, sebuah terobosan yang bagus, untuk kita dorong bersama,” katanya.
Evaluasi Program Gerobak Melinjo Cinta
Selain itu, Wahyu juga menyinggung pembahasan program Gerobak Mlijo Cinta, yang telah menelan anggaran sebesar Rp 12 M, untuk 2300 penerima.
“Tadi kami juga menyampaikan, sejauhmana sebenarnya dampak dari program tersebut,” katanya.
Politisi PDI Perjuangan itu, minta kejelasan terkait dampak program tersebut, misalnya terhadap upaya menciptakan UMKM baru, atau meningkatkan kualitas UMKM yang sudah ada.
“Tentu perlu ukuran ukuran yang jelas. Keberhasilan sebuah program, bukan hanya berhasil mendistribusikan program, tetapi juga Sejauhmana dampak ekonominya terhadap para penerima manfaat,” tegasnya.
Jawaban Kepala Diskopum Jember
Melalui Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskopum) Kabupaten Jember Sartini, menjelaskan bahwa rencana revitalisasi pasar, yang sudah diajukan kepada kementerian, akan dilakukan melalui mekanisme Multi years (Kontrak Jamak).
“Jadi rencana pembangunan nya tidak akan selesai dalam satu tahun, melainkan hingga beberapa tahun,” ujarnya.
Struktur bangun yang diharapkan, sebagaimana petunjuk kementerian, menyesuaikan dengan karakteristik daerah.
“Jadi bentuk fisiknya, akan mencerminkan karakter daerah, seperti yang sudah ada di wilayah kabupaten lainnya,” ujarnya.
Jika tahapan pembangunan akan dimulai, diperlukan relokasi para pedagang, ke tempat lainnya.
“Para pedagang rencananya akan direlokasi ke lapangan di kawasan Talangsari,” katanya.
Hanya saja, masih akan dilakukan kajian dan pembahasan bersama para pedagang, sehingga kelak kalau revitalisasi pasar selesai, mereka diharapkan akan kembali menempati pasar yang sudah direvitalisasi.
“Karena kan ada kejadian, setelah pasar selesai direvitalisasi, pedagangnya malah tidak mau kembali,” katanya.
Revitalisasi Pasar Tradisional
Selain pasar Tanjung, rencananya juga akan dilakukan revitalisasi pasar tradisional lainnya, menurut Sartini dadi 30 pasar tradisional yang ada, sekitar 70 persen sudah perlu diperbaiki.
“Anggarannya kita ajukan untuk mendapatkan bantuan dari Provinsi Jawa Timur,” katanya.
Sedangkan untuk 7 Pasar Hewan, seluruhnya perlu mendapatkan perbaikan, baik tambatan hewan, maupun prasarana lainnya.
“Yang sudah kita lakukan, hanya di Pasar Hewan Mayang, itupun masih pagarnya saja,” katanya.
Evaluasi Program Gerobak Mlijo Cinta
Terkait dengan evaluasi Gerobak Mlijo Cinta, Sartini belum dapat memberikan data sepenuhnya.
“Kita kan masih melakukan monev, itupun baru selesai 50 persen, kalaupun kita berikan data, takut nanti ada perubahan,” jelasnya.
Tingkat keberhasilan program tersebut, menurut Sartini tergantung pada acunan yang digunakan.
“Kalau kita gunakan acuan besaran omset, saya kira memang berat,” katanya.
Tetapi jika menggunakan acuan kenaikan tingkat pendapatan, maka sudah terjadi kenaikan pendapatan dari para penerima manfaat.
“Maka, bisa kita katakan sudah naik kelas. Apalagi, dengan adanya penambahan tenaga kerja,” ujarnya. (#)





