JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Tera Institute mengecam keras tindakan penyiraman air keras yang menimpa aktivis HAM, Andrie Yunus. Bukan sekadar tindak kriminal biasa, peristiwa ini menjelma menjadi teror yang secara langsung mengancam kebebasan sipil dan merusak fondasi demokrasi di Indonesia.
Serangan terhadap individu kritis seperti Andrie Yunus membuktikan adanya upaya sistematis untuk membungkam keberanian dan melumpuhkan partisipasi publik dalam mengawasi jalannya kekuasaan.
Oleh karena itu, jika masyarakat membiarkan praktik semacam ini, maka negara sedang membuka peluang bagi ketakutan untuk menjelma menjadi norma, sekaligus menjauhkan keadilan dari jangkauan rakyat.
Direktur Tera Institute, Bambang Irawan, menegaskan, kasus ini tidak boleh kita pandang sebagai peristiwa kriminal biasa. Ini menjadi peringatan serius bahwa ruang demokrasi kita sedang dalam ancaman.
“Negara tidak boleh kalah oleh teror. Karena itu, aparat penegak hukum harus bertindak tegas, transparan, dan tanpa kompromi,” ujarnya.
Tera Institute mengajukan tiga tuntutan utama:
- Pertama, aparat wajib mengusut tuntas pelaku, termasuk aktor intelektual di balik serangan ini.
- Kedua, lembaga penegak hukum harus menjamin transparansi penuh dalam proses peradilan.
- Ketiga, negara perlu memberikan perlindungan nyata bagi aktivis dan pembela HAM.
Selain itu, Tera Institute juga mengajak seluruh elemen masyarakat sipil agar tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Sebab, solidaritas publik menjadi kunci utama untuk memastikan keadilan tidak kalah oleh rasa takut.
Sebagai wujud kepedulian dan tekanan moral terhadap penegakan hukum, Tera Institute mengajak masyarakat sipil untuk hadir dalam aksi “1000 Lilin untuk Keadilan”.
Kegiatan ini menjadi simbol perlawanan terhadap teror sekaligus bentuk komitmen kolektif dalam menjaga nilai-nilai demokrasi.
“Kami percaya, ketika rakyat bersatu dan berani bersuara, tidak ada kekuasaan yang mampu menundukkan kebenaran,” pungkasnya. (#)





