Tanggapi Isu Gempa Tsunami, Bupati Hendy Sarankan Gunakan Kentongan 

  • Bagikan
Isu Bencana Tsunami
Foto : Bupati Jember Hendy Siswanto menghimbau masyarakat agar tidak mudah termakan isu dan menyebarkan isu hoaks

Jember – Jempolindo.id – Isu gempa tsunami, kembali meyeruak, hingga dipandang perlu untuk melakukan mitigasi bencana sejak dini, temasuk persiapan peralatan yang dianggap perlu digunakan. Kentongan merupakan sarana bunyi-bunyian yang secara tradisi sudah digunakan untuk memberi tahu masyarakat, bahwa sedang terjadi sesuatu, termasuk jika ada bencana alam. Hingga kini, masih dianggap efektif dimanfaatkan sebagai penanda, termasuk untuk early warning syistem. Hal itu diungkapkan Bupati Jember Hendy Siswanto, saat melakukan apel siaga tanggap bencana, di lapangan alung-alun Kecamatan Puger, Kamis (25/08/2021) Siang.

Lihat Juga :

“Saya sarankan pakai kentongan, karena itu sudah menjadi budaya kita. Terlebih lagi, kalau menggunakan peralatan elektronik bisa saja tidak berfungsi, karena ada gangguan cuca, dan kerusakan peralatan. Sudah ada beberapa titik yang sudah kita siapkan. itu lebih cepat,” ujar Hendy.

Dilaksanakannya Apel Kesiap siagaan Bencana Kabupaten Jember, kata Bupati Hendy dilakukan bukan karena ada informasi bencana, melainkan agar masyarakat memahami cara menghadapi,  jika terjadi bencana alam.  Disamping dipersiapkan jalur- jalur evakuasi, juga diperlukan pemahaman tentang bencana.

“Karena kita tidak tahu kapan bencana itu datang. Jadi apel ini kita lakukan terus menerus, agar masyarakat tanggap dan tahu cara menghadapinya,” ujarnya.

Bupati Hendy menegaskan, telah memerintahkan kepada BPBD Jember untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat, dibarengi dengan membuat jalur-jalur evakuasi, terutama di enam Kecamatan yang rentan terdampak bencana, di wilayah sekitar Kecamatan Puger, dengan beragam bentuk bencananya.

“kita siapkan jalur  evakuasinya, yang disosialisasikan kepada masyarakat, agar kalau ada bencana, maka sudah tahu harus keluar lewat jalur mana,” ujarnya.

Memang ada kabar dari BKMG, lanjut Hendy, tentang adanya kemungkinan terjadinya bencana gempa dan Tsunami di enam titik lokasi, karenanya diperlukan untuk memperkuat tim siaga bencana bersama masyarakat.

“Sementara kesiapan tim dan aparat hanya sekitar 1,7 persen. Artinya, kedatangan bencana  yang tidak bisa diprediksi, yang bisa menyelamatkan diri kita masing -masing, tetangga sekitar bersama  masyarakat, jumlahnya lebih besar untuk bisa menyelamatkan diri,” tegasnya.

Jika gempa yang terjadi hingga mencapai 7 – 8 skala richter, menurut Hendy cukup berisiko tinggi, membutuhkan daerah untuk evakuasi sepanjang 2400 m, menuju titik aman, dengan waktu relatif pendek, hanya sekira 22 menit  waktu yang bisa digunakan untuk menyelamatkan diri.

Lebih lanjut, Bupati Hendy menghimbau kepada masyarakat,  agar jangan mudah menyebarkan berita  yang tidak jelas sumbernya, sehingga membuat resah.

“Kami menghimbau agar kita semua harus hati-hati, dan apa yang sudah disarankan pemerintah harap diikuti. Ini bukan hanya menghayal, tapi ini merupakan bagian dari antisipasi, bahwa posisi kita ini memang sudah rawan dengan bencana.” ujarnya.

Berdasarkan hasil deteksi BMKG, menurut Hendy sudah ada retakan bumi yang membahayakan, perlu kewaspadaan semuanya.

Pernyataan Bupati Hendy, seperti berhubungan erat dengan adanya pemberitaan terkait tentang hasil riset terjadinya gempa dengan kekuatan 9 magnitudo dan berpotensi tsunami setinggi 20 meter, membuat kehawatiran dan kepanikan masyarakat , khususnya masyarakat yang tinggal di sepanjang pesisir pantai selatan jawa.

Letak pantai laut selatan, memang merupakan pertemuan dua lempeng, yaitu lempeng Eurasia dan Indo-Australia yang memiliki dampak positif maupun negatif, yang diantaranya menyebabkan adanya beberapa potensi bencana alam, salah satunya yaitu gempa bumi dan tsunami.

Selain itu juga adanya catatan sejarah yang menginformasikan tentang pernah terjadinya tsunami atau yang dulu di sebut gelombang besar di kawasan pantai selatan.

“Mengenai kapan terjadinya, tinggal tunggu waktu. Ada Allah disitu yang menggerakkan,” tandasnya.

Sebagai tambahan, saat apel itu, diawali dari laporan Kepala BPBD Jember Mohammad Jamil, tampak hadir  jajaran Forkopimda, Muspika dan para pihak yang terlibat. Selanjutnya, dilakukan pemasangan secara simbolis rambu evakuasi dan titik kumpul, serta penyerahan piagam kepada relawan penanganan covid-19. Juga dilakukan peninjauan peralatan early warning system. (sugito)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *