16.8 C
East Java

Panji Gumilang Mengaku Bermahzab Bung Karno

Loading

Jempolindo.id _ Indramayu _ Saat memberikan klarifikasi, terkait dengan kontroversi Sholat Idul Fitri, Pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaitun, Indramayu Jawa Barat, Prof Dr AS Panji Gumilang, malah tegas mengaku Bermahzab Bung Karno, Sabtu (29/4/2023).

Jempolindo, Indramayu, Panji Gumilang, bermahzab Bung Karno
Sholat Berjamaah yang kontroversi di Ponpes Al Zaitun

“Kalau ditanya bermahzab apa, saya bermahzab Bung Karno,” pernyataan Panji Gumilang, di dapat dari potongan Vidio berdurasi sekitar 8 menit.

Kesannya memang seolah membedakan  tegas keyakinannya, dengan kebiasaan ummat Islam di Indonesia.

Mahzab yang berkembang di Indonesia, khususnya, dan di Dunia pada umumnya, Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hambali dan Imam Hanafi.

“Memang kenapa, saya sejak kecil mengenal Ahmad Sukarno, tahun 1963. dan saya menekuni bukunya (Di Bawah Bendera Revolusi) sejak tahun 1993,” ujarnya tanpa keraguan sedikitpun.

Bung Karno, kata Panji Gumilang merupakan Mahzab Perubahan.

“Sejak lama saya bertanya – tanya, kapan mahzab Soekarno, eh baru saja mau akan berkembang, malah sudah ada yang menyoal,” ujarnya.

Membahas permasalahan barisan sholat jamaah Idul Fitri 1444 Hijriah di lingkungan Ponpes Al Zaitun, Panji Gumilang malah menganggap tidak ada masalah. Keyakinannya itu malah mengutip Alquran Surat Al Mujadallah ayat 11.

Yā ayyuhallażīna āmanū iżā qīla lakum tafassaḥụ fil-majālisi fafsaḥụ yafsaḥillāhu lakum, wa iżā qīlansyuzụ fansyuzụ yarfa’illāhullażīna āmanụ mingkum wallażīna ụtul-‘ilma darajāt, wallāhu bimā ta’malụna khabīr

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

“Kan tafassah, bukan berapat – rapat,” ujarnya.

Perjalanan fiqih, menurut Panji Gumilang tidak boleh statis, harus berkembang terus. Akal manusia menciptakan yang baru terus.

“Maka ungkapan Addinu ‘Aqlun (Agama itu akal) itu benar” ujarnya.

Sedangkan barisan berjamaah yang bercampur dengan perempuan, Panji Gumilang menjelaskan tentang penghormatan kepada kaum perempuan.

“Kenapa perempuan ditempatkan di barisan belakang, harus ada tirai. Apakah begitu jijiknya perempuan,” katanya seraya bertanya.

Bukankah Rasulullah sendiri, kata Panji Gumilang menempatkan perempuan sebagai pahlawan yang sesungguhnya.

“Apakah tidak boleh kami memberikan penghormatan kepada kaum perempuan,” katanya.

MUI saja, lanjut Panji Gumilang hanya memberikan fatwa, bahwa sholat berjamaah yang bercampur dengan kaum perempuan hukumnya makruh.

“Makruh itu bukan hukum, gak jelas. Itu seperti matahari di siang hari, yang tertutup awan, ya tetap saja pukul 12,” jelasnya.

Orang orang yang menyoal permasalahan itu, karena takut menimbulkan Islam Phobia, dengan tegas Panji Gumilang, justru merekalah yang sebenarnya Islam Phobia.

“Kalau begini, siapa yang Islam Phobia. Muslim yang tidak memahami dan tidak menggunakan akal sehat,”  ujarnya. (#)

Table of Contents
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img