JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Fenomena narasi “kuliah itu scam” yang belakangan viral di media sosial TikTok memicu gelombang diskusi di kalangan akademisi dan mahasiswa.
Menanggapi hal tersebut, Dimas, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Jember (UIJ) sekaligus kader aktif PMII, memberikan perspektif kritis dari “dalam” sistem perkuliahan.Minggu (18/1/2026).
Dimas mengatakan bahwa dirinya tidak serta-merta menolak sentimen negatif tersebut. Menurutnya, kegaduhan ini merupakan cerminan dari kekecewaan kolektif mahasiswa terhadap realitas pendidikan tinggi saat ini.
Kesenjangan Teori dan Realitas Kerja
Sebagai mahasiswa hukum, Dimas menyoroti adanya jarak yang lebar antara kurikulum di ruang kelas dengan kebutuhan di lapangan. Ia merasa proses perkuliahan sering kali terjebak pada pembahasan teori dan norma yang kaku.
“Realitas sosial menuntut kemampuan yang lebih praktis dan kontekstual. Jarak antara apa yang diajarkan di kelas dan apa yang dibutuhkan di lapangan membuat sebagian mahasiswa mempertanyakan makna perkuliahan itu sendiri,” ujarnya.
Persoalan Sistemik: Biaya Mahal dan Ketidakpastian
Melalui kacamata aktivis PMII, Dimas melihat narasi “scam” ini bukan sekadar tren, melainkan kritik terhadap persoalan sistemik, seperti:
Akses Pendidikan: Biaya UKT yang terus meroket.
Ketimpangan Sosial: Pendidikan tinggi yang kian sulit dijangkau kelas bawah.
Sempitnya Lapangan Kerja: Ketidakpastian masa depan bagi para lulusan baru (fresh graduate).
“Sistem pendidikan tinggi kerap membebani mahasiswa dengan berbagai tuntutan, namun belum sepenuhnya memberikan bekal yang cukup untuk menghadapi realitas sosial setelah lulus,” kata Dimas.
Kuliah: Bukan Jaminan, Tapi Bukan Penipuan Mutlak
Meski memahami kekecewaan tersebut, Dimas memilih untuk mengambil posisi tengah. Baginya, nilai sebuah perkuliahan tidak melulu soal gelar, melainkan proses pembentukan karakter dan pola pikir kritis yang diasah melalui organisasi,dan pembelajaran di dalam kelas.
Ia berpendapat bahwa kampus tetap menjadi ruang penting untuk membangun kesadaran sosial, sebuah nilai yang tidak didapatkan di luar jalur akademik formal.
Mendorong Perbaikan Sistem
Menutup pernyataannya, Dimas mengatakan bahwa daripada terjebak dalam perdebatan “kuliah vs tidak kuliah”, lebih penting bagi seluruh elemen untuk menuntut transparansi dan kejujuran sistem pendidikan.
“Yang perlu dilakukan bukan saling menyalahkan, melainkan berani mengakui kekurangan sistem pendidikan dan bersama-sama mendorong perbaikan agar kampus benar-benar menjadi ruang pembebasan bagi generasi muda,” pungkasnya. (Sund)
- Pewarta: Sundari Rianto
- Editor: Miftahul Rachman





