Jember, Jempolindo.id – Di Universitas Islam Jember (UIJ), organisasi mahasiswa seperti BEM dan HMP, telah menemukan panggilan hidup baru—bukan sebagai ruang gagasan, tetapi sebagai properti visual institusi.
Mereka tidak dilahirkan untuk menyuarakan keresahan mahasiswa, melainkan untuk menyenangkan asesor dalam slideshow akreditasi.
Spanduk kegiatan, SK pengurus, dan dokumentasi rapat kini lebih penting daripada suara kritis dan pemikiran progresif.
Mahasiswa diajak aktif. Tapi aktif di mana? Ketika ruang belajar masih bergaya bangunan pasca kolonial, akses internet putus-nyambung seperti hubungan tanpa kejelasan, dan perpustakaan lebih mirip museum buku usang.
Kampus memilih menonjolkan BEM dan HMP sebagai jawaban atas tuntutan borang, bukan atas tuntutan nalar.
Fakultas pun tak ketinggalan merawat absurditas ini.
HMP dikelola dengan penuh kehati-hatian birokratis—dokumen disimpan rapi, rapat dijadwalkan rutin, dan diskusi substansial digantikan oleh seminar bertema “kepemimpinan visioner” yang selesai tanpa ada satupun ide yang tinggal.
Ketika mahasiswa ingin merancang gerakan ilmiah, jawaban pertama yang mereka terima adalah: “Silakan ajukan proposal, nanti dicek apakah cocok dengan indikator kinerja fakultas.”
Di UIJ, organisasi mahasiswa bukan lagi mitra kritis institusi, melainkan figuran administratif.
Mereka ada untuk menjawab checklist BAN-PT, bukan untuk menjawab keresahan mahasiswa. Kalau pun ada diskusi tentang kebijakan, itu bukan dari ruang BEM, tapi dari grup WhatsApp mahasiswa yang merasa tak lagi punya saluran formal.
Kini, kita dihadapkan pada kenyataan yang tak kalah menyedihkan: tidak ada yang ingin maju jadi ketua BEM atau HMP.
Kampus mungkin gelisah, memanggil ini sebagai “krisis regenerasi.”
Padahal, ini bukan krisis, ini refleksi. Ketika organisasi hanya dihargai karena seragam dan SK, bukan karena gagasan dan keberanian, maka ketidaktertarikan untuk memimpin adalah bentuk perlawanan pasif yang paling jujur.
Mungkin, nanti pihak kampus akan menggelar rapat, membentuk panitia pencarian ketua, bahkan menawarkan sertifikat dan baju kebesaran pengurus.
Tapi sebelum beraksi, cobalah bertanya: mengapa mahasiswa enggan memimpin ? Jawabannya sederhana: karena tak ada ruang yang benar-benar layak untuk memimpin.
Yang ada hanyalah panggung—tanpa audiens, tanpa naskah, tanpa arah.
Akhirnya, bila BEM dan HMP vakum, jangan buru-buru menyalahkan mahasiswa.
Salahkan sistem yang lebih mencintai penampilan daripada pemikiran.
Salahkan kampus yang lebih peduli pada nilai akreditasi daripada nilai keberanian.
Dan salahkan fakultas yang lupa bahwa organisasi mahasiswa, bukan diciptakan untuk menjadi hiasan borang, melainkan nyawa kehidupan intelektual kampus. (*)
*)Penulis: Dimas Aji Pangestu, Mahasiswa UIJ
*) Konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis





