Yuristiarso : “Kearifan Lokal  Cegah  Radikalisme dan Terorisme”

0
177

Bojonegoro_Jempolindo.id _  isu radikalisme dan terorisme di tengah pandemi covid 19 tampaknya masih menyeruak. Hal itu terungkap saat digelarnya Kopilaborasi bertajuk “Pelibatan Masyarakat Dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme” yang diselemggarakan Dinas Infokom Propinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Pemkab Bojonegoro di Bojonegoro. Selasa (17/11/2020).

Salah satu Narasumber Ketua  Bidang  Humas dan Media Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme Jawa Timur Yuristiarso Hidayat S Sos menyampaikan, perkembangan tehnologi informasi di era four point O   dapat bernilai positif dan negatif. Terkait dengan penyebaran faham radikalisme, Yuris menengara adanya pemanfaatan media sosial sebagai sarana penanaman faham radikal.

“Kejamnya ibu kota kini tak sekejam ibu jari,” katanya berseloroh, disambut tepuk tangan hadirin.

Percepatan sebaran informasi seolah dunia berada diujung jari jempol.  Karenanya, menurut  Wartawan Senior itu dipandang perlu menggunakan strategi penguatan lokal wisdom guna menekan pertumbuhan faham radikalisme.

Kendati Yuris mengingatkan adanya pemahaman atas radikalisme yang berlebihan, seolah faham radikalisme  yang memicu aksi terorisme bersumber dari agama.

” Agama apapun didunia ini semua mengajarkan kasih sayang dan cinta damai. Pemahaman radikal menjadi salah saat digunakan untuk menyakiti  sesama,” sarannya.

Sejalan dengan pemikiran itu, Aktivis Kelompok Informasi Masyarakat  Didik menyatakan Bad Contents  yang di up load media sosial lebih menarik dibanding good contents.

“Kami mencoba melawan dengan konten produktif tentang potensi desa yang ada di Bojonegoro, walaupun kami menyadari masih perlu banyak inovasi agar konten medsos bisa lebih menarik,” katanya saat menjawab pertanyaan peserta dari admin Grup Facebook  Info Waga Bojonegoro.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Kominfo Provinsi Jatim,  diwakili Kepala Bidang Komunikasi Publik, Edi Supaji; Kepala Bidang Kesmas Bakorwil Bojonegoro, Edy Sigit; Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), Machmudi; perwakilan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Bojonegoro, dan diikuti oleh perwakilan Kepala Desa dari Kabupaten Bojonegoro, Tuban dan Lapongan; Pendamping Desa, dan Pegiat Media Sosial (Medsos).

Kepala Bidang Komunikasi Publik, Dinas Kominfo Provinsi Jatim, Edi Supaji menyampaikan bahwa meski adanya pandemi Covid-19, bukan berati aksi radikalisme dan terorisme tidak ada, sehingga sinergi seluruh komponen bangsa menjadi salah satu faktor penting untuk mencapai keberhasilan dalam menanggulangi radikalisme dan terorisme.

“Kondisi yang kondusif sekarang ini, berkat sinergi berbagai pihak, mulai dari TNI, Poolri dan semua elemen masyarakat. Untuk itulah perlu sinergi dari semua pihak.” kata Edi Supaji.

Edi menjelaskan bahwa pada konteks inilah, Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) sebagai kepanjangan tangan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)  di daerah, merupakan bentuk konkrit sinergi dan kerjasama seluruh komponen masyarakat. Meski  FKPT    baru ada di 32 provinsi dari 34 propinsi.

“Sinergi seluruh komponen bangsa menjadi salah satu faktor penting untuk mencapai keberhasilan dalam menanggulangi terorisme. Hal itu karena negara melalui aparat pemerintah tidak bisa sendirian dalam memerangi, menindak ,dan mencegah terorisme, sehingga butuh keterlibatan semua pihak dalam melakukan upaya tersebut.” kata Edi Supaji.

Kepala Bidang Kesmas Bakorwil Bojonegoro Edy Sigit, dalam sambutannya mengatakan, bahwa kegiatan tersebut untuk meningkatkan kerjasama dan sinergi antara aparat pemerintah dan masyarakat, sebagai upaya mengoptimalkan pelibatan masyarakat guna mencegah radikalisme dan terorisme.

Menurutnya, aksi terorisme senantiasa mewarnai perjalanan sejarah bangsa Indonesia sejak masa orde lama hingga masa reformasi.

“Aktivitas kelompok teroris dengan aksi dan ancaman kekerasannya kerap menjadi hantu yang menakutkan bagi kedamaian masyarakat dan kedaulatan bangsa ini. Tidak ada strategi tunggal, karena kelompok teror selalu bergerak dinamis mengadaptasi perubahan lingkungan strategis, baik lokal, nasional, maupun global,” katanya.

Edy mengungkapkan bahwa berbagai kebijakan yang diambil oleh negara dalam pengalaman menanggulangi terorisme telah menyadarkan bahwa terorisme bukan persoalan pelaku, jaringan, sasaran, dan aksi brutalnya saja.

“Terorisme adalah persoalan ideologi, keyakinan, dan pemahaman yang keliru tentang cita-cita yang tidak sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila.” kata Edy Sigit

Lanjut Edy, diperlukan penguatan nilai-nilai lokal guna mencegah paham radikal. Nilai-nilai budaya dan kearifan lokal merupakan penguat solidaritas dan kohesivitas masyarakat.

“Sinergi seluruh komponen bangsa menjadi salah satu faktor penting untuk mencapai keberhasilan dalam menanggulangi terorisme. Hal itu karena negara melalui aparat pemerintah tidak bisa sendirian dalam memerangi, menindak ,dan mencegah terorisme, sehingga butuh keterlibatan semua pihak dalam melakukan upaya tersebut.” kata Edy Sigit.

Tampak suasana Diskusi menjadi lebih hidup dengan aksi panggung Metra Panji Kelana, sebuah grup kesenian yang dibidani Dinas Infokom Propinsi Jawa Timur. (*)