19.4 C
East Java

Menggagas Jember Heritage Menenun Jejak Sejarah dengan Langkah Budaya

JEMBER, JEMPOLINDO.ID Jalan Dago di Bandung adalah sebuah simfoni perpaduan antara sejarah kolonial, udara sejuk, dan kreativitas tanpa batas.

Namun, di ujung timur Jawa, tepatnya di sepanjang poros Jembatan Jompo hingga Alun-Alun Jember, sebuah narasi besar sedang menggeliat.

Inilah gagasan Jember Heritage, sebuah kawasan yang diproyeksikan tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga panggung agung bagi seniman-seniman desa untuk “naik kelas” ke level kota.

Membayangkan kawasan Jompo di masa depan adalah membayangkan sebuah lorong waktu.

Bangunan-bangunan tua yang menjadi saksi bisu kejayaan perkebunan tembakau akan dipoles dengan tata cahaya yang dramatis.

Trotoar yang lebar akan menjadi saksi langkah-langkah warga menikmati sapaan angin malam, sembari mencicipi aroma Batik Labako dan Kaos Khas Jember yang terpajang di etalase factory outlet lokal dengan gaya modern ala Bandung.

Namun, ruh dari kawasan ini bukanlah sekadar beton dan lampu hias, melainkan detak jantung budaya dari tiap pelosok kecamatan di Jember, keunggulan Jember Heritage terletak pada keterlibatan aktif para pelaku seni dan budaya dari desa-desa.

Kawasan ini akan menjadi “Rumah Besar” bagi keberagaman Pandhalungan.

Di setiap akhir pekan, area pedestrian dari Jompo menuju Alun-Alun akan menjadi panggung bagi kelompok seni dari kecamatan secara bergiliran.

Daya magis musik patrol dari pinggiran kota bersahutan dengan atraksi Jaranan atau Tari Lahbako yang dibawakan langsung oleh putra-putri daerah dari berbagai pelosok desa di Kabupaten Jember.

Para pegiat kesenian lokal tidak berjalan sendirian. Melalui program pembinaan di Jember Heritage, para pelaku seni desa akan mendapatkan pendampingan untuk mengemas pertunjukan mereka agar lebih instagrammable dan relevan dengan pasar wisata modern, tanpa menghilangkan ruh nilai tradisi yang sudah ada.

Di sepanjang jalur ini, pengunjung tidak hanya disuguhi visual yang menawan. Lidah akan dimanjakan oleh Jember Street Food yang naik kelas. Wedang Cor, Prol Tape, hingga Cigars (Cerutu) Jember yang legendaris akan disajikan dalam konsep kafe heritage yang estetik.

Para pengrajin souvenir dari desa-desa juga mendapatkan ruang khusus. Cinderamata khas Jember tidak lagi hanya ditemukan di pasar tradisional, tetapi dikurasi dan dipasarkan di pusat perbelanjaan berkonsep heritage store, menjadikannya buah tangan eksklusif yang diburu wisatawan.

Perjalanan dari Jompo akan bermuara di Alun-Alun Jember, sebuah ruang publik yang bertransformasi menjadi amphitheater terbuka.

Di sini, integrasi antara wisata kuliner, belanja, dan pertunjukan seni mencapai puncaknya. Alun-alun bukan lagi sekadar tanah lapang, melainkan titik temu antara sejarah masa lalu dengan semangat kreatif masa depan.

Menghadirkan suasana “Dago” di Jember bukan berarti meniru mentah-mentah, melainkan mengambil napas profesionalisme dan estetikanya untuk membungkus kekayaan lokal kita.

Dengan melibatkan seniman dari tiap desa, Jember Heritage akan menjadi destinasi wisata yang memiliki “jiwa” sebuah tempat di mana setiap sudutnya bercerita, dan setiap langkahnya merayakan identitas asli Jember.(#)

*)Penulis, Sapto Raharjanto, adalah Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember 

Table of Contents
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img